Teknologi, Tuhan yang Harus Dilawan
Entah mengapa, akhir-akhir ini benak saya kerap disinggahi oleh kabut perenungan yang menyesakkan. Saya memandangi cermin dan merasa sedang menatap wajah orang asing—seseorang yang telah mengalami degradasi makna hidup secara signifikan. Saya sering kali rindu pada diri saya yang dulu; seorang bocah yang mengisi hari-harinya dengan hal-hal nyata yang bermanfaat bagi diri dan lingkungan, seorang hamba yang sujudnya khusyuk kepada Sang Pencipta, dan sosok yang hangat dalam setiap interaksi sosial tanpa perantara layar.
Namun, zaman berubah begitu cepat, dan saya tidak cukup tangguh untuk tetap tegak. Ketika gelombang kemajuan teknologi mulai menyerang, saya seolah kehilangan imunitas jiwa. Tidak ada upaya pertahanan, tidak ada benteng penolakan. Yang terjadi hanyalah penyerahan diri secara total. Nafsu saya seakan dipaksa untuk terus masuk, menyelam lebih dalam, dan akhirnya tenggelam dalam pusaran yang tak berdasar.
Tanpa saya sadari, teknologi telah naik takhta menjadi "tuhan" baru dalam hidup saya. Setiap pagi, bukan lagi rasa syukur yang pertama kali saya ucapkan, melainkan cahaya layar ponsel yang saya cari. Hari demi hari berjalan dalam ritme yang semu. Aktivitas-aktivitas bermakna yang dulu tak pernah saya lewatkan, kini telah tergusur oleh ritual menuhankan kemajuan. Saya telah menjadi budak dari algoritma yang saya ciptakan.
Jika Tuhan memberikan saya sebuah kesempatan untuk terlahir kembali atau sekadar memutar waktu ke masa di mana teknologi belum menjerat urat nadi, saya akan memilih untuk meninggalkan semua kemajuan ini. Saya ingin berdiri di atas mimbar dan berseru kepada dunia bahwa kemajuan ini sesungguhnya sedang membunuh kita. Ia tidak membunuhmu dengan senjata tajam atau racun yang mematikan, melainkan ia membunuhmu melalui pengasingan jiwa. Ia membunuh pergaulan yang tulus, mencabik-cabik sifat alami manusia, dan memaksa kita menjadi makhluk abnormal yang hidup dalam kesendirian yang ramai.
Mari kita jujur pada diri sendiri. Tulisan ini tidak lahir dari rasa anti-kemajuan, melainkan dari duka atas hilangnya jati diri sebagai manusia. Teknologi memang menawarkan kemudahan yang memabukkan, namun dampak dari segala "kemudahan" itu justru membuat kita tampak tidak berguna. Kita telah menjadi spesies yang lumpuh tanpa alat bantu. Sekecil apa pun masalahnya, kita selalu bergantung pada dunia digital.
Akibatnya, otak yang merupakan anugerah terhebat Sang Pencipta, kini seolah hanya menjadi hiasan semata—sebuah pajangan organik di dalam tempurung kepala. Jika kelak ada pasar yang menjual "kecerdasan", mungkin otak kita akan dihargai dengan sangat murah. Mengapa? Karena ia kosong. Kita jarang sekali menggunakannya untuk menalar atau merenung secara mendalam. Kita telah menyerahkan tugas berpikir itu kepada mesin, sementara kita hanya pasif mengikuti alunan jemari di antara bunyi tat-tit-tut papan ketik, mencari kepuasan semu di dunia yang sebenarnya tidak kasat mata.
Beruntung, lamunan-lamunan yang menghujani saya akhir-akhir ini tidak hanya membawa kepedihan, tetapi juga sebuah pencerahan kecil. Saya mulai menyadari bahwa saya tidak bisa sepenuhnya berlari dari zaman. Yang harus saya lakukan adalah berdamai secara cerdas dengan kemajuan; memperbaiki retakan dalam diri dan mengendalikan kemajuan ini agar kembali pada fungsinya sebagai alat, bukan tuan.
Meski hingga detik ini saya masih menyimpan dendam dan kebencian pada diri saya yang sempat terjerumus begitu dalam, saya berjanji untuk mulai mendaki keluar dari lubang itu. Saya ingin kembali menjadi manusia yang utuh—manusia yang bermanfaat bagi sesama, yang kembali merasakan sentuhan tangan saat bersalaman, dan yang mampu menyebarkan kebaikan dengan tetap menaruh teknologi di bawah kendali akal.
Inilah sedikit celotehan tentang pergulatan batin saya. Semoga tulisan ini bisa menjadi cermin bagi siapa pun yang mungkin sedang tersesat di labirin digital yang sama. Waktu sudah terlalu larut, sunyi malam mulai menyelimuti kamar ini. Saya rasa cukup sampai di sini saya menarikan jemari saya. Sampai jumpa di tarian jemari yang lainnya, dengan harapan saya sudah menjadi manusia yang lebih "hidup".
BACA JUGA
Post a Comment