Karma Cinta: Pertemuan Rahasia

Angin laut yang amis menusuk hingga ke tulang, membawa butiran garam yang menempel di permukaan kulit. Kayu-kayu dermaga tua ini sudah mulai melapuk dimakan usia. Arthur berdiri mematung. Matanya menatap cakrawala yang kini berwarna abu-abu pekat. Langit seolah ikut berduka. Jauh dari binar-binar lampu kota, suara ombak yang menghantam tiang dermaga menjadi satu-satunya musik yang terdengar telinganya. 

Langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Suara sepatu pantofel yang beradu dengan kayu tua itu sangat ia kenali. Tanpa perlu menoleh, Arthur tahu bahwa Raymond sudah berdiri tepat di belakangnya. Aroma cerutu mahal dan parfum maskulin yang tajam segera menyeruak, mengalahkan bau laut yang sedari tadi menemaninya. 

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Raymond berdiri di samping Arthur, ikut menatap kegelapan air di bawah kaki mereka. Tangan Raymond yang kasar perlahan bergerak, meraih jemari Arthur yang dingin. Genggaman itu erat. Tekanan itu bicara lebih banyak daripada ribuan kata. Rasa lapar akan rindu yang tertahan mulai nampakkan diri.

"Kau datang juga," bisik Arthur. Suaranya serak, nyaris hilang tertiup angin. 

"Aku selalu datang jika itu untukmu, meski aku harus mengkhianati seluruh dunia," jawab Raymond dingin. 

***

Beberapa mil dari dermaga yang sepi itu, sebuah taman kota yang gelap menjadi saksi bisu bagi pengkhianatan yang serupa. Di atas bangku semen yang lembap oleh embun, Esther duduk bersandar pada bahu Celine. Rambut Esther yang panjang tergerai, menyentuh lengan Celine yang sedang mengelus pipinya dengan penuh kasih sayang. 

Esther memejamkan mata menikmati sentuhan itu. Ia mengira mencintai suaminya sampai ia menemukan kehangatan yang berbeda pada diri Celine. Istri dari sahabat suaminya itu adalah satu-satunya manusia yang benar-benar bisa menyentuh bagian terdalam dari jiwanya. 

"Arthur akan segera pulang sebentar lagi," gumam Esther dengan nada getir. 

Celine menjauhkan wajahnya sedikit. Ia menatap mata Esther yang berkaca-kaca di bawah sinar bulan yang remang. "Raymond juga. Mereka mungkin sedang minum, membicarakan bisnis atau politik yang membosankan. Mereka tidak akan pernah tahu kalau kita duduk di sini, saling memuja dalam diam." 

***

Di dermaga, suasana mulai memanas. Raymond menarik tubuh Arthur dengan kasar ke dalam pelukannya. Di balik bayangan tumpukan kontainer tua, mereka saling memangsa. Ciuman mereka penuh dengan keputusasaan. Tindakan itu lebih menyerupai upaya untuk saling melukai daripada saling mencintai. Lidah mereka bertaut dengan liar. Rasa asin dari keringat dan air laut menyatu di dalam rongga mulut. 

Tangan Raymond masuk ke dalam kemeja Arthur. Ia meraba otot-otot punggung yang menegang. Ia mendesah rendah saat merasakan kulit Arthur yang panas di bawah telapak tangannya. Arthur menjambak rambut Raymond, menariknya agar ciuman itu semakin dalam. Dua pria yang seharusnya menjadi kepala keluarga yang terhormat. Tapi, di tempat yang kotor dan tersembunyi ini, mereka layaknya dua binatang yang haus akan pengakuan yang dilarang agama dan norma. 

Arthur menekan tubuh Raymond ke dinding kontainer yang berkarat. Ia membuka paksa gesper ikat pinggang pria di hadapannya. Napas mereka memburu, menciptakan uap tipis di udara malam yang dingin. Tanpa banyak bicara, Raymond membalikkan tubuh Arthur, menekannya hingga wajah Arthur mencium dinginnya besi kontainer. Pakaian mereka tanggal satu demi satu, jatuh ke lantai dermaga yang berdebu. 

Sentuhan itu kasar, penuh dengan dendam sekaligus pemujaan yang sakit. Raymond membenamkan dirinya ke dalam tubuh Arthur dengan satu sentakan yang membuat Arthur mengerang keras ke langit malam. Rasa sakit dan nikmat menyatu, menghancurkan sisa-sisa harga diri yang mereka miliki. Mereka bergerak dalam ritme yang kacau, mencoba mencari pelarian dari kehidupan rumah tangga yang selama ini terasa seperti penjara. 

"Aku membencimu karena membuatku jadi seperti ini," desah Arthur di sela-sela napasnya yang sesak. 

"Aku lebih membencimu lagi, karena aku tidak bisa berhenti," balas Raymond sebelum kembali mencengkeram bahu Arthur dengan kuat. 

***

Di taman, Esther dan Celine semakin larut dalam keintiman mereka. Celine perlahan membuka kancing teratas gaun Esther. Ia membiarkan jemarinya menelusuri tulang selangka yang indah itu. Di bawah pohon-pohon besar yang menyembunyikan mereka dari dunia luar, kedua wanita itu saling memberikan apa yang tidak pernah mereka dapatkan dari suami masing-masing. Bibir mereka bertemu, lembut namun penuh dahaga yang membakar. Esther merintih saat tangan Celine merayap masuk ke dalam pakaian dalamnya, menyentuh titik-titik paling sensitif yang selama ini diabaikan oleh Arthur. 

***

Mereka pun akhirnya pulang ke rumah dan tidur di ranjang yang sama dengan orang yang mereka khianati setiap malam. Hubungan yang begitu rumit. Namun, di balik semua kerumitan ini, sebuah kebenaran yang jauh lebih mengerikan tersimpan rapat. Sebuah rahasia darah yang tersembunyi. Arthur tidak pernah tahu kalau putra kecil yang ia banggakan sebenarnya adalah benih yang ditanam oleh Raymond pada suatu malam. Begitu pula dengan Raymond. Ia membesarkan seorang anak dengan penuh kasih tanpa menyadari bahwa darah yang mengalir di nadi anak itu adalah milik Arthur. 
BACA JUGA