Paranoia: Sate Pocong
Lelaki itu menyebut dirinya Abah; penjual sate di sebuah gudang tua bekas pabrik pengolahan es yang sudah mati. Di sana, suhu selalu berada di bawah titik beku, tapi udara terasa pengap oleh bau anyir yang terasa manis.
Di tengah ruangan, ada sebuah meja kayu panjang. Di atasnya, seorang pria bernama Baskoro terikat kuat, dengan telinganya yang sudah dicincang. Anehnya, Baskoro masih tetap hidup, meski tetesan air matanya membeku di lantai gudang.
Abah tidak pernah mengambil daging dari mayat. Baginya, rasa daging mayat itu hambar. Ia membutuhkan "Daging Pocong Segar".
Abah mendekati Baskoro sambil membawa segulung kain kafan yang tampak kusam dan bernoda tanah. Dengan gerakan yang ritualistik, Abah mulai membungkus kaki Baskoro dengan kain tersebut, mengikatnya sangat kencang hingga aliran darah terhenti hingga kulitnya lebam membiru.
"Daging harus 'dimatangkan' di dalam kafan saat nyawa masih ada di kerongkongan," bisik Abah. "Itulah mengapa sate ini disebut Sate Pocong. Rasa ketakutan yang dibakar menjadi primadona."
Setelah seluruh tubuh Baskoro terbungkus sempurna, Abah mengambil pisau silet berkarat. Ia tidak memotong kainnya. Ia menyayat daging Baskoro menembus kain kafan yang membungkusnya.
Suara sret-sret kain yang robek diikuti oleh muncratan darah hangat yang segera membeku akibat suhu ruangan. Baskoro hanya bisa mengerang karena mulutnya telah dijahit dengan benang nilon hitam.
Abah mengambil daging bagian paha dalam Baskoro. Kencangnya ikatan pemocongan membuat serat dagingnya menegang secara ekstrem. Saat dilepaskan dari tulang, daging itu berdenyut-denyut di telapak tangan Abah seperti jantung yang baru dicabut.
Abah mengolesi daging tidak menggunakan kecap atau kacang. Ia menggunakan cairan empedu yang diambil dari hewan peliharaan yang mati karena rabies, dicampur dengan serbuk tulang nisan yang telah dihaluskan.
Abah menusukkan potongan daging Baskoro ke lidi bambu yang diruncingkan. Baskoro kejang-kejang setiap kali lidi itu menembus dagingnya; sarafnya masih terhubung secara metafisika dengan daging yang sudah terpisah dari tubuhnya.
Abah membakar sate pocong itu di atas bara yang apinya berwarna hijau pucat. Asap itu merayap di lantai seperti ular, yang perlahan tercium oleh Baskoro.
"Ciumlah, Baskoro. Ini aroma dirimu yang sedang matang," ujar Abah sambil mengipasi sate itu dengan tenang.
Tiba-tiba, Abah mendekatkan satu tusuk sate yang sudah matang ke mulut Baskoro yang dijahit. Ia merobek jahitan itu secara paksa dengan tang serta-merta, membiarkan bibir Baskoro robek tidak beraturan.
"Makan," perintah Abah. "Hanya dengan memakan dirimu sendiri, kamu akan mengerti kenapa pelanggan-pelangganku rela membayar dengan nyawa mereka hanya untuk satu tusuk ini."
Baskoro, dalam puncak kegilaannya, merasakan lidahnya dipaksa menyentuh dagingnya sendiri yang telah dibumbui nuansa kegelapan. Saat ia mengunyah, ia tidak merasakan rasa sakit lagi. Ia merasakan semua dosa yang pernah ia lakukan dalam bentuk rasa gurih yang meledak di mulutnya. Ia mulai menangis darah, namun tangannya meraba-raba ke arah piring, memohon untuk suapan berikutnya.
Cahaya redup dari lampu gantung tunggal di gudang itu menyoroti pemandangan yang mengerikan. Baskoro, yang tadinya terikat di meja, kini hanya tersisa sepotong kepala yang menempel pada tulang leher. Tubuhnya yang lain telah menjadi hidangan yang telah ia lahap sendiri.
Mulutnya yang robek masih mengunyah, giginya mengeluarkan bunyi krak yang mengerikan saat menghancurkan tulang-tulang kecil—tulang jari kakinya sendiri, mungkin. Mata yang tadinya penuh kengerian, kini telah memancarkan kilauan pencerahan aneh yang menjijikkan.
Abah berdiri di samping meja, mengamati ciptaannya dengan puas. "Bagaimana rasanya, Baskoro? Apakah kamu sudah mengerti?"
Baskoro tidak bisa menjawab dengan kata-kata. Namun, dari sisa-sisa otaknya yang masih berfungsi, ia merasakan gelombang ingatan yang datang. Ingatan setiap orang yang pernah Abah jadikan "Sate Pocong"-nya. Ia merasakan ketakutan mereka, dosa-dosa mereka, dan kenikmatan mengerikan saat mereka akhirnya memakan daging mereka sendiri.
Baskoro menyadari bahwa rasa gurih yang ia alami bukan hanya dari dagingnya. Tapi, rasa dari kesalahannya di masa lalu, setiap kebohongan yang ia ucapkan, setiap rasa sakit yang ia timbulkan. Semua melebur menjadi esensi rasa yang penuh candu. Ia mulai menginginkan lebih banyak. Otaknya, yang kini menjadi satu-satunya bagian tubuhnya yang tersisa, merasakan lapar yang tak terhingga. Lapar akan pengalaman, akan dosa, dan akan keberadaan yang hancur.
Secara perlahan, kepala Baskoro mulai mengalami metamorfosis. Kulitnya mengeras, berubah menjadi semacam karapas berkerak. Dari lubang-lubang telinga dan matanya, tumbuh tunas-tunas kecil berwarna merah gelap—mirip potongan sate yang belum dibakar sempurna.
Abah mengambil sebuah tusuk sate terakhir yang tersisa di piring. Tusukan yang berisi bola mata Baskoro yang kini telah terlepas dan matang sempurna.
"Kamu telah menjadi yang terhebat, Baskoro," bisik Abah. Ia menusukkan tusuk sate bola mata itu ke dalam sebuah kantung kulit yang ia kenakan di pinggangnya. Kantung itu berdenyut-denyut. Di dalamnya, ada koleksi bola mata lain, masing-masing memancarkan kilauan yang sama. Abah menyebut kilauan itu sebagai pencerahan.
Abah tidak membunuh Baskoro. Ia hanya meninggalkannya. Kepala Baskoro, yang kini telah menjadi wadah daging yang tetap berada di atas meja. Dari lubang hidungnya, mulai keluar asap tipis yang berbau kamboja dan dosa, menarik makhluk-makhluk lain yang mungkin tersesat ke dalam gudang beku itu.
Beberapa hari kemudian, seorang gelandangan nekat masuk ke dalam gudang itu, mencari tempat berteduh dari dinginnya malam. Ia mencium bau yang aneh, namun menarik. Ia melihat kepala di meja, dan tunas-tunas merah gelap yang tumbuh darinya.
Gelandangan itu, tanpa sadar, memetik satu tunas dari kepala Baskoro.
"Enak juga," gumamnya, merasakan rasa yang belum pernah ia alami seumur hidupnya. "Rasanya seperti... semua masalahku hilang begitu saja."
Ia terus memetik dan mengunyah, hingga Abah, dari balik bayangan kegelapan di sudut gudang, tersenyum puas.
Gelandangan itu tidak berhenti pada satu tunas. Ia mulai merobek gumpalan daging yang mencuat dari rongga mata Baskoro dengan rakusnya. Namun, ada sesuatu yang tidak ia sadari: setiap kali ia menelan, tandanya ia sedang mentransfer keberadaannya.
Saat gelandangan itu mengunyah, saraf-saraf di lidahnya mulai terikat dengan jaringan saraf Baskoro yang masih aktif di dalam potongan daging tersebut. Tiba-tiba, gelandangan itu menjerit. Ia merasakan rasa sakit yang luar biasa di paha dan lengannya, padahal anggota tubuhnya masih utuh. Ia merasakan sensasi pisau silet Abah menyayat kulitnya sendiri, seolah-olah ia sedang berbaring di meja jagal itu.
Dari mulut Baskoro yang tinggal rahang bawah, keluar ribuan benang kafan halus yang bergerak seperti tentakel. Benang-benang itu merayap masuk ke dalam mulut si gelandangan, menjahit kerongkongannya dari dalam, menyatukan dua sistem saraf menjadi satu wadah penderitaan yang tertutup.
Abah keluar dari bayangan kegelapan gudang, membawa sebuah toples kaca besar yang berisi cairan bening. Di dasar toples itu, puluhan bola mata terendam, semuanya menatap ke arah yang berbeda dengan pupil yang bergetar.
"Satu pencerahan, satu penglihatan," gumam Abah.
Ia mendekati si gelandangan yang kini lumpuh karena sinkronisasi saraf. Dengan jemarinya yang dingin, Abah menekan kelopak mata si gelandangan hingga bola matanya menyembul keluar. Tanpa menggunakan pisau, Abah memutar bola mata itu hingga urat-urat sarafnya putus dengan suara pop yang memuakkan.
Anehnya, si gelandangan tidak merakan buta di matanya. Melalui bola mata yang kini dipegang Abah, ia bisa melihat wajahnya sendiri yang hancur dari sudut pandang Abah. Ia melihat dirinya seperti manusia terbungkus yang siap untuk menjadi bahan sate yang belum dibakar.
Abah memasukkan bola mata baru itu ke dalam toplesnya. Begitu menyentuh cairan di dalamnya, bola mata itu mulai "berbicara" melalui proyeksi halusinasi di dinding gudang. Dinding-dinding beton itu kini menampilkan adegan-adegan dosa sang gelandangan, diputar berulang-ulang seperti film setan yang terkutuk.
Abah kemudian menyulut api pada genangan minyak di lantai yang akan digunakan sebagai wadah pemanggangan.
Gudang es itu berubah menjadi oven raksasa. Baskoro dan si gelandangan mulai terpanggang perlahan dalam kafan yang menjerat mereka. Menghasilkan bau jiwa yang kematangan akibat dosa-dosa mereka.
Abah berjalan menjauh dari gudang yang terbakar, memanggul toples kaca berisi bola mata. Dari kejauhan, sebuah mobil mewah berwarna hitam menunggu di pinggir jalan yang sepi.
Seorang pria berjas rapi turun, menyerahkan koper berisi uang yang sangat banyak. Ia menerima toples itu dengan tangan gemetar, seolah-olah sedang memegang kunci menuju keabadian.
"Apakah mereka semua sudah matang?" tanya pria berjas itu.
"Mereka sudah melihat kebenaran melalui rasa sakitnya sendiri," jawab Abah. "Kini, Anda sudah menjadi manusia yang abadi. Ingat! Jangan lupa memberi makan mata-mata itu dengan darah pocong perawan setiap Sabtu Kliwon."
Tak lama, Abah langsung menghilang ke dalam kabut hutan.
Post a Comment