REIN: Kembali

Kondisi kesehatan Kaisar Lu Ban kian menurun drastis beberapa bulan setelah peristiwa perburuan agung di Rimba Kematian. Penyakit paru-paru parah yang diidap penguasa wilayah utara tersebut selama beberapa tahun belakangan akhirnya mencapai titik kritis. 

Di dalam kamar kebesaran istana yang luas, sang Kaisar hanya bisa terbaring lemah di ranjangnya yang berlapis sutra emas, dikelilingi oleh tabib kerajaan yang hanya bisa menunduk pasrah menyaksikan ajal yang kian mendekat. 

Napas tua sang kaisar terdengar berat dan tersengal-sengal, meninggalkan suara erangan parau setiap kali dadanya yang kurus mencoba meraup udara. Bau ramuan herbal yang pahit bercampur aroma kayu cendana memenuhi seisi ruangan yang sunyi, menciptakan atmosfer mencekam yang membuat para pengawal di balik pintu tidak berani membuat suara sekecil apa pun. 

Putri Su Hua duduk bersimpuh di tepi ranjang, terus menggenggam erat tangan dingin ayahnya yang gemetar. Di sebelahnya, Xiao Lin ikut mengambil posisi duduk di kursi kayu jati besar yang diletakkan tepat di dekat bantal sang penguasa tua. 

Sepasang mata tajam Xiao Lin menatap lekat pada wajah kaisar yang kian memucat, sementara tangan kirinya sesekali mengusap pundak Su Hua yang terguncang menahan kesedihan. Air mata sang putri mengalir perlahan, memandangi sang ayah yang dulu begitu gagah memimpin kerajaan, kini tampak sangat rapuh tak berdaya. 

Kaisar Lu Ban perlahan membuka kelopak matanya yang beralih sayu. Tatapan matanya yang mulai kabur bergerak menatap Putri Su Hua, lalu beralih lurus ke arah Xiao Lin yang duduk mendampinginya. Menggunakan sisa kekuatan terakhir yang ia miliki, sang kaisar memberi isyarat agar Xiao Lin mencondongkan tubuh lebih dekat ke bibir keriputnya. 

"Xiao Lin... jaga putriku... dan pimpin wilayah utara ini dengan tangan besarmu," bisik Kaisar Lu Ban dengan suara yang terputus-putus, nyaris tenggelam dalam embusan napasnya yang dingin. "Para bangsawan korup... jangan biarkan mereka... meruntuhkan dinasti ini..." 

Xiao Lin memberikan satu anggukan tegas, memegang pundak sang kaisar dengan lembut namun sarat akan janji yang kuat. "Aku bersumpah demi kepalaku sendiri, Yang Mulia. Siapa pun yang berani menyentuh takhta ini atau membuat Putri Su Hua menangis, akan aku habisi tanpa sisa," balas Xiao Lin dengan nada suara yang berat dan berwibawa. 

Mendengar sumpah yang keluar dari mulut menantunya, seulas senyuman tipis penuh kelegaan terukir di wajah pucat Kaisar Lu Ban. Tangannya yang memegang Su Hua mendadak melemas, dan embusan napas terakhirnya keluar perlahan bersamaan dengan berhentinya debar jantung sang penguasa tua. 

Kaisar Lu Ban telah mengembuskan napas terakhirnya. 

"Ayah! Jangan tinggalkan aku, Ayah!" Suara tangisan histeris Putri Su Hua seketika pecah memecah kesunyian kamar kebesaran tersebut. Wanita itu mendekap dada mendiang ayahnya dengan kesedihan yang mendalam, berulang kali memanggil sang kaisar yang kini telah memejamkan mata untuk selamanya. 

Xiao Lin bergeser dari duduknya, lalu menarik tubuh ramping istrinya ke dalam pelukan dadanya yang bidang dan kekar, memberikan kehangatan serta perlindungan di tengah kedukaan yang melanda istana. 

Seluruh wilayah utara Kota Athanor diselimuti oleh duka mendalam selama satu bulan penuh. Kain-kain putih lambang berkabung dipasang di setiap sudut tembok Istana Utara, merunduk di bawah berkibarnya panji kerajaan setengah tiang. Prosesi pemakaman agung sang Kaisar digelar dengan penuh khidmat, dihadiri oleh lautan rakyat yang melepas kepergian pemimpin tua mereka dengan isak tangis di sepanjang jalan utama kota. 

Selama masa berkabung tersebut, jalannya roda pemerintahan dipegang sementara oleh dewan penasihat dengan pengawasan ketat dari pasukan penjaga yang setia. Faksi bangsawan yang tersisa hanya bisa bergerak dalam bayang-bayang, tidak ada satu pun dari mereka yang berani memicu pergolakan politik atau menentang isi surat wasiat yang ditinggalkan. Reputasi Xiao Lin yang begitu kejam saat membantai macan tutul emas dan menaklukkan para penentangnya telah menjadi peringatan keras yang membungkam ambisi tersembunyi para menteri korup. 

Setelah masa duka resmi kerajaan berakhir, barulah kesibukan baru yang luar biasa mulai melanda seisi Istana Utara. Sesuai dengan isi surat wasiat tertulis yang dicap stempel darah oleh mendiang Kaisar Lu Ban, Xiao Lin secara resmi ditunjuk menjadi kaisar baru yang akan memegang kendali takhta tertinggi. 

Demi mengembalikan moral rakyat sekaligus mengukuhkan stabilitas kekuasaan yang baru, dewan istana memutuskan untuk menyatukan dua upacara besar sekaligus. Hari penobatan Xiao Lin sebagai kaisar baru disepakati menjadi hari peresmian pernikahan agungnya bersama Putri Su Hua, yang kini telah menginjak usia kandungan beberapa bulan. 

Ribuan pelayan, pengrajin sutra, dan pandai besi bekerja siang dan malam tanpa henti untuk menyelesaikan persiapan megah tersebut agar selesai tepat waktu. Kota Athanor kini mulai menanggalkan kain-kain putih duka, bersiap menyambut lahirnya era baru di bawah kendali penguasa yang jauh lebih dikdaya, perkasa, dan berwibawa dari sebelumnya.

***

Upacara pernikahan agung dan penobatan resmi akhirnya digelar dengan kemegahan luar biasa di Kota Athanor. Alunan musik terompet perunggu bergema membelah cakrawala, menyambut Xiao Lin yang melangkah dengan pijakan kokoh menaiki tangga marmer menuju singgasana tertinggi. Pria perkasa itu mengenakan jubah kebesaran kaisar berwarna hitam pekat dengan sulaman naga emas yang meliuk di sepanjang pundaknya, mempertegas bentuk tubuh tegap penuh otot di balik kain sutra mewah. Di sebelah kiri, Putri Su Hua berjalan anggun mengenakan mahkota permata dengan gaun pengantin sutra merah yang sengaja dibuat longgar untuk menyembunyikan perutnya yang mulai membuncit lembut karena mengandung benih Xiao Lin. 

Rakyat di sepanjang pelataran istana bersorak-sorai, menyerukan nama penguasa baru mereka penuh rasa hormat. Di balik kemegahan dan senyuman patuh para menteri, tatapan mata Xiao Lin tetap dingin. Di barisan penonton paling belakang, matanya sempat menangkap sosok Wei Lan dan Ning Xi, dua pelayan kedai yang dulu menyiksanya di pasar. Kedua wanita itu kini bersujud gemetar di atas tanah becek bersama warga kota lainnya, menunduk penuh ketakutan demi menghormati sosok kaisar baru yang terkenal sangat dikdaya dan kejam. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa pria rupawan berselimut jubah naga emas di atas panggung tinggi tersebut adalah babi tambun yang dulu pernah mereka ludahi di depan kedai. 

Malam harinya, setelah seluruh prosesi perayaan selesai, Xiao Lin membawa istrinya masuk ke dalam kamar tidur utama kaisar yang luas. Pintu jati tebal ditutupnya hingga menimbulkan dentuman berat, mengunci seluruh dunia luar. 

Hawa di dalam kamar terasa hangat, penuh aroma dupa melati dan kayu cendana. Xiao Lin melepaskan jubah hitam kebesarannya, membiarkan pakaian dalamnya tersingkap hingga memperlihatkan bidang dada yang cokelat matang, otot perut tajam, serta punggung lebar penuh bilur luka pertempuran yang maskulin. 

Su Hua duduk di tepi ranjang sutra, menatap suaminya dengan sepasang mata sayu berair karena dilingkupi gairah membara. Rambut hitamnya yang panjang terurai di atas bahu mulus, sementara gaun merahnya sedikit terangkat, menampilkan sepasang betis dan paha mulus yang bersih. 

Xiao Lin melangkah mendekat, setiap pijakan kakinya memancarkan aura dominasi yang menuntut kepatuhan. Pria perkasa itu berdiri di hadapan Su Hua, mengulurkan tangan besarnya untuk mencengkeram rahang lembut istrinya, mendongakkan wajah jelita sang putri agar menatap lurus ke dalam sepasang mata dinginnya. 

"Mulai hari ini, seluruh kerajaan ini berada di bawah kakiku. Dan kau adalah milikku sepenuhnya, lahir dan batin," bisik Xiao Lin dengan suara berat yang bergetar penuh nafsu. 

"Ya, Suamiku. Pimpin aku, kuasai seluruh tubuhku malam ini," balas Su Hua dengan suara lirih yang parau, tangannya yang gemetar bergerak menyentuh otot perut Xiao Lin yang keras seperti batu. 

Xiao Lin menundukkan kepalanya, langsung melumat bibir merah Su Hua dengan ciuman yang dalam, kasar, dan penuh tuntutan. Lidahnya yang hangat menerobos masuk, mengabsen setiap jengkal rongga mulut istrinya yang menyambut pasrah. Tangan kanan Xiao Lin merayap turun ke balik gaun sutra merah, langsung meremas payudara kenyal Su Hua yang terasa semakin padat karena kehamilannya. Ibu jarinya memilin puting istrinya dengan kuat melalui kain tipis, memancing lenguhan keras yang lolos dari sela pagutan bibir mereka. 

"Ahhh... Suamiku... ughh, lebih kuat lagi..." rintih Su Hua meliukkan tubuhnya yang sensitif. Wanita itu segera mengangkat kedua kaki mulusnya, melilitkan pahanya ke pinggang kekar Xiao Lin dengan erat, menggesekkan inti tubuhnya yang mulai basah ke pangkal paha suaminya. 

Sembari menghujani leher, rahang, dan tengkuk istrinya dengan isapan basah yang meninggalkan bekas kemerahan, Xiao Lin menanggalkan sisa pakaiannya sendiri hingga tidak selembar benang pun tersisa. Penisnya yang sejak tadi tertekan kini menegang sepenuhnya, berdenyut kemerahan menampakkan ukuran yang sangat panjang, tebal, dengan urat besar yang menonjol kokoh. Ujung kepala penisnya yang basah siap menghujam kehangatan tubuh Su Hua. 

Xiao Lin merebahkan tubuh istrinya di atas tumpukan bantal sutra yang empuk. Pria perkasa itu membuka lebar kedua paha mulus Su Hua hingga bagian intimnya yang membengkak kemerahan terekspos jelas di bawah temaram cahaya lilin. Xiao Lin mengambil posisi berlutut tepat di antara kedua kaki istrinya, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam. 

Lidah Xiao Lin yang liat mulai menyapu lembut, lalu menjilat klitoris Su Hua dengan gerakan memutar yang agresif. 

"Ahhh! Sayang! Hnghh... di situ... geli, ahh!" Suara jeritan nikmat Putri Su Hua pecah memenuhi kamar yang luas. Pinggul wanita itu bergerak naik turun, mendorong area intimnya agar semakin dalam terbenam di wajah suaminya. 

Cairan gairah yang manis dan hangat keluar dengan deras dari dalam lubang vagina Su Hua, bercampur dengan air liur Xiao Lin yang terus mengisap dan memanjakan bagian paling sensitif istrinya tersebut. Tubuh Su Hua bergetar hebat, kedua tangannya mencengkeram seprai sutra dengan kencang untuk menahan gelombang nikmat yang menyerang sekujur tubuhnya. 

"Arrhhh, nikmat sayang?" ujar Xiao Lin mendongak sejenak, memamerkan wajah tampannya yang kini basah oleh cairan gairah milik Su Hua. 

"Nik-nikmat sayang... hnghh... aku sudah tidak tahan lagi... masukkan milikmu sekarang, kumohon..." seru Su Hua dengan napas memburu cepat dan sepasang mata terpejam pasrah. 

Xiao Lin menyeringai puas melihat mainannya sudah sepenuhnya siap. Pria perkasa itu bergerak naik ke atas tubuh istrinya, mendongakkan kepala Su Hua dan memaksa wanita itu membuka mulutnya lebar-lebar. Dengan satu dorongan pinggul yang kuat, Xiao Lin menghujamkan kartu kejantanan besarnya masuk ke dalam mulut Su Hua hingga ke pangkal tenggorokan. 

"Ughh! Uhuk!" Su Hua sempat kesulitan bernapas karena ketebalan penis Xiao Lin menyumbat kerongkongannya. Dengan lihai dan patuh, Su Hua mulai menggerakkan kepalanya maju mundur, menjilati dan mengulum batang penis suaminya dari ujung hingga ke pangkal, memicu erangan rendah penuh gairah dari mulut Xiao Lin. 

Setelah puas bermain dengan mulut istrinya, Xiao Lin menarik keluar kejantatannya yang kini sudah sangat licin berlumur air liur. Pria perkasa itu kembali memposisikan tubuh kekarnya di antara paha Su Hua yang terbuka lebar. Mengangkat kedua pergelangan kaki istrinya ke atas bahu, Xiao Lin menyatukan ujung penis tebalnya tepat di depan lubang vagina Su Hua yang berdenyut menuntut. 

Dengan satu dorongan pinggul yang sangat kuat, bertenaga, Xiao Lin menghujamkan seluruh jengkal penis besarnya jauh ke dalam, masuk hingga menyentuh pangkal rahim istrinya. 

"Ahhhh! Pe-penuh... sangat dalam... sa-sayang... hnghh!" Su Hua berteriak dalam kenikmatan yang luar biasa gila saat rongga tubuhnya diregangkan maksimal oleh ukuran raksasa suaminya. 

Goyangan maju mundur dari pinggul kekar Xiao Lin membuat suasana kamar yang luas itu tidak lagi sunyi. Bunyi benturan kulit paha dan pantat mereka yang beradu terdengar berulang kali dengan ritme cepat. Xiao Lin bergerak dengan penuh tenaga, memacu gairah kejantanannya untuk memuaskan sang istri yang kini melenguh manja, terus mendesak pinggulnya ke atas menyambut setiap tusukan dalam suaminya. 

Peluh mereka bercampur menjadi satu, membuat kulit cokelat matang Xiao Lin dan kulit putih mulus Su Hua tampak mengkilat erotis di balik cahaya lilin yang mengelilingi kamar. 

"Ah... ah... terus, Kaisarku... hantam rahimku... lebih cepat... ahh!" jerit Su Hua dengan mata membalik ke atas menahan puncak pelepasan yang kian mendekat. 

Xiao Lin mempererat remasan tangannya pada pinggang Su Hua, menahan tubuh istrinya lalu memacu gerakannya hingga batas kecepatan tertinggi. Setiap hentakan kasarnya membuat ranjang kayu jati di bawah mereka berderit kencang. Dada Xiao Lin naik turun seiring dengan debar gairah yang kian memuncak di selangkangannya. 

"Argghhh!" Xiao Lin mengerang panjang, suaranya yang berat menggema penuh dominasi saat ia akhirnya menyemburkan sperma kental berwarna putih susu dalam jumlah yang sangat banyak, jauh ke dalam rahim Putri Su Hua, membanjiri sel telur di dalamnya dengan kehangatan cairan miliknya. 

"Ahhhh!" Su Hua memekik panjang dengan tubuh menegang selama beberapa detik, menerima semburan dahsyat yang mengocok bagian terdalam perut bawahnya sebelum akhirnya lemas tak berdaya di atas bantal sutra. 

Xiao Lin ambruk dengan napas terengah-engah, menjatuhkan tubuh penuh ototnya di atas dada lembut istrinya, membiarkan penis besarnya yang mulai melemas tetap tertanam erat di dalam kemaluan Su Hua yang berdenyut menjepitnya dengan ketat. 

Beberapa jam setelah badai gairah itu mereda, suasana kamar malam itu berubah menjadi sunyi senyap. Xiao Lin tidur terlentang di samping istrinya yang sudah terlelap pulas dengan perasaan yang sangat amat bahagia, dilingkupi kejayaan tertinggi sebagai kaisar baru yang berhasil membalaskan seluruh rasa hinanya di masa lalu. 

Tepat saat sinar matahari pagi mulai menyingsing dari balik jendela istana, tiba-tiba Xiao Lin merasakan sebuah getaran aneh yang teramat kuat mulai melanda kesadarannya. Rasa hangat dari ranjang sutra dan keheningan paviliun kamarnya mendadak memudar secara brutal. 

Suara siulan burung pagi dan derit tenang angin istana yang terdengar samar, perlahan berubah menjadi suara dengungan mesin yang bising dan guncangan hebat. Aroma dupa melati di sekitarnya pun ikut menguap, berganti dengan aroma wine merah yang anyir dan bau besi tajam yang menyengat indra penciumannya. 

Kesadarannya seperti ditarik paksa melewati lorong waktu, membuat dadanya mendadak terasa sesak dan terbakar hebat. 

"Apakah ini mimpi? Kenapa gelap sekali?" ucapnya dalam hati dengan penuh kebingungan, mencoba memaksa kelopak matanya yang terasa sangat berat untuk terbuka kembali di tengah kegelapan yang bergoyang.

Memuat daftar chapter...
[X]