REIN: Kembali
Beberapa bulan telah berlalu sejak malam panas di paviliun sutra itu. Pengaruh Xiao Lin di lingkungan istana tumbuh dengan sangat cepat. Ia menggunakan kecerdasan strategi milik Rein untuk memenangkan hati para jenderal perang serta pejabat tinggi yang sebelumnya memihak Shi Yu. Tubuh Xiao Lin yang sekel dan bugar selalu terbalut pakaian mewah yang menonjolkan otot dadanya yang bidang. Hal ini membuatnya menjadi pusat perhatian setiap kali ia melangkah di koridor istana yang megah.
Kondisi kesehatan Raja tua mulai menurun drastis. Penyakit paru-paru yang parah membuat sang penguasa hanya bisa terbaring lemah di ranjang kebesarannya. Shi Yu mencoba memanfaatkan keadaan ini dengan menyebarkan fitnah tentang hubungan gelap antara Xiao Lin dan Putri Su Hua. Tetap saja, rencana licik itu gagal total. Xiao Lin sudah lebih dulu mengamankan kesetiaan para penjaga gerbang dan unit intelijen istana menggunakan emas murni yang ia kumpulkan dari bisnis ginseng langkanya.
Di tengah ketegangan politik tersebut, Putri Su Hua memberikan kabar yang sangat mengejutkan. Ia sedang mengandung benih dari Xiao Lin. Kabar ini menjadi alasan kuat bagi Raja untuk segera meresmikan hubungan mereka. Sang Raja menyadari bahwa Xiao Lin memiliki raga yang perkasa dan otak yang sangat encer untuk memimpin kerajaan di masa depan. Upacara pernikahan agung akhirnya digelar dengan sangat mewah. Seluruh rakyat wilayah utara bersorak merayakan bersatunya sang pahlawan pemburu macan dengan putri tercinta mereka.
Malam setelah pesta pernikahan, Xiao Lin membawa Su Hua ke kamar tidur utama istana. Ia menutup pintu besar kayu jati itu dengan rapat. Xiao Lin melepas jubah merahnya, memperlihatkan otot punggungnya yang sangat lebar dan berurat. Ia menghampiri Su Hua yang duduk di tepi ranjang dengan gaun pengantin yang sedikit tersingkap. Xiao Lin mencengkeram rahang lembut Su Hua, lalu mencium bibir istrinya itu dengan penuh nafsu.
"Sekarang kau adalah milikku secara sah di depan hukum dan Tuhan," bisik Xiao Lin dengan suara bariton yang berat.
Tangan besar Xiao Lin merayap ke balik kain sutra penutup tubuh Su Hua. Ia meremas payudara Su Hua yang terasa lebih penuh dan sensitif karena masa kehamilannya. Su Hua mendesah keras, ia melilitkan kaki mulusnya ke pinggang Xiao Lin yang sangat kuat. Xiao Lin segera melepaskan seluruh pakaiannya. Penisnya yang besar, panjang, dan sangat berurat langsung berdiri tegak menantang udara malam. Batang penisnya terlihat sangat kokoh, berdenyut-denyut siap untuk menghujam masuk ke dalam kehangatan tubuh istrinya.
Xiao Lin membaringkan Su Hua dengan kasar di atas tumpukan bantal sutra. Ia membuka lebar paha Su Hua, lalu memposisikan kepalanya di antara kedua kaki istrinya itu. Ia menjilat klitoris Su Hua dengan lidahnya yang liat, menciptakan aliran keringat yang membasahi sprei mewah. Su Hua merintih dan mencakar bahu Xiao Lin yang sekeras batu. Tak butuh waktu lama, Xiao Lin menindih tubuh Su Hua dan memasukkan penisnya dengan satu dorongan yang sangat dalam sampai menyentuh rahim.
Suara benturan daging yang keras mengisi ruangan luas itu. Xiao Lin bergerak dengan ritme yang sangat bertenaga, seolah-olah ingin menanamkan eksistensinya lebih dalam lagi. Setiap kali pinggulnya menghantam bokong Su Hua, sang putri berteriak dalam kenikmatan yang luar biasa. Keringat mereka bercampur, membuat tubuh sekel Xiao Lin tampak berkilat di bawah cahaya lilin. Ia terus memacu gerakannya sampai akhirnya ia menyemburkan spermanya yang kental jauh ke dalam lubang kemaluan Su Hua.
Beberapa minggu setelah malam itu, Raja tua akhirnya menghembuskan napas terakhirnya. Sesuai dengan wasiat tertulis, Xiao Lin secara resmi terpilih untuk menggantikan posisi mertuanya sebagai raja baru. Seluruh persiapan penobatan dilakukan dengan sangat teliti. Xiao Lin merasa berada di puncak kejayaannya. Ia memiliki istri yang cantik, calon anak, serta kekuasaan mutlak atas sebuah kerajaan besar. Hidupnya terasa sangat sempurna dan penuh kebahagiaan.
Satu hari sebelum penobatan agung dimulai, Xiao Lin berdiri di balkon istana sambil menatap matahari terbenam. Ia memikirkan betapa jauh perjalanan yang telah ia tempuh sejak kematiannya di pesawat jet pribadi. Ia tersenyum dingin, merasa telah benar-benar menaklukkan takdirnya di dunia ini. Malam itu, ia tidur di samping Su Hua dengan perasaan tenang yang sangat dalam.
Tepat saat fajar menyingsing, sebuah getaran aneh mulai melanda kesadarannya. Suara sorak-sorai rakyat di luar istana perlahan-lahan berubah menjadi suara dengungan mesin yang sangat bising. Aroma melati di kamarnya mendadak berganti menjadi aroma wine dan besi yang sangat tajam. Xiao Lin mencoba membuka matanya, tetapi penglihatannya menjadi putih total. Dunia kerajaan yang ia bangun dengan penuh keringat dan darah itu mendadak hancur berkeping-keping di depannya.
BACA JUGA
Post a Comment