Karma Cinta: Makan Malam

Lampu-lampu gantung kristal di restoran terbuka ini bergoyang pelan ditiup angin laut. Suaranya berdenting halus, seolah sedang memperingatkan tentang badai yang akan datang. Pelayan berbaju putih mondar-mandir dengan langkah yang sangat teratur. Mereka meletakkan piring-piring porselen di atas taplak meja yang kaku. Di sini, di meja bundar yang menghadap langsung ke hamparan air hitam, Arthur, Esther, Raymond, dan Celine duduk dalam sebuah lingkaran kebohongan. 

Gelas anggur merah berdenting saat mereka bersulang untuk kesehatan masing-masing. Arthur menyesap minumannya. Matanya mencuri pandang ke arah Raymond yang duduk tepat di seberangnya. Di bawah cahaya lampu yang temaram, wajah Raymond tampak begitu tenang, sangat kontras dengan tangan yang tadi malam mencengkeram bahu Arthur hingga memar di dermaga. 

"Restoran ini sungguh indah, Raymond. Terima kasih sudah mengundang kami," suara Esther memecah keheningan yang menyesakkan. 

Celine tersenyum tipis, sebuah senyuman yang hanya dipahami oleh Esther. "Kami pikir, sudah saatnya kita berempat menghabiskan waktu bersama. Pekerjaan kalian berdua terlalu menyita waktu akhir-akhir ini." 

Raymond tertawa rendah, sebuah suara yang membuat bulu kuduk Arthur meremang. "Kau benar, Sayang. Bisnis memang melelahkan, tapi setidaknya kita punya keluarga yang setia menunggu di rumah." 

Kalimat itu bagai sembilu yang menyayat hati mereka semua. Arthur merasakan mual yang hebat di perutnya. Ia meletakkan garpunya dengan tangan yang sedikit gemetar. Di bawah meja yang tertutup kain panjang, ia merasakan sebuah sepatu menyentuh kakinya. Itu adalah kaki Raymond. Pria itu menggesekkan sepatunya ke betis Arthur dengan gerakan yang sangat pelan namun penuh tuntutan. 

Arthur mencoba mempertahankan ekspresi wajahnya agar tetap datar. Ia melirik Esther. Istrinya itu sedang sibuk memotong daging steak di piringnya, namun matanya tidak pernah benar-benar fokus pada makanan. Esther sedang menatap jemari Celine yang lentik saat wanita itu memegang gelas anggur. Arthur tahu tatapan itu. Itu adalah tatapan yang sama dengan yang ia berikan pada Raymond. 

Suasana semakin panas ketika pelayan menuangkan botol anggur kedua. Obrolan mengalir tentang hal-hal yang tidak penting, termasuk sekolah anak-anak, rencana liburan musim panas, hingga harga saham yang naik turun. Namun, di balik kata-kata yang sopan itu, ada arus bawah yang sangat kuat. 

Arthur bangkit dari duduknya. "Maaf, aku harus ke toilet sebentar." 

Beberapa detik kemudian, Raymond juga berdiri. "Aku akan menemaninya. Aku perlu menghirup udara segar di balkon samping." Mereka berjalan menjauh dari meja, meninggalkan kedua istri mereka yang kini saling menatap dengan penuh makna. 

Begitu sampai di lorong gelap menuju balkon yang sepi, Raymond menarik Arthur ke balik pilar batu yang dingin. Tanpa peringatan, ia membenturkan tubuh Arthur ke tembok dan melumat bibirnya dengan kasar. Bau anggur merah menyatu dalam ciuman yang penuh dengan kemarahan itu. 

"Kau gila," bisik Arthur saat tautan mereka terlepas sejenak. "Istri kita ada di sana." 

"Justru itu yang membuatnya terasa nyata," balas Raymond dengan napas tersengal. Ia merobek paksa kancing kemeja Arthur, membiarkan kancing-kancing kecil itu berjatuhan ke lantai tanpa suara. Tangannya yang kasar langsung meremas dada Arthur, mencari kehangatan yang ia puja sekaligus ia benci. 

Di meja makan, Esther meraih tangan Celine, berpura-pura sedang mengagumi cincin baru yang dipakai temannya itu. Padahal, ibu jari Esther sedang mengelus telapak tangan Celine dengan gerakan sensual yang membuat Celine memejamkan mata. 

"Aku merindukanmu," bisik Esther, nyaris tak terdengar oleh deburan ombak di bawah sana. 

Celine menatap Esther dengan mata yang basah. "Anakku bertanya tentangmu tadi pagi. Ia bilang ia bermimpi kau adalah ibunya, bukan bibinya." 

Jantung Esther seolah berhenti berdetak. Ia teringat pada putranya sendiri di rumah. Anak laki-lakinya yang memiliki garis rahang yang sangat mirip dengan Raymond. Ia menatap Celine, menyadari betapa hancurnya mereka jika rahasia ini terungkap. 

Di lorong gelap, Raymond memaksa Arthur berlutut di hadapannya. Ia membuka ritsleting celananya dengan terburu-buru. Arthur mendongak, menatap pria yang telah menghancurkan kewarasannya itu sebelum membenamkan wajahnya. Suara desahan rendah Raymond menyatu dengan suara ombak, menciptakan simfoni pengkhianatan yang sempurna. Mereka melakukan hal itu dengan penuh dendam, seolah-olah setiap gerakan adalah cara untuk menghukum satu sama lain atas dosa yang mereka perbuat. 

Setelah beberapa menit yang penuh dengan peluh dan kehinaan, mereka kembali ke meja dengan pakaian yang sedikit berantakan, namun wajah yang kembali memakai topeng ketenangan. Mereka duduk kembali, melanjutkan makan malam seolah sedang tidak terjadi apa-apa. 

"Anak-anak pasti sudah tidur sekarang," kata Raymond sambil mengelap mulutnya dengan serbet putih. 

Arthur menatap piringnya yang kosong. "Ya. Mereka mungkin sedang bermimpi tentang dunia yang indah." 


Makan malam itu berakhir dengan tawa palsu dan pelukan formal di tempat parkir tanda perpisahan. Mereka masuk ke mobil masing-masing, dan beranjak pulang ke rumah.
BACA JUGA