REIN: Rumah Bordil
Suasana malam di Kota Athanor selalu penuh akan suara tawa dan denting gelas arak dari para bangsawan serta pedagang kaya yang gemar membuang koin emas. Di dalam kamar VIP lantai atas sebuah rumah bordil paling mewah, hawa panas menyelimuti ruangan yang remang-remang. Xiao Lin sedang berada di atas ranjang sutra bersama Mei Yin, wanita penghibur yang menjadi primadona nomor satu di tempat itu.
Mei Yin tidak langsung menyerah begitu saja ketika Xiao Lin menariknya ke ranjang. Sebagai primadona kelas atas, ia terbiasa mempermainkan pria. Ia merangkak mundur, menggeliat manja mencoba menjauhkan pinggulnya dari jangkauan Xiao Lin.
"Jangan terburu-buru, Tuan tampan... bersabarlah sedikit," goda Mei Yin dengan senyum menantang, kedua tangan lentiknya mendorong dada bidang Xiao Lin untuk menguji kekuatannya.
Xiao Lin menyeringai dingin melihat permainan itu. "Kau tidak punya hak untuk membuatku menunggu, jalang," bisik Xiao Lin dengan suara berat yang penuh dominasi.
Tanpa membuang waktu, Xiao Lin menggunakan kekuatan lengan besarnya untuk mengunci kedua pergelangan tangan Mei Yin di atas kepala wanita itu dengan satu tangan. Kaki kekar Xiao Lin menyusup ke sela paha Mei Yin, memaksa kedua kaki wanita itu terbuka lebar secara kasar. Mei Yin memekik kaget, matanya terbelalak melihat ukuran tubuh Xiao Lin yang menindihnya.
"Ah! Tuan, kau terlalu kasar... tapi aku suka," desah Mei Yin, tubuhnya gemetar penuh gairah saat merasakan ujung kejantanan Xiao Lin mulai menempel di selangkangannya.
Xiao Lin memposisikan penisnya yang sudah menegang keras, panjang, dan berurat tepat di depan lubang vagina Mei Yin yang mulai basah akibat gesekan kulit mereka. Dengan satu sentakan pinggul yang kuat, Xiao Lin menghujamkan seluruh batang penisnya yang tebal masuk ke dalam hingga amblas ke pangkal rahim.
"Ahhh! Tuan... sakit... tebal sekali... penuh di dalam... ahh!" jerit Mei Yin, tubuhnya melengkung ke atas, matanya terpejam erat sambil mencengkeram bahu kekar Xiao Lin yang bercucuran keringat.
"Nikmati ini, jangan banyak bicara," geram Xiao Lin, langsung bergerak maju mundur dengan ritme yang cepat dan bertenaga.
Suara benturan kulit paha dan pantat mereka terdengar beradu memenuhi kamar, selaras dengan erangan berat Xiao Lin yang terus memacu kecepatan. Setiap kali penis besarnya menusuk ke dalam, Mei Yin melenguh manja, menerima setiap hantaman keras dari otot-otot kekar pria yang sedang menguasainya ini. Keringat mereka bercampur, membasahi seprai sutra di bawah mereka.
Tepat saat Xiao Lin mempercepat sodokannya mendekati puncak pelepasan, ketenangan itu pecah berantakan. Pintu kayu jati kamar didobrak kasar dari luar hingga hancur berkeping-keping. Sekelompok pengawal berpakaian mewah merangsek masuk, dipimpin oleh seorang pria bangsawan berwajah sombong bernama Shi Yu yang berjalan sempoyongan karena pengaruh arak.
"Kurang ajar! Berani sekali kau menolak melayaniku malam ini dan malah memilih bersenggama dengan pria asing ini, Mei Yin?!" bentak Shi Yu dengan suara lantang, matanya langsung tertuju pada tubuh telanjang mereka di atas ranjang.
Aktivitasnya yang terganggu di tengah jalan membuat amarah Xiao Lin mendidih. Ia menarik penisnya keluar dari dalam vagina Mei Yin dengan kasar, menyisakan cairan bening yang menetes di selangkangan sang primadona.
Xiao Lin berdiri dari ranjang tanpa memedulikan tubuhnya yang telanjang bulat. Penisnya yang besar, panjang, dan bersimbah cairan pelumas itu berdiri tegak dengan sisa debar gairah yang menggantung tegak ke atas. Pemandangan itu membuat Mei Yin menelan ludah berulang kali dengan mata penuh damba, sementara Shi Yu sesaat terpaku mundur karena ketakutan melihat ukuran kejantanan dan otot padat pria di depannya.
Dua orang pengawal Shi Yu yang mencoba maju untuk merenggut Mei Yin langsung tumbang dalam sekali sentakan. Xiao Lin melangkah cepat tanpa busana, mencengkeram kerah baju kedua pengawal itu dengan tangan kekarnya, lalu menghantamkan kepala mereka ke pilar batu kamar hingga pingsan seketika dengan darah mengalir di lantai.
Shi Yu yang terkejut melihat pengawalnya dilumpuhkan begitu mudah, mencoba melayangkan pukulan mentah ke arah wajah Xiao Lin. Namun, Xiao Lin dengan sigap menangkap pergelangan tangan Shi Yu. Dengan satu pelintiran kasar, terdengar bunyi gemertak sendi yang membuat Shi Yu berteriak kesakitan hingga berlutut di lantai. Xiao Lin kemudian mendaratkan satu tendangan lutut yang keras tepat di perut Shi Yu, membuat pria sombong itu tertekuk jatuh dan terbatuk-batuk memuntahkan sisa araknya.
Meskipun sudah babak belur dengan wajah lebam dan napas terengah-engah, harga diri Shi Yu sebagai anak bangsawan menolak untuk menyerah kalah di depan wanita primadona itu. Ia menyeka darah di lipatan bibirnya, menatap Xiao Lin dengan tatapan penuh dendam yang membara.
"Kau... kau pikir kau sudah hebat hanya karena punya kekuatan otot dan ukuran besar?!" picing Shi Yu sambil meringis menahan sakit di perutnya saat ia mencoba berdiri bertumpu pada kaki meja. "Jika kau benar-benar jantan dan punya nyali besar, jangan cuma berani pamer kekuatan di tempat pelacuran seperti ini. Minggu depan, istana mengadakan sayembara perburuan agung di Rimba Kematian, wilayah Istana Utara!"
Xiao Lin meraih jubah sutra hitam di dekat ranjang, menyampirkannya ke bahu tanpa mengancingkannya, membiarkan dada bidang dan otot perutnya tetap terpapar. "Sayembara apa?" tanya Xiao Lin dengan suara berat yang penuh penekanan.
"Sayembara untuk mendapatkan hadiah dari Putri Su Hua! Barang siapa yang bisa membawa kepala macan tutul emas dari dalam hutan dan menyerahkannya langsung kepada sang putri, ia berhak meminta satu permintaan apa saja yang pasti dikabulkan oleh raja! Aku menantangmu ikut ke sana. Kita lihat apa kau bisa keluar hidup-hidup, atau hanya akan menjadi kotoran binatang di hutan!" tantang Shi Yu dengan senyum licik, mencoba menjebak Xiao Lin ke dalam hutan yang paling mematikan.
Mendengar nama Putri Su Hua dan hadiah permintaan dari raja, pikiran Xiao Lin langsung bekerja cepat. Kekuasaan tertinggi dari kerajaan adalah senjata paling mematikan yang ia butuhkan saat ini. Jika ia berhasil memenangkan sayembara ini dan mendapatkan hadiah dari raja, tidak akan ada satu orang pun di kota ini, termasuk para pelayan kedai jalang yang dulu meludahinya yang bisa lolos dari pembalasan dendamnya.
Xiao Lin menyeringai dingin, menatap Shi Yu yang masih memegangi perutnya yang cedera. Langkah kaki Xiao Lin yang tegap maju satu tindakan, mempersempit jarak di antara mereka hingga aura dominasinya mencekik seisi ruangan.
"Aku terima tantanganmu," ucap Xiao Lin dengan suara berat yang penuh penekanan. "Jika aku gagal membawa kepala macan tutul emas itu esok minggu, aku siap menyerahkan leherku untuk kau penggal dan kau bunuh dengan tanganmu sendiri di depan gerbang istana. Tetapi jika aku menang, kau harus siap menjadi budak pemuas nafsuku. Kau akan merangkak di bawah selangkanganku dan melayani setiap gairahku sampai kau memohon ampun."
Mendengar persyaratan mengerikan dan menjijikkan itu keluar dari mulut Xiao Lin, wajah Shi Yu mendadak pucat pasi. Bulu kuduk bangsawan sombong itu meremang membayangkan tubuh kekar dan ukuran kejantanan Xiao Lin yang besar berurat yang baru saja dilihatnya. Ada rasa ngeri yang luar biasa menyergap batinnya, namun harga dirinya yang terlanjur di ujung tanduk di depan Mei Yin membuatnya menolak untuk mundur. Shi Yu yakin Rimba Kematian pasti akan menghabisi pria ini.
"Sepakat! Semua orang di sini menjadi saksi! Kau tidak akan pernah keluar hidup-hidup dari hutan itu, keparat!" seru Shi Yu dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba menyembunyikan ketakutannya sambil menahan sakit di perut.
Xiao Lin mengibaskan tangan dengan acuh, memberi isyarat agar Shi Yu dan pengawalnya yang tersisa segera enyah dari kamarnya.
Post a Comment