REIN: Taruhan untuk Sang Putri
Suasana malam di Kota Athanor selalu penuh akan suara tawa dan denting gelas arak dari para bangsawan dan pedagang kaya yang gemar membuang koin emasnya. Xiao Lin yang sedang duduk di lantai atas sebuah paviliun mewah, memperhatikan keramaian kota dari balik jendela kamarnya. Tubuhnya terbalut jubah sutra hitam tipis yang sengaja ia biarkan terbuka di bagian dada, memamerkan lekukan otot perutnya yang keras. Di sampingnya, seorang wanita penghibur memijat bahu Xiao Lin dengan jemari yang gemetar. Wanita itu kesulitan menyembunyikan kekagumannya pada tubuh Xiao Lin di hadapannya. Setiap kali jemarinya menyentuh otot bisep besar Xiao Lin, ia merasakan detak jantungnya berpacu kencang.
Di sela sesi pijatnya, telinga Xiao Lin menangkap percakapan seru dari meja besar di tengah ruangan itu. Sekelompok bangsawan yang dipimpin oleh sosok pria sombong yang bernama Shi Yu sedang membicarakan hal menarik. Mereka membahas tentang Putri Su Hua, putri raja sudah menginjak usia dua puluh lima tahun tetapi tetap menjaga kesucian dirinya. Belum ada satu pun pria di seluruh kota ini berhasil menyentuh kulit mulus sang putri, apalagi merasakan tubuhnya.
"Aku berani bertaruh, tidak ada seorang pun yang mampu mendapatkan kesucian Putri Su Hua, kecuali aku," seru Shi Yu sambil meminum araknya kasar. Suaranya lantang membuat perhatian beberapa orang di ruangan itu teralihkan, termasuk Xiao Lin yang sedari tadi hanya diam mengamati.
Mendengar itu, Xiao Lin menyeringai tipis. Ia yang saat menjadi Rein sudah terbiasa memenangkan tender bisnis besar, mulai merancang strategi baru. Ia berpikir bahwa Putri Su Hua yang memiliki status tinggi, yang kecantikannya dikabarkan dapat meluluhkan hati pria paling bengis sekalipun. Menaklukkan wanita suci seperti itu akan menjadi pencapaian terbesar bagi Xiao Lin untuk mengukuhkan kekuasaannya di dunia ini. Ia menyadari kesempatan emas seperti ini tidak akan datang kedua kalinya.
"Taruhan macam apa kalian bicarakan?" tanya Xiao Lin dengan suara beratnya yang seketika mematikan suasana obrolan Shi Yu.
Shi Yu menoleh ke arah Xiao Lin dengan tatapan meremehkan. Namun, pria itu melihat sosok Xiao Lin yang memancarkan aura dominasi kuat. Ia langsung merasa terintimidasi oleh tatapan mata tajam Xiao Lin. Akan tetapi, perasaan terintimidasi itu langsung sirna seketika dikalahkan oleh rasa sombong Shi Yu yang lebih besar. Ia pun mencoba tetap mempertahankan wibawa di hadapan teman-temannya.
"Minggu depan di hutan Istana Utara, akan diadakan pesta perburuan. Barang siapa bisa membawa kepala macan tutul emas dan memberikannya langsung kepada Putri Su Hua, dia berhak meminta satu permintaan," jelas Shi Yu dengan senyum mengejek yang menyebalkan.
Xiao Lin berdiri perlahan. Jubah sutra yang ia kenakan sedikit tersingkap, memperlihatkan penisnya yang besar dan berdenyut di balik kain dalam tipis. Pemandangan itu membuat para wanita di sekitar paviliun menelan ludah berkali-kali.
Xiao Lin melangkah mendekati meja Shi Yu, lalu ia membanting sekantong koin emas murni ke atas meja kayu hingga koin-koinnya berhamburan. Getaran dari benturan kantong koin emas itu membuat gelas-gelas di atas meja ikut bergetar.
"Aku ikut dalam taruhan ini. Aku akan memenangkannya," ucap Xiao Lin dengan nada dingin penuh keyakinan.
Kegaduhan seketika pecah di dalam paviliun itu. Ucapan Xiao Lin dianggap sebagai penghinaan. Namun Xiao Lin tidak peduli, ia langsung pergi meninggalkan tempat itu untuk mempersiapkan dirinya.
Post a Comment