The Timeline - Babak Ketiga

Surabaya, November 2024

Malam di kawasan jalan protokol Surabaya terasa begitu dingin setelah diguyur hujan deras. Allio duduk sendirian di dalam mobilnya yang terparkir di seberang gedung kantor tempat Yydett bekerja. Tangannya memegang kemudi dengan erat, menatap lurus ke arah pintu keluar gedung berharap sosok wanita itu muncul.

Ponsel di dasbor bergetar, menampilkan pesan singkat dari Yydett yang menanyakan alasan Allio melewatkan acara makan malam ulang tahunnya. Allio menggeser layar tersebut, lalu memilih untuk menghapus nomor kontak Yydett dari daftar pesannya.

Langkah ini terasa amat menyiksa, tetapi Allio sadar bahwa terus menjadi pelampiasan cerita sedih Yydett hanya akan menghancurkan dirinya perlahan. Kehadiran Erick yang selalu membayangi ingatan Yydett menjadi tembok yang tidak akan pernah bisa Allio runtuhkan. Allio menyalakan mesin kendaraan, menginjak pedal gas dalam-dalam, meninggalkan area perkantoran itu menuju pelabuhan untuk mengurus kepindahan tugasnya ke Pulau Kalimantan keesokan harinya.
___

Jakarta, Agustus 2027

Di dalam area kedai kopi yang penuh sesak oleh pekerja kantoran daerah Kuningan, Yydett meletakkan berkas evaluasi kerja dengan sedikit hentakan ke atas meja. Tatapannya lurus menuntut penjelasan dari pria yang duduk di hadapannya.

"Kamu sengaja mengambil jadwal peninjauan vendor ke luar kota di hari pernikahan sepupuku, Rick?" tanya Yydett dengan suara tertahan.

Erick mengalihkan pandangannya ke arah cangkir kopi yang mengepul, membetulkan letak kacamatanya dengan canggung. Jari tangan kirinya kembali bergetar pelan, memaksa Erick menyembunyikannya di bawah permukaan meja kayu. Rasa pening yang samar mulai sering menyerang pangkal kepalanya jika dia berada di bawah tekanan kerja yang berlebihan.

"Jadwal dari pihak vendor memang hanya tersedia di hari itu, Det," kilah Erick dengan suara rendah.

Yydett membuang muka ke arah jendela kaca. Kekesalan Yydett memuncak karena setiap kali hubungan mereka mengarah pada komitmen pribadi yang melibatkan keluarga, Erick selalu memasang tameng pekerjaan sebagai alasan utama untuk menghindar. Yydett merasa terjebak bersama seorang pria yang enggan membuka pintu hatinya secara utuh.
___

Kunming, Maret 2031

Awal musim semi di Yunnan University tidak mampu memberikan kesegaran bagi kondisi kesehatan Erick yang kian merosot. Di dalam kamar asramanya, Erick duduk bersandar pada tumpukan bantal dengan tubuh yang terlihat jauh lebih kurus. Beberapa botol obat penahan rasa sakit berjejer di samping laptopnya yang masih menyala menampilkan bab revisi tesis doktoral.

Rekan risetnya datang membawakan semangkuk bubur hangat, lalu duduk di kursi belajar dekat ranjang. "Rick, dokter rumah sakit universitas bilang penumpukan cairan di kepalamu sudah semakin parah. Kamu harus segera mengambil jadwal operasi."

Erick memejamkan mata, menahan denyut hebat yang membuat pandangannya menggelap selama beberapa saat. "Jurnal utamaku harus terbit terlebih dahulu bulan depan. Aku tidak ingin perhatianku terpecah oleh rangkaian pemulihan pascaoperasi yang belum tentu berhasil."

Pilihan Erick untuk menyembunyikan penyakit ini dari Yydett di Jakarta memicu pergolakan batin yang hebat di dalam dirinya. Erick memilih menanggung seluruh penderitaan ini sendirian daripada harus menghancurkan kebahagiaan Yydett yang baru saja mapan dengan kariernya, membiarkan wanita itu menganggap dirinya sebagai pria egois yang hilang tanpa kabar sekali lagi.
___

 Surabaya, November 2024

Suara ketukan bertubi-tubi dari mesin cetak berkas di area kubikel staf luar terdengar mendominasi suasana siang itu. Allio berdiri tegak di depan meja kerja kepala divisi, Bapak haryo, dengan tatapan mata yang menunjukkan keteguhan sikap.

"Kamu beneran sudah memikirkan keputusan ini dengan matang, Allio?" tanya Pak Haryo seraya membaca lembar surat permohonan yang baru saja diletakkan di atas mejanya.

Allio menarik napas dalam-dalam, mengeluarkan desahan pendek untuk menenangkan gemuruh di dalam dadanya. "Sudah, Pak. Saya mengajukan permohonan mutasi untuk mengisi kekosongan posisi manajer operasional di kantor cabang Balikpapan."

Pak Haryo meletakkan pulpennya, bersandar pada kursi kerjanya yang tinggi. "Karier selevel dirimu di Surabaya ini sedang sangat bagus, Allio. Kenapa kamu malah memilih pindah ke luar pulau secara mendadak seperti ini? Apa ada masalah dengan tim kerja di sini?"

"Dengusan pelan keluar dari mulut Allio. Tidak ada masalah dengan urusan pekerjaan kantor, Pak. Saya hanya membutuhkan suasana lingkungan baru untuk menata kembali beberapa urusan pribadi saya yang mulai mengganggu fokus konsentrasi di sini."

Pak Haryo menatap lekat-lekat wajah bawahannya itu, menyadari ada kesedihan yang mendalam di balik ketenangan sikap Allio. "Baiklah, kalau itu memang keputusan terbaikmu. Saya akan menandatangani berkas persetujuan kepindahanmu sore ini agar pihak manajemen pusat bisa segera memproses tiket keberangkatanmu besok pagi."

"Terima kasih banyak atas bantuannya, Pak," ucap Allio seraya membungkukkan badannya dengan penuh rasa hormat sebelum melangkah keluar dari ruangan demi memulai langkah pengasingan dirinya.
___

Surabaya, Oktober 2019

Suasana ruang sidang skripsi Fakultas Teknik sore itu tampak lengang setelah para dosen penguji meninggalkan ruangan. Yydett keluar menuju koridor dengan napas lega, memeluk draf tugas akhir yang baru saja dinyatakan lulus. Di lorong yang sepi, ia mengeluarkan buku catatan biru titipan Erick dari dalam tas ranselnya.

Lembar demi lembar catatan itu dipenuhi coretan tips penyelesaian galat pemrograman yang ditulis khusus untuk gaya belajar Yydett yang ceroboh. Yydett menyentuh barisan tulisan tangan Erick dengan ujung jarinya, merasakan penyesalan yang mendalam mengalir di dadanya.

Selama masa kuliah, ia kerap menganggap sesi privat bersama Erick sebagai beban dan bahan gurauan semata. Yydett terduduk di bangku koridor, menyadari bahwa ketegasan Erick dahulu merupakan bentuk perlindungan paling tulus agar dirinya tidak terdepak dari kampus akibat gaya hidup malam yang liar. Rasa bersalah karena tidak sempat mengucapkan terima kasih secara langsung di bandara menjadi beban baru yang harus Yydett bawa dalam babak kehidupan berikutnya.
___

Kunming, Juli 2030

Bunyi dengung kipas peladen pengolah data memenuhi ruangan yang remang-remang. Erick sedang memeriksa hasil pengujian pemodelan komputasi saat tiba-tiba kepalanya didera rasa nyeri yang hebat. Kedua tangannya mencengkeram tepi meja ubin.

"Aaaargh..." Sebuah erangan kesakitan lolos dari tenggorokan Erick. Pandangannya mengabur, membuat baris perintah di monitor tampak berputar.

Gelas kopi di dekat lengannya tersenggol, jatuh menghantam lantai dan pecah berkeping-keping. Suara pecahan itu mengejutkan Hendra, rekan riset sesama mahasiswa Indonesia yang sedang menyusun draf publikasi di kubikel sebelah.

"Astaga, Rick! Lu kenapa?!" Hendra berlari mendekat, menangkap tubuh Erick yang nyaris ambruk dari kursi kerjanya.

Erick memegangi pangkal kepalanya, napasnya memburu cepat. Keringat dingin membasahi pelipisnya. "Pusing... Hen. Sakit banget... kaya ditusuk jarum."

Hendra membantu Erick bersandar pada dinding pembatas kubikel, lalu mengambil beberapa lembar tisu saat melihat setitik cairan merah keluar dari lubang hidung sahabatnya itu. "Lu mimisan lagi, Rick! Ini udah ketiga kalinya dalam bulan ini. Lu harus ke klinik kampus sekarang, gue anter!"

"Jangan..." Erick berbisik parau, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Hendra di bahunya. "Jurnal utama gue... pengirimannya minggu depan. Gue nggak mau... pengajuannya tertunda."

Hendra berdecak, wajahnya memerah karena kesal bercampur panik. "Lu gila ya?! Nyawa lu lebih penting daripada lembar draf publikasi itu! Kalau lu mati di sini, siapa yang mau tanggung jawab?!"

Erick memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan Hendra membersihkan sisa cairan merah di wajahnya. "Gue cuma... mau nyelesaiin ini semua, Hen. Biar keluarga gue di Surabaya... tahu kalau gue berhasil di sini."
___

Surabaya, Desember 2024

Angin malam berembus kencang di sekitar pelabuhan Tanjung Perak. Allio berdiri di dekat pagar pembatas kapal feri, menatap kerlip lampu kota Surabaya yang perlahan mulai menjauh. Tas ransel besar tergantung berat di pundaknya, berisi seluruh pakaian dan dokumen kepindahan kerja yang sudah disetujui oleh manajemen pusat.

Allio mengeluarkan gawai dari saku celana, melihat satu panggilan tidak terjawab dari nomor Yydett yang baru saja masuk beberapa menit lalu. Jari Allio sempat tertahan di atas layar, merasakan dorongan kuat untuk menghubungi kembali wanita itu untuk terakhir kali. Hubungan pertemanan yang lama terjalin membuat keputusan pergi ini terasa begitu berat.

Allio menarik napas dalam-dalam, lalu melempar kartu seluler lamanya ke arah laut malam yang gelap. Pilihan menjauh ke Pulau Kalimantan menjadi langkah yang harus diambil agar dirinya bisa berhenti berharap, membiarkan Yydett mencari jawaban atas perasaannya sendiri tanpa perlu menjadikan Allio sebagai pelarian emosional lagi.

___

Jakarta, September 2027

Lampu neon ruang rapat kantor konsultan teknologi masih menyala terang pada pukul delapan malam. Yydett berdiri di depan papan tulis kaca, menghapus rentetan diagram alir proyek yang baru saja selesai dievaluasi bersama tim pengembang. Pikirannya tidak sepenuhnya berada pada pekerjaan malam itu.

Erick berjalan masuk membawa map berkas evaluasi akhir, meletakkannya di meja dekat posisi Yydett berdiri. Langkah kaki Erick terlihat sedikit tidak seimbang, disusul gerakan tangan kanannya yang berulang kali membetulkan posisi kacamata untuk menyembunyikan mata yang memerah akibat menahan pening.

"Semua revisi sistem sudah selesai dikerjakan, Det. Aku pamit pulang duluan," ucap Erick dengan nada suara yang terdengar sangat datar.

Yydett membalikkan badan, menghalangi jalan Erick menuju pintu keluar. "Kenapa kamu selalu buru-buru pergi setiap kali kita berdua selesai rapat, Rick? Apa hadirku membuatmu merasa terganggu?"

Erick terdiam, memandang ke arah lantai karpet abu-abu. Konflik batin melanda pikiran Erick; ingin sekali dirinya menceritakan rasa sakit yang mulai sering menyerang bagian belakang kepalanya, namun kekhawatiran akan membebani masa depan Yydett membuat Erick memilih bungkam dan melangkah pergi melewati wanita itu begitu saja.
___

Jakarta, Oktober 2027

Suara bising pendingin udara server bergemuruh mendominasi ruangan. Yydett berdiri di belakang kursi staf pengembang, mengawasi pergerakan grafik pemantau jaringan yang terus menunjukkan penurunan performa sistem logistik utama.

"Bagaimana ini bisa terjadi? Kemarin sore bukankah tim sudah memastikan seluruh konfigurasi memori aman?" tanya Yydett dengan nada suara meninggi, menahan stres.

Seorang staf pengembang bernama Bagas menoleh dengan wajah penuh keringat, jemarinya bergerak panik di atas papan ketik. "Ada lonjakan paket data dari luar yang tidak bisa ditangani oleh sub-sistem, Mba Det. Kami butuh instruksi dari konsultan ahli sekarang juga."

Pintu ruang pusat data terbuka, Erick masuk dengan langkah yang tampak sedikit lambat. Ia meletakkan sebuah komputer jinjing tambahan di atas meja kerja Bagas.

"Gunakan jalur cadangan di port delapan puluh delapan," ucap Erick dengan nada datar, berusaha meredam kecemasan di dalam ruangan.

Yydett melirik Erick, menyadari raut wajah pria itu yang tampak semakin kurus di bawah lampu neon. "Kamu pucat sekali, Rick. Sudah minum obat?"

"Haaah..." Erick menghela napas pendek, membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan tangan kiri yang tampak canggung. "Hanya kurang tidur karena memeriksa jalur kode program ini semalaman. Bagas, jalankan perintah pengalihan beban sekarang."

Bagas menekan tombol eksekusi dengan cepat. "Baik, Mas Erick. Grafik jaringan mulai stabil kembali."

Yydett mendengus pelan, menatap Erick yang langsung bersiap mengemas kembali peralatannya untuk pergi. "Selalu saja begini. Begitu masalah selesai, kamu langsung bersiap pulang tanpa mau berbicara denganku sebentar saja."

Erick terdiam, memilih mengunci mulutnya rapat-rapat seraya melangkah keluar meninggalkan ruangan yang kembali sunyi.
___

Jakarta, November 2026

Hembusan angin malam membawa aroma tanah basah setelah sisa gerimis reda. Yydett berjalan beriringan dengan Erick menyusuri jalan setapak taman yang diterangi lampu hias temaram. Langkah kaki Erick terdengar lambat, sesekali tangan kirinya meremas saku celana untuk menyembunyikan getaran halus yang mulai menyerang jemarinya.

"Haaah..." Yydett mengeluarkan desahan pelan, menghentikan langkahnya tepat di dekat kolam ikan. "Rick, kita sudah enam bulan bekerja di gedung yang sama setelah pertemuan di hotel Mercure kemarin. Proyek integrasi peladen kita juga berjalan lancar."

Erick ikut berhenti, membetulkan letak kacamatanya dengan canggung seraya menatap permukaan air kolam. "Iya, Det. Performa basis data yang kamu kelola menunjukkan grafik yang sangat baik."

Yydett membalikkan tubuhnya, menatap lekat-lekat wajah pria di hadapannya. "Aku tidak sedang ingin membahas masalah pekerjaan, Rick. Bulan depan, keluarga besarku dari Pulau Kayong akan berkumpul di Jakarta untuk merayakan hari ulang tahun pernikahan orang tuaku. Ayah memintaku membawa pria yang sedang dekat denganku."

Erick tersentak kecil, dadanya mendadak terasa sesak oleh debar jantung yang meningkat. "Pertemuan... keluarga? Det, aku merasa draf penelitian tambahanku masih membutuhkan banyak perbaikan. Jadwal kunjungan lapanganku juga padat."

"Dengusan pelan keluar dari hidung Yydett. Kamu selalu saja menggunakan urusan sistem komputer sebagai alasan untuk menjaga jarak, Rick. Aku cuma minta kamu datang makan malam bersama mereka. Kita buat janji sekarang, kamu harus meluangkan waktu luangmu hari itu."

Erick terdiam, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Keinginan di dalam hatinya untuk melangkah maju terbentur oleh ingatan tentang surat pemeriksaan rumah sakit Kunming yang menyatakan adanya benjolan aneh di kepalanya. "Baiklah, Det. Aku... aku usahakan datang jika tidak ada kendala mendesak pada peladen," bisik Erick parau, memberikan harapan yang kelak akan memicu kekecewaan besar di hati Yydett.
___

Kunming, April 2031

Rintik hujan membasahi kaca jendela ruang perawatan Rumah Sakit Yunnan University. Erick berbaring telentang dengan selang infus yang menempel di punggung tangan kirinya. Lembar draf publikasi jurnal internasional tergeletak di atas selimut tebal yang menutupi bagian kakinya.

Seorang dosen pembimbing riset berjalan masuk, menatap mahasiswanya dengan pandangan penuh rasa prihatin. "Erick, dewan senat universitas sudah menyetujui percepatan sidang tesis doktoralmu minggu depan. Tapi kondisi kesehatanmu harus menjadi prioritas utama."

Erick berusaha mengubah posisi menjadi bersandar pada sandaran ranjang, mengabaikan denyutan hebat di kepala yang sempat membuat pandangannya menggelap. "Aku akan tetap mengikuti sidang sesuai jadwal, Prof. Semua dokumen presentasi sudah saya persiapkan dengan baik."

Erick bersikeras menyelesaikan pencapaian akademis ini sebagai pembuktian terakhir dalam hidupnya. Di balik keputusannya menolak perawatan intensif, Erick menyimpan keinginan agar Yydett di Indonesia kelak hanya mendengar kabar tentang keberhasilan risetnya, bukan tentang kemunduran kondisi badannya yang kian mendekati titik akhir.
___

Surabaya, November 2019

Halaman belakang gedung Fakultas Teknik tampak sepi menjelang petang. Yydett berjalan perlahan menuju area parkir sepeda motor, membawa tas jinjing berisi toga dan perlengkapan wisuda yang baru diambil dari biro akademik. Langkahnya terhenti saat melihat bangku panjang tempat dirinya biasa diberi kelas privat oleh Erick.

Yydett meraba permukaan kayu bangku yang dingin, mengingat kembali masa-masa kuliah saat dirinya selalu datang terlambat dengan aroma sisa alkohol yang menyengat. Rasa bersalah kembali muncul di benaknya karena dahulu ia menganggap remeh semua bantuan teknis yang diberikan oleh asisten dosennya itu.

Kepergian Erick ke luar negeri tanpa memberikan alamat kontak baru membuat Yydett menyadari bahwa kesempatan untuk memperbaiki hubungan pertemanan mereka telah tertutup. Yydett menatap langit sore yang mulai menggelap, berjanji akan menggunakan gelar sarjana yang diraihnya untuk membangun karier yang baik, sebagai bentuk penghormatan atas ketulusan yang pernah Erick berikan.
___

Balikpapan, Januari 2025

Suasana kantor cabang perusahaan distribusi di tepi pantai Balikpapan riuh oleh suara mesin cetak berkas. Allio duduk menatap dokumen inventaris baru dengan pandangan kosong. Keputusannya mengajukan mutasi kerja ke Pulau Kalimantan menjadi pelarian yang menguras emosi.

Seorang rekan kerja baru meletakkan segelas teh hangat di atas meja kerja Allio. "Al, lu kelihatan kurang tidur sejak pindah ke sini minggu lalu. Ada masalah?"

Allio menggelengkan kepala, mencoba memaksakan senyum ramah. "Cuma perlu pembiasaan dengan lingkungan baru saja, Mas."

Pikiran Allio melayang kembali ke Surabaya, pada momen saat dirinya menghapus kontak Yydett di pelabuhan. Rasa bersalah karena pergi tanpa berpamitan secara langsung terus mengusik ketenangannya. Allio tahu langkah menjauh ini meninggalkan luka baru dalam hubungan persahabatan mereka, tetapi tinggal di dekat Yydett seraya menyaksikan wanita itu terus mengharapkan kehadiran Erick terasa jauh lebih menyakitkan.
___

Jakarta, Oktober 2027

Hujan badai mengguyur kawasan perkantoran Sudirman, memicu kemacetan panjang di bawah jalur kereta layang. Yydett berdiri di lobi gedung, berkali-kali memeriksa jam tangan digitalnya dengan perasaan gelisah. Jadwal pertemuan malam dengan pihak vendor eksternal sudah terlambat tiga puluh menit.

Erick berjalan mendekat dari arah tangga darurat, memegang tas dokumen dengan lengan yang tampak sedikit gemetar. Gurat pucat di wajah Erick terlihat jelas di bawah terpaan lampu lobi. Serangan pening di bagian belakang kepala kembali datang, membuat Erick terpaksa berjalan melambat demi menjaga keseimbangan tubuh.

"Maaf membuatmu menunggu lama, Det. Berkas peninjauan sistem ada sedikit perbaikan di ruang staf tadi," kata Erick, suaranya terdengar parau.

Yydett mengambil map berkas tersebut dengan sentakan kecewa. "Lu selalu punya alasan untuk menghindar dari janji makan malam bersama keluarga gue, Rick. Sekarang untuk urusan pekerjaan pun lu sengaja membuat gue menunggu."

Erick terdiam, memilih menerima luapan kekesalan Yydett tanpa memberikan pembelaan. Benturan ego di antara mereka kembali memicu jarak emosional yang lebar. Erick menolak menjelaskan kondisi badannya yang kian melemah, membiarkan Yydett salah paham daripada harus membebani wanita itu dengan bayang-bayang penyakit berbahaya di kepalanya.
___

Kunming, Mei 2031

Udara malam di dalam bangsal perawatan Yunnan University terasa sunyi, hanya berselisih suara tetesan cairan infus yang mengalir melalui selang plastik. Erick duduk bersandar pada tepi ranjang besi, memandangi draf publikasi ilmiah doktoralnya yang baru saja mendapat konfirmasi penerbitan dari dewan redaksi jurnal internasional.

Rekan risetnya masuk membawakan sebuah amplop besar berisi surat rekomendasi medis pascaoperasi. "Rick, tim dokter spesialis meminta persetujuan tindakan bedah kepala dilakukan akhir bulan ini. Sel tumor ganas itu berkembang sangat cepat."

Erick meletakkan dokumen publikasi tersebut ke atas meja nakas, lalu memejamkan mata rapat-rapat demi menghalau rasa sakit yang menusuk pangkal kepala. "Sampaikan ke pihak rumah sakit, aku butuh waktu beberapa hari untuk menyelesaikan urusan administrasi kelulusan terlebih dahulu."

Erick bersikeras menunda tindakan medis demi memastikan pencapaian akademisnya selesai tanpa cacat. Di tengah kondisi kritis, Erick membuka gawai lamanya, menatap pesan-pesan masa lalu dari Yydett yang tidak pernah ia balas. Erick memilih menyimpan rahasia penderitaan ini rapat-rapat, membiarkan dirinya dianggap sebagai pria egois yang memutuskan komunikasi demi karier di luar negeri.
___

Surabaya, Februari 2020

Koridor gedung Fakultas Teknik tampak lengang pada hari pertama libur semester ganjil. Yydett berjalan perlahan menuju ruang administrasi dosen untuk menyerahkan berkas legalisasi ijazah sarjananya. Langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu laboratorium komputer yang terkunci rapat.

Yydett menyentuh kaca jendela lab yang berdebu, teringat momen tahun 2018 saat dirinya bertindak nekat demi mendapatkan nilai praktikum dari Erick. Penyesalan mendalam kembali mengusik hatinya kini. Yydett menyadari bahwa di balik sikap kaku dan disiplin ketat yang diterapkan Erick dahulu, ada keinginan tulus untuk menyelamatkan masa depan studinya dari kehancuran.

Ketiadaan kabar dari Erick semenjak perpisahan sepihak di bandara menjadi beban pikiran yang enggan beranjak. Yydett memeluk map ijazahnya dengan erat, berjanji pada diri sendiri untuk membuktikan bahwa usaha keras Erick membimbingnya tiap sore di gazebo taman baca tidak berakhir sia-sia.
___

Surabaya, September 2035

Kartu undangan dengan cetakan tinta emas berornamen sulur tergeletak di atas meja rias. Yydett berdiri memandangi pantulan dirinya di cermin besar, mengenakan kebaya putih panjang yang dipenuhi payet halus. Hari pernikahan yang telah ditentukan oleh kedua pihak keluarga akhirnya tiba, membawa gemuruh perasaan yang sulit diredam di dalam dada.

Sahabat lamanya berjalan masuk ke kamar rias, membantu merapikan helaian kain brokat di bagian bahu Yydett. "Det, semua tamu undangan sudah memenuhi area ballroom utama. Acara akad nikah akan segera dimulai."

Yydett mengangguk pelan, jemarinya menyentuh cincin kawin yang sudah terpasang di jari manisnya. Identitas pria yang akan mengucapkan ijab kabul di depan penghulu sengaja dirahasiakan dari publikasi media sosial demi menjaga privasi keluarga besar mereka. Konflik batin sempat mendera Yydett sebelum mengambil keputusan besar ini, mengingat bayang-bayang masa lalu masih menyisakan ruang kosong di hatinya. Yydett menarik napas dalam-dalam, memantapkan langkah kakinya menuju pintu keluar kamar demi memulai lembaran hidup yang baru.
___

Jakarta, Juni 2038

Suasana di depan gerbang sebuah sekolah dasar swasta di kawasan Jakarta Selatan tampak padat oleh deretan kendaraan penjemput. Yydett berdiri di bawah naungan pohon peneduh, mengenakan kacamata hitam untuk menghalau terik matahari siang yang membakar kulit. Pandangannya lurus mengarah ke lorong kelas.

Seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun dengan tas ransel bergambar robot berlari keluar, langsung memeluk erat pinggang Yydett. "Mama! Hari ini nilai ujian matematika aku dapat nilai sempurna!"

Yydett tersenyum lebar, mengusap lembut helai rambut anak kandungnya itu dengan penuh kasih sayang. Status pernikahan Yydett ataupun informasi mengenai siapa sosok ayah kandung dari anak tersebut menjadi teka-teki yang sengaja disimpan rapat dari lingkungan pertemanannya. Yydett menggandeng jemari mungil anaknya menuju mobil, memilih fokus membesarkan sang buah hati di tengah kesibukan kariernya yang kian menanjak, mengabaikan selentingan kabar burung yang kerap berembus di luar sana.
___

Jakarta, Oktober 2027

Suara dengung pelan dari alat pemantau detak jantung mengisi keheningan ruangan yang berbau cairan antiseptik menyengat. Erick berbaring bersandar pada ranjang periksa dengan kemeja yang sudah dilepas kancing bagian atasnya. Wajahnya terlihat sangat pucat di bawah sorot lampu ruangan.

"Eeeergh..." Erick meloskan sebuah erangan pendek saat seorang dokter spesialis, Dokter tirta, menekan bagian belakang telinganya dengan perlahan.

"Bagian sini terasa seperti berdenyut kencang, Pak Erick?" tanya Dokter Tirta seraya membetulkan letak stetoskop di dadanya.

"Sakit sekali, Dok. Pandanganku juga sempat menggelap selama beberapa detik saat berjalan di koridor kantor tadi sore," jawab Erick dengan nada suara yang terdengar parau dan putus-putus.

Dokter Tirta berjalan menuju meja kerja, mengambil selembar hasil cetak pindai tengkorak yang baru saja selesai diproses oleh petugas laboratorium. "Helaan napas pendek terdengar dari sang dokter. Kondisi perkembangan benjolan di dalam kepalamu ini sudah memasuki fase yang sangat mengkhawatirkan, Pak Erick. Ini yang menyebabkan tangan kirimu sering bergetar hebat tanpa kendali."

Erick berusaha duduk tegak, membetulkan letak kacamatanya yang sempat longgar. "Apa masih bisa ditahan dengan obat pereda nyeri dosis tinggi, Dok? Saya memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan proyek integrasi server milik perusahaan rekanan dalam beberapa bulan ini."

Dokter Tirta menggelengkan kepala dengan cepat, raut wajahnya tampak sangat serius. "Obat-obatan itu tidak akan menyembuhkan sumber penyakitmu. Kamu sedang mempertaruhkan keselamatan jiwamu demi pekerjaan. Segera lakukan tindakan pembedahan sebelum jaringan sensitif di sekitarnya mengalami kerusakan permanen."

Erick terdiam, menatap nanar ke arah lantai ruangan yang bersih. Pikiran Erick berkecamuk hebat, membayangkan wajah penuh amarah Yydett saat di lobi gedung tadi. Erick memilih menyimpan dokumen medis itu ke dalam tas, bertekad menyembunyikan penderitaan ini sampai seluruh tugasnya di Jakarta selesai.
___

Jakarta, November 2027

Lampu sorot ruang kerja eksekutif memantulkan bayangan Yydett yang sedang memeriksa draf anggaran proyek pengadaan pelayan server baru. Erick duduk di sofa ruang tamu kantor, memandangi tumpukan dokumen teknis dengan pandangan yang sesekali tampak kabur.

Yydett meletakkan pulpennya, berjalan mendekati sofa tempat Erick berada. "Rick, pihak manajemen meminta kita menghadiri jamuan makan malam bersama dewan komisaris besok malam. Ini kesempatan bagus untuk mempromosikan hasil riset terbarumu."

Erick membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan lambat, menahan denyut nyeri yang kian sering mendera bagian pangkal kepala. "Aku ada keperluan mendesak di rumah sakit untuk mengambil hasil pemeriksaan berkala, Det. Kirimkan saja perwakilan dari tim pengembang."

Kekesalan Yydett kembali tersulut mendengar penolakan tersebut. Hubungan romansa yang perlahan tumbuh di antara mereka selalu terbentur oleh sikap Erick yang seolah enggan melangkah ke jenjang yang lebih serius. Yydett merasa lelah menghadapi dinding pembatas yang dibangun Erick, tanpa menyadari bahwa keengganan pria itu bersumber dari ketakutan akan kondisi kesehatannya yang terus mengarah pada titik kritis.
___

Kunming, Juli 2031

Hujan salju buatan dari mesin pendingin ruang laboratorium Yunnan University menemani hari-hari terakhir Erick menjelang sidang terbuka pascasarjana. Erick memandangi sertifikat penghargaan publikasi jurnal internasional miliknya yang baru saja tiba dari lembaga indeks ilmiah dunia.

Rekan risetnya mengetuk pintu kamar, membawa kabar mengenai jadwal konsultasi lanjutan dengan dokter spesialis bedah kepala. "Rick, tim medis Rumah Sakit Yunnan meminta kamu segera melakukan rawat inap minggu ini. Sel kanker di kepalamu sudah menyebar ke area sensitif."

Erick memasukkan sertifikat tersebut ke dalam laci meja, lalu mengunci rapat lemari penyimpanan berkas akademisnya. "Aku akan menyelesaikan kewajiban presentasi akhir minggu depan terlebih dahulu, baru memikirkan tindakan medis selanjutnya."

Erick bersikeras menyembunyikan penderitaannya dari Yydett yang berada di Jakarta. Baginya, membiarkan Yydett membenci dirinya karena mengira ia memutuskan hubungan demi karier akademis di luar negeri jauh lebih baik daripada membiarkan wanita itu menyaksikan keruntuhan kondisi tubuhnya akibat penyakit mematikan ini.

Memuat daftar chapter...
[X]