REIN: Penaklukan (Bagian 4)

Rein meninggalkan Moskow setelah kontrak energi dengan keluarga Volkov resmi ia kantongi. Kesepakatan tersebut memperkuat pondasi serangan yang ia siapkan untuk melumpuhkan pasar Eropa. 

Jet pribadinya meluncur di bawah langit Inggris yang kelabu dan penuh kabit tipis. Di dalam kabin, Rein duduk dengan tenang. Otot bahunya yang lebar bersandar pada kursi kulit yang sangat nyaman. Ia mengamati grafik saham melalui layar tablet yang tipis. Penaklukan di Rusia memberikan kepercayaan diri yang tinggi. Target berikutnya adalah merobek harga diri para elit perbankan London melalui skema yang jauh lebih licik.

Pesawat mendarat di landasan aspal yang basah oleh sisa hujan. Rein melangkah keluar dari kabin. Ia mengenakan setelan jas hitam yang membungkus raga sekelnya dengan sangat rapi. Langkah kakinya membawa Rein menuju sebuah gedung lelang seni kuno yang sangat prestisius di pusat kota. Acara tersebut hanya dihadiri oleh segelintir orang terpilih. Lady Penelope berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh para kolektor tua yang tampak segan kepadanya. Wanita tersebut memiliki paras cantik dengan tatapan yang sangat meremehkan siapa pun yang berada di dekatnya.

Lady Penelope sedang memimpin penawaran untuk sebuah lukisan kuno yang menjadi simbol kekayaan keluarganya selama berabad-abad. Ia merasa sangat yakin akan memenangkan lelang tersebut dengan pengaruh darah birunya. Rein berdiri di sudut ruangan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Ia memberikan isyarat kepada asistennya untuk melampaui setiap tawaran yang Penelope berikan. Harga lukisan itu melambung tinggi hingga ke angka yang tidak masuk akal.

Penelope menoleh ke arah Rein dengan raut wajah yang memerah karena marah. "Anda ingin menantang pengaruh keluarga saya di rumah lelang ini, Tuan Rein?" tanyanya dengan nada yang tajam.

Rein mendekat ke arah Penelope tanpa ekspresi wajah yang berlebihan. Ia meletakkan selembar dokumen di atas meja lelang tersebut. Dokumen itu merupakan bukti bahwa Rein telah membeli seluruh bank sentral yang selama ini menopang kekayaan keluarga Penelope. Rein melihat keangkuhan pada mata wanita itu mulai memudar secara perlahan.

"Aku memilih untuk memiliki bank itu daripada sekadar memiliki lukisan ini," ucap Rein dengan suara bariton yang berat.

Rein menarik pergelangan tangan Penelope secara kasar. Ia membawa wanita tersebut menuju ruang penyimpanan koleksi seni yang kedap suara di bagian belakang gedung. Rein mengunci pintu ruangan yang terbuat dari baja tersebut. Ia mencengkeram bahu Penelope. Ia memaksa wanita itu menempel pada dinding kayu yang dipenuhi rak buku tua. Rein merobek kemeja putihnya sendiri. Ia memperlihatkan otot dada yang sangat keras serta berurat. Penelope terengah-engah. Tekanan dari pria di depannya membuat batin wanita itu bergejolak hebat.

Tangan Rein yang besar merobek gaun sutra Penelope. Ia membiarkan raga mulus sang bangsawan terpampang nyata di bawah cahaya lampu ruangan yang temaram. Rein melepaskan ikat pinggangnya dengan satu gerakan yang sangat cepat. Penisnya yang besar, panjang, serta berurat langsung berdiri tegak. Batang penisnya terlihat sangat kokoh dan berdenyut karena gairah yang sudah memuncak. Penelope gemetar saat melihat ukuran kejantanan Rein yang sangat luar biasa.

Rein membalikkan tubuh Penelope. Ia memaksa wanita itu membungkuk di atas sebuah peti antik yang sangat kokoh. Rein menghujamkan penisnya masuk ke dalam kemaluan Penelope melalui satu dorongan penuh tenaga. Penelope menjerit kencang saat rahimnya dihantam oleh kejantanan Rein yang sangat keras. Rein bergerak dengan ritme yang sangat cepat. Suara benturan panggul Rein dengan bokong Penelope memenuhi ruangan penyimpanan yang sunyi. Rein terus memacu gerakannya tanpa henti.

Keringat membasahi raga sekel Rein, membuatnya tampak sangat dominan di bawah cahaya temaram. Rein menjambak rambut pirang Penelope. Ia memaksa wanita itu untuk merasakan setiap inci kekuatan yang ia miliki melalui cara yang sangat kasar. Rein mempercepat gerakannya. Ia menghajar rahim Penelope tanpa ampun sampai wanita itu mencapai puncak kepuasannya berkali-kali. Penelope merintih dalam kenikmatan yang terasa menyiksa.

Pada puncaknya, Rein mengerang rendah. Ia menyemburkan spermanya yang sangat kental serta panas jauh ke dalam. Cairan putih tersebut memenuhi bagian dalam tubuh Penelope, memberikan rasa hangat yang luar biasa di perut bagian bawah wanita itu. Rein menarik kembali celananya. Ia berdiri tegak menatap cermin besar di ruangan itu. Sisa cairan sperma masih mengalir dari paha Penelope ke atas lantai kayu yang gelap. Rein pun meninggalkan Penelope yang terkulai lemas sendirian di dalam ruangan itu.
BACA JUGA