REIN: Rimba Kematian
Setelah Shi Yu dan para pengawalnya pergi dengan tubuh babak belur, Xiao Lin tidak melanjutkan aktivitasnya bersama Mei Yin. Ia memakai pakaian kulitnya, mengambil kantong emasnya, lalu segera memesan kamar penginapan sementara yang paling dekat dengan gerbang kota untuk beristirahat.
Xiao Lin menggunakan waktu satu minggu yang tersisa sepenuhnya untuk mempersiapkan diri. Ia tidak perlu membeli banyak perlengkapan berburu yang rumit layaknya pemburu amatir dari kalangan bangsawan. Pengalamannya bertahan hidup dan menyiksa diri selama berbulan-bulan di Hutan Terlarang yang jauh lebih ganas sudah membentuk dirinya menjadi pemburu ulung. Ia hanya berjalan mengitari pinggiran kota untuk membeli persediaan garam guna mengawetkan buruan, mengumpulkan tali tambang rajutan serat pohon yang kuat, serta mengasah belati pendeknya hingga setajam silet. Ia tahu bahwa macan tutul emas bukanlah mangsa biasa, melainkan predator puncak yang sangat cerdik, namun medan Rimba Kematian ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan keganasan Hutan Terlarang yang sudah menjadi rumah keduanya.
***
Hari yang ditentukan pun tiba. Kabut tebal musim gugur tampak menyelimuti wilayah Istana Utara, membuat suasana Rimba Kematian terlihat sangat mencekam. Xiao Lin berdiri di garis awal perburuan, tepat sebelum terompet kerajaan dibunyikan. Di sekelilingnya, para bangsawan menunggangi kuda perang pilihan dengan baju zirah lengkap serta busur panah perak yang berkilau. Xiao Lin mengabaikan tawa meremehkan dari para peserta lain. Ia datang tanpa kuda, hanya mengenakan rompi kulit tipis tanpa lengan yang memperlihatkan otot bisep serta dada bidangnya yang cokelat matang akibat latihan keras.
Pandangan mata Xiao Lin bergerak tajam ke arah tribun utama istana. Di balik tirai sutra yang berkibar tipis, ia menyadari bahwa Putri Su Hua sedang duduk mendampingi raja untuk mengamati jalannya pembukaan sayembara.
Shi Yu yang datang dengan menunggangi kuda hitam besar memacu tunggangannya mendekati Xiao Lin. Wajahnya masih menyisakan sedikit bekas lebam akibat pertarungan di rumah bordil, namun keangkuhannya telah kembali sepenuhnya. Shi Yu meludah ke tanah tepat di depan kaki Xiao Lin.
"Hei bajingan, batas perburuan ini hanya tiga hari," ejek Shi Yu dengan volume suara yang sengaja dikeraskan agar didengar bangsawan lain. "Tanpa kuda dan senjata berat, kau hanya akan menjadi tumpukan daging busuk yang dicabik-cabik oleh binatang di dalam sana."
Xiao Lin tidak membuang energi untuk membalas ucapan itu. Tatapan matanya tetap dingin, fokus pada bentangan hutan luas di hadapannya. Ia memahami satu hal penting, bahwa macan tutul emas sebagai predator soliter pasti menjauhi kebisingan rombongan pemburu berzirah besi. Begitu suara terompet kerajaan membahana membelah kesunyian, gerbang hutan dibuka dan perburuan resmi dimulai.
Ketika para bangsawan memacu kuda mereka dengan gemuruh pelana dan teriakan gaduh ke jalur utama, Xiao Lin justru memisahkan diri. Ia melompat barikade kayu, memilih rute curam yang dipenuhi semak berduri rapat yang tidak bisa dilalui oleh kuda.
Langkah pertamanya dimulai dengan mencari sumber air berlumpur. Begitu menemukan sebuah kubangan rawa kecil yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon pakis, Xiao Lin menanggalkan seluruh pakaian kulitnya hingga ia telanjang bulat. Ia berdiri tanpa busana di tepi kubangan, membiarkan tubuh penuh ototnya yang liat terpapar udara hutan yang dingin.
Xiao Lin menyendok lumpur hitam yang pekat dan berbau busuk dengan kedua tangannya. Ia mulai membalurkannya secara merata ke seluruh inci tubuhnya tanpa ada bagian yang terlewat. Dimulai dari wajah, leher, dada bidangnya, tumpukan otot perutnya, hingga merayap ke paha dan seluruh area selangkangan termasuk penisnya yang besar itu pun ikut menghitam tertutup lumpur. Langkah ini sangat penting untuk menutup seluruh pori-pori kulitnya secara total, mematikan bau keringat manusia agar tidak tercium oleh penciuman tajam macan tutul emas.
Setelah seluruh permukaan kulitnya tertutup rata, Xiao Lin kembali mengenakan pakaian kulitnya. Ia mulai merayap di antara lantai hutan yang basah, bergerak memutar lambat untuk menghindari rombongan besar para bangsawan. Ia menghabiskan waktu belasan jam pada hari pertama ini hanya untuk mengamati tanda-tanda alam.
Xiao Lin memeriksa setiap batang pohon besar, mencari bekas cakaran kuku yang dalam pada kulit kayu. Dengan ketajaman berpikirnya, ia mengukur jarak antara cakaran di satu pohon ke pohon lainnya untuk memperkirakan ukuran tubuh sang predator.
Ketika malam mulai pekat dan udara semakin dingin, Xiao Lin tidak mau mengambil risiko tidur di atas tanah yang rawan jadi santapan predator hutan. Ia memanjat sebuah pohon raksasa, lalu bersandar dengan waspada di sela-sela dahan besarnya hingga fajar menyingsing.
Fajar hari kedua datang dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Keringat bercampur lumpur di tubuh Xiao Lin telah mengering, menciptakan lapisan pelindung yang kaku dan mulai membatasi kelincahan gerakannya.
Menyadari hal itu bisa membahayakannya jika harus bertarung, Xiao Lin segera mencari aliran air terdekat. Ia melangkah mendekati sebuah mata air kecil yang mengalir di sela bebatuan, lalu mengambil air dengan tangannya untuk membasahi kembali lapisan lumpur yang mengeras di sekujur tubuhnya. Lumpur di kulitnya pun kembali basah dan elastis, membuat otot-otot tubuhnya kembali bebas bergerak dengan lincah dan cepat.
Xiao Lin kemudian melanjutkan pencarian lebih dalam ke arah hulu sungai, tempat yang biasanya menjadi area minum bagi binatang buas. Bagi pemburu biasa, kabut tebal yang membatasi jarak pandang hanya sejauh beberapa langkah ke depan ini akan menjadi siksaan yang menakutkan. Namun bagi Xiao Lin, situasi ini sangat akrab dengan kesehariannya di Hutan Terlarang dulu.
Saat sedang mengendap-endap di antara celah bebatuan lumut, telinga Xiao Lin menangkap suara gesekan daun yang mencurigakan. Dari balik semak, dua ekor anjing hutan kelaparan bermata merah mendadak melompat hendak menerkamnya.
Xiao Lin tidak panik sedikit pun, karena ia sudah terbiasa menghadapi kawanan serigala yang jauh lebih besar. Mengandalkan refleks tubuh bugar hasil latihan kerasnya, ia merunduk cepat menghindari gigitan pertama. Tangan kanannya bergerak secepat kilat, menghujamkan belati pendek tepat ke bawah rahang anjing hutan pertama hingga menembus otak. Anjing kedua mencoba menggigit kaki Xiao Lin, namun ia dengan sigap menendang kepala binatang itu dengan tumitnya yang keras hingga terdengar bunyi tulang leher yang patah.
Pertarungan singkat itu menguras tenaganya, dan Xiao Lin tahu ia membutuhkan pasokan energi yang besar untuk bertahan hidup di dalam hutan. Sesuai dengan kebiasaan liarnya saat menempa diri di Hutan Terlarang, ia menyeret bangkai anjing hutan yang baru saja dibunuhnya ke tempat tersembunyi. Menggunakan belati pendeknya, ia menguliti daging anjing hutan itu dengan cepat. Ia memotong bongkahan daging mentahnya, lalu memakannya langsung untuk mengisi kembali kekuatan otot tubuhnya yang mulai lelah. Rasa darah dan daging mentah yang anyir tidak ia pedulikan, karena yang ada di pikirannya hanyalah cara untuk tetap bertahan dan membalas dendam.
Setelah selesai makan, Xiao Lin memeriksa area sekitar dan menemukan bangkai rusa yang baru setengah dimakan di dalam sebuah gua sempit. Pola gigitan pada leher rusa itu sangat bersih dan kuat. Aroma amis darah segar yang bercampur hawa buas khas macan tercium sangat pekat di sekitar mulut gua. Xiao Lin tersenyum dingin; ia tahu ia telah berhasil masuk ke pusat teritorial macan tutul emas.
Saat matahari sudah tenggelam dari pandangan mata, Xiao Lin pun kembali mencari tempat perlindungan diri di atas pohon hingga fajar menyingsing.
Memasuki hari ketiga, tekanan waktu mulai terasa berat. Matahari bergerak cepat menuju ufuk barat, dan Xiao Lin belum juga melihat wujud langsung dari macan tutul emas. Ia tiadak ingin gagal dengan tantangan ini, karena jika ia gagal dan ia kembali ke istana dengan tangan kosong esok pagi, maka ia harus siap mati di tangan Shi Yu sesuai ucapannya.
Xiao Lin berjalan menyusuri tebing berbatu curam hingga tiba di sebuah tebing batu datar yang luas di dekat air terjun tersembunyi. Tempat ini adalah titik tertinggi di area teritorial itu, posisi sempurna bagi sebuah kelompok predator untuk mengawasi seluruh wilayahnya. Ia lalu membersihkan sedikit lumpur di lengan kirinya, menyingkap kulit cokelat matangnya yang penuh urat menonjol.
Malam pun tiba, dan bulan purnama naik tepat di atas kepala, menyinari tebing batu itu dengan cahaya keperakan yang benderang. Kesunyian malam terasa sangat mencekam, bahkan angin pun seolah berhenti berembus. Ia berdiri tegak tepat di tengah batu datar itu. Ia mengangkat belati pendeknya, lalu menggores kulit lengan kirinya dengan satu tarikan cepat yang dalam.
Darah segar berwarna merah tua langsung mengucur deras, menetes perlahan dan membasahi permukaan batu hitam di bawah kakinya. Aroma darah segar itu mengalir terbawa udara malam yang dingin, menjadi umpan mutakhir yang sengaja ia tebar untuk memancing keluar sang penguasa hutan. Taktik berdarah ini sering ia gunakan dulu saat memburu mangsa besar di Hutan Terlarang.
Hanya dalam beberapa menit, semak belukar di ujung tebing bergoyang pelan. Sepasang mata bulat yang memancarkan cahaya keemasan muncul dari balik kegelapan, menatap tajam ke arah darah dan tubuh kekar Xiao Lin yang berdiri menantang. Macan tutul emas berukuran sebesar anak gajah itu melangkah keluar dengan perlahan, menggeram rendah hingga membuat seluruh hutan terasa mencekam.
Setiap pijakan cakar besarnya membuat ranting kering di atas batu datar hancur berantakan. Bulu kuning keemasannya berkilau di bawah siraman cahaya bulan, memperlihatkan tumpukan otot liat di balik kulit tebalnya. Pemburu biasa yang berhadapan dengan predator puncak sebesar ini di dalam Rimba Kematian tanpa zirah besi pasti akan menganggapnya sebagai tindakan bunuh diri. Bagi Xiao Lin yang sudah terbiasa bertarung dengan monster-monster ganas di Hutan Terlarang, pemandangan ini justru membuat darahnya berdesir panas penuh gairah bertarung.
Binatang buas itu mendadak melesat ke depan dengan kecepatan yang tidak sebanding dengan ukuran tubuh raksasanya, mengincar leher Xiao Lin. Mengandalkan kelincahan tubuh bugar serta insting liarnya, Xiao Lin tetap berdiri tegak. Ia menunggu hingga detik terakhir sebelum akhirnya merunduk rendah ke bawah terkaman, membiarkan tubuh besar macan itu lewat tepat di atas kepalanya.
Pada saat yang bersamaan, tangan kanan Xiao Lin yang memegang belati pendek bergerak secepat kilat. Ia menghujamkan dan menarik mata pisau itu, menyayat bagian perut bawah macan tutul emas hingga merobek kulit tebalnya. Binatang raksasa itu menggeram kesakitan saat mendarat kembali di atas batu, darah segar yang kental mulai berceceran dari luka di perutnya.
Kemarahan sang predator mencapai puncaknya. Dengan gerakan memutar yang sangat cepat, macan tutul emas itu berbalik dan menyerang bagian bawah tubuh Xiao Lin dengan gigitan rahangnya yang mengerikan. Xiao Lin mencoba melompat menghindar, tetapi moncong besar binatang itu berhasil menyambar bagian pinggang hingga paha kirinya. Gigi-gigi taring yang tajam dan besar itu merobek celana kulit ketat yang dikenakan Xiao Lin hingga hancur berantakan dan terlepas dari tubuhnya.
Celana kulit itu robek total dari pinggang hingga ke bawah, menyisakan luka cakaran dangkal di pahanya yang perlahan mulai mengalirkan darah. Akibat robekan telak tersebut, seluruh bagian bawah tubuh Xiao Lin kini terbuka sepenuhnya. Penisnya yang besar, panjang, dan berurat kini menyembul keluar dengan jelas di udara terbuka, ikut tegang dan berdonut kencang karena pacuan adrenalin bertarung yang luar biasa di tengah malam yang dingin.
Rasa perih di paha dan bahunya tidak membuat Xiao Lin gentar, melainkan memicu erangan rendah penuh kepuasan dari mulutnya.
"Hanya sebatas ini kemampuanmu?" desis Xiao Lin dingin.
Sebelum macan itu sempat menarik kembali kepalanya untuk menggigit lagi, Xiao Lin melompat maju dengan tumpuan kaki yang kokoh pada batu hitam, membiarkan kejantatannya yang besar berayun bebas penuh dominasi. Tangan kirinya yang kekar mencengkeram rahang bawah binatang itu dengan sangat kuat, sementara tangan kanannya melepaskan belati dan ikut mengunci bagian rahang atas sang predator. Otot-otot bisep dan lengan Xiao Lin menegang hebat hingga urat-uratnya menonjol keluar, menahan kekuatan dorongan rahang macan itu.
Dengan satu teriakan bertenaga yang menggema membelah kesunyian malam, Xiao Lin menyentak kedua tangannya ke arah berlawanan. Kekuatan murninya berhasil merobek dan mematahkan rahang macan tutul emas itu hingga hancur berantakan. Binatang raksasa itu memekik parau sebelum akhirnya tumbang ke atas batu, tubuh besarnya kejang-kejang kehilangan daya.
Tanpa membuang waktu, Xiao Lin mengambil kembali belati pendeknya, lalu dengan beberapa tebasan kuat yang bersih, ia memotong kepala macan tutul emas itu untuk dibawa pulang.
Pagi harinya, sesaat sebelum terompet penutupan sayembara ditiup oleh pihak istana, suasana di tribun utama tampak sunyi dan dipenuhi ketegangan. Batas waktu tiga hari hampir habis, dan beberapa bangsawan termasuk Shi Yu telah kembali dengan tubuh letih serta tangan kosong. Mereka semua sedang berbisik-bisik, yakin bahwa Xiao Lin sudah tewas mengenaskan menjadi santapan binatang buas di dalam hutan.
Keheningan di pintu gerbang hutan pecah seketika. Beberapa pengawal istana dan bangsawan yang berdiri di garis luar terbelalak ketika melihat sesosok pria berjalan keluar dari balik kabut tipis dengan langkah kaki yang tegap. Pria itu adalah Xiao Lin.
Kondisinya sangat mencengangkan hingga menghentikan napas setiap orang yang memandang. Rompi kulitnya robek hancur memamerkan dada bidang yang bersimbah darah segar bercampur darah macan. Celana kulit bagian bawahnya telah lenyap robek total akibat gigitan monster hutan, membuat Xiao Lin berjalan tanpa penutup apa pun dari pinggang hingga ke kaki.
Penisnya yang berukuran sangat besar, panjang, dengan urat-urat menonjol terpampang dengan jelas menggantung kokoh di sela paha kekarnya yang cokelat matang. Setiap langkah tegapnya membuat kejantanan besar itu bergerak bebas, memancarkan aura buas pria perkasa yang baru saja menaklukkan monster.
Pemandangan erotis itu langsung membuat para wanita di sekitar gerbang menelan ludah berkali-kali dengan wajah memerah, sedangkan para prajurit pria menatapnya penuh rasa ngeri. Sambil menjinjing kepala macan tutul emas yang terus meneteskan darah, Xiao Lin terus melangkah berwibawa menuju penataran utama istana, siap menagih hadiahnya di hadapan raja dan Putri Su Hua.
Langkah kaki Xiao Lin yang berwibawa membawanya berhenti tepat di hadapan undakan singgasana tertinggi. Kehadirannya menghentikan semua obrolan remeh para bangsawan yang berkumpul. Kepala macan tutul emas raksasa yang dijinjing oleh Xiao Lin meninggalkan jejak merah panjang di atas lantai batu marmer putih.
Putri Su Hua yang duduk di samping kursi raja langsung berdiri dari tempat duduknya dengan wajah memucat seketika. Sepasang matanya menatap lekat pada sosok Xiao Lin, lalu turun memperhatikan ukuran kejantanan pria itu yang terpampang nyata tanpa penutup apa pun. Bau keringat jantan bercampur anyir darah dari tubuh Xiao Lin menguar pekat, menyergap indra penciuman sang putri. Sensasi hawa panas yang asing mendadak menjalar hebat di selangkangan Putri Su Hua, membuat rahimnya berdenyut kencang menuntut sesuatu yang belum pernah ia rasakan selama dua puluh lima tahun hidupnya.
Raja yang berada di singgasananya ikut terpaku melihat bukti nyata tersebut. Di barisan belakang, Shi Yu berdiri mematung dengan wajah merah padam karena menahan malu, tidak menyangka pria yang ia remehkan bisa kembali dengan selamat membawa buruan paling mematikan.
Xiao Lin mengangkat kepala macan itu tinggi-tinggi, lalu melemparnya kasar hingga mendarat dengan suara berdebum keras di lantai bawah singgasana. Ia mendongak, menatap lurus ke arah Putri Su Hua dengan tatapan dingin.
"Sayembara ini sudah selesai. Aku membawa apa yang kau inginkan, Putri," ucap Xiao Lin dengan suara berat yang menggema kuat di seluruh ruangan.
Akibat mengerahkan sisa tenaga terakhirnya untuk berbicara, beban berat dari pertarungan dan pengembaraan di dalam hutan tiga hari berturut-turut langsung melanda tubuh Xiao Lin. Kesadarannya mendadak menurun, pandangan matanya menggelap, dan seluruh otot kakinya melemas. Tubuh kekar Xiao Lin ambruk, jatuh pingsan dalam posisi telentang di atas lantai batu istana, membiarkan seluruh tubuh penuh luka dan kejantanannya yang besar tetap terekspos jelas di depan mata semua orang.
Putri Su Hua menelan ludah berkali-kali untuk menenangkan debar jantungnya yang berpacu liar. Ia segera melangkah maju, memberikan perintah tegas kepada para pengawal pribadinya dengan suara yang sedikit bergetar.
"Cepat gotong pria ini masuk ke dalam paviliun pribadiku. Luka-lukanya sangat parah, aku sendiri yang akan mengurus dan membersihkan tubuhnya secara tertutup untuk memenuhi janji sayembara kerajaan," titah Putri Su Hua.
Para prajurit dengan cekatan mengangkat tubuh perkasa Xiao Lin, membawanya pergi menuju paviliun Putri Su Hua, meninggalkan kehebohan besar yang baru saja dimulai di penataran agung.
Post a Comment