REIN: Hasil Perburuan

Hutan di wilayah Istana Utara, Rimba Kematian tampak mencekam di bawah kabut tebal musim gugur. 

Xiao Lin berdiri di garis awal perburuan, tepat sebelum terompet kerajaan dibunyikan. Ia mengabaikan tawa dengan nada meremehkan dari lawannya, para bangsawan yang menunggangi kuda perang perkasa. Tubuh Xiao Lin hanya terbungkus rompi kulit tipis, membiarkan otot lengannya terpapar udara dingin. Tatapan matanya tajam mengarah ke tribun utama. Di balik tirai sutra berkibar, ia menyadari bawah Putri Su Hua sedang mengamati dari singgasananya.

Shi Yu memacu kudanya mendekati Xiao Lin, lalu ia meludah ke tanah tepat di depan kaki pria itu. "Batas perburuan ini tiga hari. Jangan harap kau akan menang. Kau terlalu sombong pergi tanpa kuda dan alat perang. Kau hanya akan menjadi mayat yang membusuk di hutan ini," ejek Shi Yu.

Xiao Lin tidak menanggapi. Ia lebih fokus untuk memikirkan strategi dalam mencari keberadaan macan tutul emas itu. Ia paham betul, bahwa binatang predator tidak suka berada di area yang penuh dengan kebisingan. 

Begitu terompet berbunyi, Xiao Lin melesat masuk ke jantung hutan dengan mengandalkan insting dan sebilah belati pendek. 

Hari pertama, ia fokus mencari jejak kotoran dan bekas cakaran, melumuri tubuhnya dengan kotoran lumpur untuk menyamarkan bau manusianya. Hari kedua, Xiao Lin mulai merasakan kehadiran predator itu melalui aroma amis yang samar di udara. Ia pun merayap di atas dahan pohon  yang tinggi untuk melihat area sekitar, mencari di gua yang gelap, hingga beristirahat di balik bukit bebatuan untuk melindungi diri. Tubuh Xiao Lin kini dipenuhi oleh luka akibat goresan benda-benda yang ada di dalam hutan.

Memasuki malam ketiga, saat bulan mencapai puncaknya, Xiao Lin melukai lengannya sendiri. Darah segar yang menetes ia jadikan umpan untuk memancing macan tutul emas keluar. Dari balik kegelapan semak belukar, sepasang mata bercahaya keemasan muncul. Binatang itu menggeram rendah. Seekor macan tutul emas pun melompat dengan kecepatan mengerikan, mencoba mengoyak leher Xiao Lin. Xiao Lin yang sudah siap dengan tumpuan kaki kuat itu pun menangkap kaki depan binatang itu, memutar tubuhnya, lalu menghantamkan tubuh macan itu ke batu besar.

Pertarungan berdarah terjadi di bawah sinaran bulan. Macan itu berhasil merobek kulit di bahu kanan Xiao Lin, tapi dengan sigap, ia berhasil mencengkeram rahang binatang itu dengan kedua tangannya sekuat tenaga. Otot bisep Xiao Lin pun ikut menegang sampai urat-uratnya menonjol keluar. Dengan satu teriakan erangan, ia berhasil merobek mulut macam itu. Ia pun dengan sigap mengambil belatinya,  memotong kaki macan itu, hingga tidak bisa bergerak lagi. Lehr macan yang sudah tidak berdaya itu pun langsung Xiao Lin tebas untuk dibawa pulang sebagai bukti kemenangannya.

Pagi harinya, suasana di tribun istana tampak sunyi. Orang-orang mengira Xiao Lin sudah mati dimakan binatang buas. Tiba-tiba muncul sosok pria berjalan dengan langkah kaki yang terengah-engah. Pria itu adalah Xiao Lin, yang berjalan seraya menjinjing kepala macan tutul emas, dengan bersimbah darah macan dan darahnya sendiri yang melekat di tubuhnya. Langkahnya pun berhenti tepat di depan Putri Su Hua yang berdiri dengan wajah pucat karena terkejut.

"Putri Su Hua, inilah kepala macan tutul emas yang kau cari," belum sempat menyelesaikan ucapannya, Xiao Lin pun pingsan.

Putri Su Hua sampai menelan ludahnya berkali-kali saat ia menatap tubuh Xiao Lin yang penuh luka itu. Bau keringat, darah, dan aroma hutan yang tajam membuat rahim Su Hua mendadak berdenyut. Ia pun langsung memerintahkan pengawalnya untuk membawa Xiao Lin ke paviliun pribadinya. Ia pun menggunakan alasan untuk membersihkan luka pria itu secara tertutup untuk memenuhi hadiah kerajaan.

Di dalam paviliun yang diterangi cahaya lilin remang, Su Hua mendekati Xiao Lin membawakannya kain basah hangat. Namun, Xiao Lin yang sudah sadar dari pingsannya langsung menyambar pergelangan tangan sang putri. Ia menarik wanita itu dengan kasar sampai tubuhnya menabrak dada bidangnya. "Aku tidak butuh kain ini. Aku mau permintaan pertamaku dikabulkan sekarang," bisik Xiao Lin di depan bibir Su Hua.

Xiao Lin pun langsung melumat bibir Su Hua dengan rakus tanpa memberikan aba-aba. Tangannya yang kasar langsung merobek pakaian sutra sang putri hingga kain itu terlepas dari tubuh putih mulusnya. Xiao Lin melepaskan pakaian kulit kotornya. Penisnya besarnya yang berdiri dengan tegak  itu pun langsung terlihat. Batang penisnya yang panjang berurat itu pun tampak mengancam. Sontak, Su Hua mendesah di antara ciumannya dengan Xiao Lin, saat ia memegang penis pria itu.

Xiao Lin merobohkan Su Hua dengan kasar ke atas ranjang sutra yang empuk. Ia menghimpit tubuh sang putri dengan badannya, memposisikan penisnya yang keras itu tepat di depan vagina Su Hua yang masih sempit dan rapat. Xiao Lin langsung menghujamnya dengan satu sentakan pinggul yang kuat hingga masuk sampai ke pangkal. Su Hua sontak menjerit kencang saat kesucian yang dijaganya selama ini robek seketika, mengalirkan darah perawan segar yang mengalir hingga membasahi seprei sutranya.

Teriakan sakit yang Su Hua alaminya sebelumnya perlahan berganti dengan desahan penuh nikmat. Ia pun tanpa henti berteriak rendah kepada Xiao Lin untuk terus menghujam penisnya masuk ke dalam, hingga menyentuh pangkal rahim wanita itu.

Xiao Lin pun terus bergerak dengan ritme yang semakin cepat. Suara benturan antara pinggulnya dengan bokong Su Hua bercampur dengan suara desahan pun memenuhi ruangan itu. Tubuh mereka menjadi licin akibat peluh yang tiada henti keluar. 

Su Hua mencengkram punggung Xiao Lin. Ia merintih dalam kenikmatan saat rahimnya dihantam berulang kali oleh penis yang besar itu. Xiao Lin terus memacu gerakannya, hingga membuat seluruh tubuh Su Hua bergetar merasakan kenikmatan.

Xiao Lin sudah sampai pada puncaknya, ia pun mengerang rendah, lalu menyemburkan sperma kental nya itu ke dalam rahim Su Hua. Cairan putih yang kental itu pun memenuhi rahim sang putri, hingga memunculkan rasa hangat di dalam perutnya. Xiao Lin yang masih dalam keadaan lelah pun langsung ambruk di atas tubuh sang putri. Ia pun membiarkan penisnya tetap tertanam di dalam kemaluan wanita itu.
Memuat daftar chapter...
[X]