Karma Cinta: Ingatan Masa Lalu

Hujan badai mengguyur kota dengan beringas sepuluh tahun yang lalu. Petir menyambar, menerangi langit hitam untuk sesaat. Di sebuah hotel tua yang menghadap ke pelabuhan, sebuah kejadian terkutuk terjadi tanpa ada satu pun dari mereka yang merencanakannya. Malam itu adalah perayaan ulang tahun pernikahan perak orang tua Raymond. Alkohol mengalir tanpa kendali, mengaburkan kewarasan setiap orang yang hadir. 

Arthur yang sudah kehilangan kesadaran penuh berjalan terhuyung di koridor lantai lima. Pandangannya berbayang. Ia salah memasuki kamar karena pintu yang tidak tertutup rapat. Di dalam kamar yang remang itu, ia melihat sosok wanita yang sedang menangis di tepi ranjang. Arthur mengira itu adalah Esther, istrinya. Ia mendekat, memeluk wanita itu dari belakang dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. 

Wanita itu adalah Celine. Ia baru saja bertengkar hebat dengan Raymond. Dalam kondisi mabuk dan hancur, Celine tidak menolak pelukan itu. Ia justru berbalik dan mencari kehangatan dari siapapun yang ada di depannya. Tidak ada cinta, apalagi sayang yang terjadi di antara mereka berdua saat itu. Celine hanya ingin berhenti menangis, dan Arthur hanya ingin melampiaskan gairahnya. 

Mereka bercinta dalam kegelapan yang pekat, hanya ditemani suara guntur. Celine memejamkan mata rapat-rapat, mencoba membayangkan bahwa pria yang menyentuhnya adalah sosok lain yang bisa menghargainya. Arthur bergerak dengan liar, menumpahkan seluruh rasa frustrasinya ke dalam tubuh Celine. 

Di saat yang sama, di sebuah gudang linen yang sempit di ujung koridor, Raymond dan Esther terjebak dalam situasi yang serupa. Raymond menemukan Esther yang sedang menyendiri karena merasa diabaikan oleh Arthur. Raymond, yang selalu merasa ingin berkuasa, menarik Esther masuk ke ruangan sempit itu. 

"Arthur tidak pernah memperlakukanmu dengan benar, bukan?" bisik Raymond dengan aroma alkohol yang sangat menyengat. 

Esther tidak menjawab. Ia hanya terisak. Namun, saat tangan Raymond mulai merayap di balik gaunnya, ia tidak melawan. Ia merasa butuh divalidasi sebagai seorang wanita, meski itu dilakukan oleh sahabat suaminya sendiri. Mereka melakukan hubungan itu dengan terburu-buru di atas tumpukan kain. Sebuah tindakan yang didasari oleh dendam dan keputusasaan. Raymond menghujamkan tubuhnya kepada Esther berulang kali. 

Malam itu berakhir dalam kesunyian yang mencekam. Saat fajar menyingsing dan pengaruh alkohol menghilang, mereka semua kembali ke pasangan masing-masing dengan rasa malu yang dipendam dalam-dalam. Tidak ada yang berani bicara bahwa pada malam itu, dua nyawa baru telah dipahat di dalam rahim yang salah. 

Sebulan kemudian, kabar kehamilan itu datang bersamaan. 

Keluarga besar merayakan berita tersebut dengan suka cita di tempat yang sama. Arthur memeluk Esther dengan bangga, meyakini bahwa anak dalam kandungan istrinya adalah buah dari cintanya. Raymond juga mencium dahi Celine di depan semua orang, mengira ia telah membuktikan kejantanannya sebagai seorang suami. 

Beberapa tahun berlalu sejak malam badai itu. Esther dan Celine, yang awalnya tidak memiliki perasaan apa pun selain rasa canggung, mulai sering bertemu untuk membicarakan tumbuh kembang anak mereka. Dari obrolan basa-basi tentang sekolah, mereka mulai berbagi cerita tentang dinginnya ranjang pernikahan mereka. 

Perasaan sayang di antara kedua wanita itu tumbuh perlahan dari benih penderitaan yang sama. Mereka baru menyadari bahwa suami mereka masing-masing memiliki ikatan yang aneh, yang seringkali membuat mereka berdua merasa ditinggalkan. Solidaritas sebagai wanita yang terabaikan berubah menjadi rasa sayang yang mendalam, dan akhirnya, menjadi cinta yang tidak kalah terlarang. 

Namun, di balik cinta baru yang tumbuh di antara Esther dan Celine, mereka tetap menyimpan rahasia itu. Mereka masing-masing membesarkan anak pria lain di rumah mereka sendiri. Julian dan Adrian tumbuh dengan wajah yang perlahan-lahan mulai membuka tabir kebohongan mereka, meski sepuluh tahun telah berlalu untuk menutupinya. 
BACA JUGA