REIN: Terperangkap dalam Jiwa yang Baru
Rasa dingin yang mencekam di pesawat jet itu mendadak berganti dengan panas matahari yang menyengat ubun-ubun. Bau busuk bangkai ikan dan kotoran kuda menyerbu indra penciuman Rein secara brutal. Ia terbatuk, mencoba meraup udara, namun paru-parunya terasa sangat berat dan sempit. Rein merasakan wajahnya menempel di tanah yang becek dan penuh lumpur hitam.
"Bangun kau, babi pemalas! Jangan mati di depan kedai kami!" teriak seorang pria dengan suara parau.
Sebuah tendangan keras mendarat tepat di pinggang Rein. Ia mengerang kesakitan, mencoba bangkit dengan gerakan tangkas yang biasa ia lakukan di pusat kebugaran. Namun, tubuhnya menolak untuk patuh. Rein merasa terperangkap di dalam tumpukan daging yang sangat tebal dan lembek. Saat ia berhasil membalikkan badannya, ia terperanjat melihat tangannya sendiri. Jari-jarinya pendek, bengkak, dan dipenuhi daki hitam di sela-sela kuku yang pecah.
Rein memaksakan pandangannya turun ke arah perut. Ia melihat tumpukan lemak yang sangat masif menyembul liar dari balik kain kusam yang sudah robek. Gelambir itu sangat besar sehingga menutupi pangkal paha yang dipenuhi koreng basah dengan rembesan nanah kuning yang berbau amis. Sosok menjijikkan ini adalah Xiao Lin, pria yang menjadi bahan tertawaan di seluruh wilayah utara kerajaan. Kenyataan pahit ini membakar habis harga diri Rein sebagai CEO yang selama ini selalu dipuja dan memiliki kekuasaan mutlak atas raga yang sempurna.
Wei Lan, seorang gadis pelayan kedai dengan wajah cantik namun bermulut tajam, berdiri di depannya sambil memegang ember kayu kosong. Ia menatap Xiao Lin dengan pandangan yang sangat merendahkan. Di belakangnya, Ning Xi tertawa kecil sambil menunjuk-nunjuk lipatan lemak di leher Xiao Lin yang basah oleh keringat berbau asam.
"Lihatlah makhluk ini, Wei Lan. Bagaimana bisa ada manusia yang bentuknya lebih buruk dari babi hutan?" Suara Ning Xi melengking, menarik perhatian orang-orang pasar yang mulai berkerumun.
Wei Lan melangkah maju, ia menggunakan ujung sepatunya yang kotor untuk menekan dada Xiao Lin yang berlemak. Ia menekan bagian puting pria itu yang menonjol di balik kain tipis dengan sangat kasar. Xiao Lin merintih, ia mencoba berdiri namun napasnya tersengal-sengal hanya untuk menopang berat badannya sendiri. Keringat bercampur daki mengalir deras ke matanya, membuatnya perih. Wei Lan tertawa melihat ekspresi menderita di wajah bulat pria itu.
"Dagingmu ini bisa memberi makan seluruh anjing di desa ini selama sebulan, Xiao Lin. Cepat pergi dari sini sebelum aku menyirammu dengan air mendidih!" bentak Wei Lan. Ia kemudian meludah tepat ke arah wajah Xiao Lin. Cairan kental itu mendarat di pipinya yang tembam.
Sambil menyeret kakinya yang lecet dan berat, Xiao Lin berjalan menjauhi pasar menuju sebuah gubuk reyot yang nyaris roboh di pinggiran hutan. Sepanjang jalan, anak-anak kecil melempari punggungnya yang lebar dengan batu dan kotoran ternak. Ia merasa sangat menderita, fisiknya yang hancur membuat setiap langkah terasa seperti siksaan neraka.
Sesampainya di gubuk yang pengap itu, Xiao Lin langsung menanggalkan pakaian kotornya. Ia berdiri telanjang di depan sebuah ember berisi air keruh. Ia menatap pantulan dirinya. Wajahnya dipenuhi jerawat batu yang meradang, dagunya berlapis-lapis, dan penisnya hampir tidak terlihat karena tertutup lemak perut yang menggantung.
"Aku akan menghancurkan setiap jengkal lemak ini," desis Xiao Lin dengan suara bariton milik Rein yang tersisa di dalam batinnya. Ia mencengkeram lemak perutnya dengan sangat keras hingga kuku-kukunya melukai kulitnya sendiri. Ia bersumpah akan mengubah raga yang menjijikkan ini menjadi senjata untuk membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghinanya hari ini.
BACA JUGA
Post a Comment