Jidat Hitam dan Hilangnya Akal
"Bom lagi? Bunuh diri lagi? Aduh biyung, apa-apaan ini..."
Itulah yang sering terucap dari otak saya saat melihat berita bom bunuh diri.
Saya sampai heran, kok bisa ya ada orang yang katanya muslim, tapi tega menyakiti sesamanya. Apakah mereka lupa akan "Islam Rahmatan Lil Alamin," tuh, rahmatnya bukan cuma buat sesama muslim, tapi juga seluruh alam semesta ini.
Saya mungkin bukan ahli agama, bahkan mungkin dianggap kafir kata mereka yang merasa paling mengerti agama. Tapi, tak apa, toh saya atau pun kalian semua, termasuk mereka itu tidak luput dari dosa, kan?
Tapi, apakah mereka pernah memikirkan dampak dari tindakan itu? Saya yakin, mereka memikirkannya. Tapi, lagi-lagi, semua yang mereka lakukan itu hanya semata demi mengikuti tren yang berujung konten.
Yup! Konten. Konten untuk mengikis tradisi, mengubah stereotip agama ini, hingga konten ekstrem yang memaksa korban mereka bertemu sang penciptanya.
Salah satu bentuknya itu ya fenomena hijrah di kalangan remaja. Sebenernya bagus, mereka mau memperbaiki diri ke arah yang lebih baik. Tapi, hal ini justru dimanfaat oleh mereka yang hanya bermodalkan potongan ayat, dan hitamnya jidat.
Dan, Lagi-lagi, dengan potongan ayat itu, mereka dengan mudah melabeli sesuatu dengan bidah jika tidak sepaham dengan mereka. Padahal, sebuah ayat diturunkan sesuai dengan kondisi yang ada saat itu. Jikalau mereka kekeh untuk mengatakan semua hal yang tidak sesuai, harusnya mereka menggunakan ponsel termasuk bidah, dong? Bukankah, begitu?
Fenomena hijrah belakangan ini lebih mengagungkan tradisi Arab, sampai lupa akan tradisi di negeri yang kaya ini. Bahkan, para wali menyebarkan agama di negeri ini tidak serta merta menghapus tradisi, hanya mengubah niat dari diadakannya tradisi itu; niat akan rasa syukur yang telah Allah berikan kepada umatnya.
Kini, semuanya berubah. Banyak dari mereka yang mendadak menjadi ustaz, bahkan tidak jarang yang dipanggil habib. Dengan modal potongan ayat dan hitamnya jidat, mereka dengan mudahnya mengajak para umat untuk mengikuti syariat. Dan tentunya, syariat versi mereka, ya!
Sebuah ironi sering terjadi. Mereka yang katanya ustaz itu bukan benar-benar untuk menyebarkan agama ini. Tapi, mereka mencari nafkah, bahkan tidak jarang hanya untuk memuaskan syahwat semata. Jikalau memang mereka benar-benar ingin mengajarkan agama, bukankah mereka seharusnya yang memberikan teladan terlebih dulu? Misal, teladan untuk melakukan bom bunuh diri terlebih dahulu. Ta-tapi, saya yakin, mereka tidak akan pernah mau. Karena jelas, tujuan mereka hanyalah sebuah kenikmatan duniawi. Terlebih, agama di negeri ini selalu menjadi komoditas andalan yang paling laris dicari.
Saya pun kasihan kepada para korban mereka. Saya yakin, haqqul yaqin, kalau sebenarnya mereka itu hanya berniat untuk memperbaiki dirinya dengan belajar agama. Hanya saja, mereka salah arah, dan tersesat ke majelis yang penuh dusta. Kajian yang awalnya menjanjikan surga, berujung pada doktrin pembelotan terhadap tanah air tercinta; segala hal yang ada itu halal untuk dijarah, termasuk nyawa mereka yang berbeda imannya. Tindakan mereka itupun semakin mempertegas stereotip tentang agama ini sarang teroris.
Perkembangan teknologi yang semakin cepat ini pun menjadi ladang subur untuk penyebaran ajaran mereka. Terlebih, banyak orang yang malas untuk mengikuti kajian secara langsung dengan si pemilik ilmu, yang jelas sanadnya. Atau, yang lebih dikenal dengan santri pondok pesantren. Mereka lebih memilih menjadi santri internet, yang diasuh oleh Kyai Google dan Ustaz YouTube, yang kadang sanad ilmu pengkajinya masih dipertanyakan. Pun, saat mereka sudah lulus, gelar yang disandang bukanlah santri, melainkan akhi-ukhti.
Lantas, masihkah mereka tetap kolot dalam mentafsirkan Quran dan Hadiz tanpa melihat kontekstualisi zaman? Dan, jika semua hal mereka katakan bidah, lantas sandang, pangan, dan papan seperti apa yang diinginkan? Sejatinya, agama ini memudahkan, sesuatu yang haram pun bisa berubah menjadi halal, begitu pun sebaliknya.
Wallahualam.
BACA JUGA
Post a Comment