Pergulatan Si Tangan Setan Melawan Impuls Diri

"Maling." Kata itu menjadi label yang akrab di telinga saya sejak kecil. Sedih rasanya, namun saya seolah tak berdaya. Tangan saya sering kali bergerak sendiri, mengambil barang-barang yang sebenarnya tidak saya butuhkan. Hanya sekadar mengambil—namun tetap saja, itu adalah tindakan tanpa izin yang merugikan orang lain. 

Kadang saya bertanya pada diri sendiri: Mengapa saya melakukannya? Saking kuatnya dorongan itu, setiap berangkat dan pulang sekolah, saya selalu menyempatkan diri mampir ke tempat pembuangan sampah. Saya mengais-ngais di sana, mencari sesuatu untuk diambil demi memuaskannya. Saya pernah berpikir ekstrem: andai saya tidak memiliki tangan, mungkinkah dorongan ini akan hilang? Jika ya, saya lebih memilih kehilangan tangan daripada harus terus-menerus merugikan orang. 

Barang-barang hasil petualangan tangan saya biasanya saya kumpulkan di sekitar rumah, kadang saya simpan rapi dalam kardus. Tak pelak, orang tua saya sering bertanya dengan nada curiga, "Kamu mencuri punya siapa lagi?". Saya selalu berkelit dengan jawaban standar, "Saya dapat dari sampah." Namun, saat saya tertangkap basah mengambil milik orang, pukulan dan cambukan dari orang tua menjadi konsekuensi yang harus saya telan. Mereka hancur, melihat kenyataan bahwa anaknya adalah pencuri. 

Puncaknya terjadi saat saya duduk di bangku SMP. Kebiasaan ini membuat saya terpuruk hingga harus berpindah sekolah sebanyak tiga kali dengan masalah yang sama. Rasa malu dan sedih yang menumpuk membuat saya ingin menyerah pada hidup. Pikiran saya kalut; saya merasa hanya menjadi beban bagi orang tua. Saya berpikir, jika saya mati, mungkin mereka hanya akan sedih di awal, lalu setelahnya mereka bisa hidup tenang tanpa bayang-bayang kelakuan saya. 

Memasuki masa SMA, dorongan itu mulai mereda, namun ketakutan akan "rayuan tangan setan" itu tetap ada. Saya takut jika suatu saat saya lepas kendali dan berakhir tragis di tangan massa. Itulah sebabnya saya mulai menarik diri. Saya menghindari masuk ke dalam rumah teman jika sendirian. Saya lebih memilih duduk di teras atau di depan pintu, menjaga jarak agar tangan saya tidak memiliki kesempatan untuk berulah. 

Titik balik saya terjadi secara tidak sengaja saat menonton sebuah tayangan FTV di televisi. Di sana diceritakan tentang gangguan kebiasaan mengambil barang. Saya bersyukur melihat tayangan itu; saya baru menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres pada psikis saya. Sejak saat itu, saya belajar mengatasinya. Jika dorongan itu memuncak, saya akan mencatat nama pemilik dan kejadiannya, agar barang tersebut bisa saya kembalikan tanpa harus menimbulkan masalah besar. 

Saya kemudian mencari informasi lebih dalam. Dari literatur yang saya baca, saya sadar bahwa ini adalah gangguan yang mungkin tidak bisa sembuh total, melainkan hanya bisa diminimalisir agar pikiran tetap tenang. Mengasingkan diri dari hiruk-pikuk dunia luar akhirnya menjadi pilihan sadar saya, demi menghindari risiko berurusan dengan hukum akibat ulah tangan saya. 

Masa lalu saya memang kelam. Saya sering bingung harus berbagi cerita kepada siapa, karena di dunia nyata pun, saya hampir tidak memiliki teman dekat. Mungkin melalui rangkaian tulisan ini, saya bisa merasa bebas—bercerita kepada dunia bahwa di balik tindakan yang dianggap salah itu, ada jiwa yang sedang berjuang keras untuk sembuh. 
BACA JUGA