Karma Cinta: Curiga
Sinar matahari pagi yang pucat menembus kaca jendela perpustakaan pribadi di rumah Arthur. Ruangan itu penuh dengan bau buku tua dan kayu ek yang dipoles. Di tengah ruangan, seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun bernama Julian sedang duduk menekur di depan meja kayu besar. Ia sedang mencoba menyelesaikan tugas matematikanya, namun matanya terus teralih pada cermin besar yang tergantung di dinding samping.
Arthur berdiri di ambang pintu, memperhatikan anak itu. Ada rasa sesak yang mendalam di dadanya setiap kali ia melihat Julian dari samping. Garis rahang Julian sangat tegas, dagunya sedikit terbelah, dan tulang pipinya menonjol kuat. Arthur sering merasa asing dengan wajah anaknya sendiri. Ia merasa seperti sedang melihat versi muda dari Raymond, pria yang menjadi kekasih gelapnya sekaligus sahabatnya.
Arthur mendekat, mencoba meletakkan tangan di bahu Julian. Anak itu tersentak kecil. Reaksi refleks itu selalu membuat Arthur merasa ada jarak yang tidak terlihat di antara mereka.
"Ada yang sulit, Nak?" tanya Arthur. Suaranya diusahakan selembut mungkin, meski hatinya sedang berkecamuk oleh kecurigaan yang tidak masuk akal.
Julian mendongak. Mata anak itu berwarna cokelat gelap, tajam dan penuh selidik, persis seperti mata Raymond saat sedang bekerja. "Ayah, kenapa aku tidak punya lesung pipit seperti Ayah dan Ibu? Teman-temanku bilang, anak biasanya mirip salah satu orang tuanya."
Arthur terdiam. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sepuluh tahun lalu di hotel itu. Ia tidak tahu bahwa istrinya, Esther, pernah tidur dengan Raymond. Ia hanya mengira kemiripan Julian dengan Raymond adalah sebuah kebetulan yang kejam dari alam semesta.
"Genetik itu rumit, Nak. Kadang wajahmu mengikuti kakek atau nenek yang jauh di masa lalu," jawab Arthur. Ia tidak sadar bahwa ia sedang menyuarakan sebuah pembelaan untuk menenangkan dirinya sendiri.
Di kediaman lain, Raymond sedang berada di halaman belakang, memperhatikan putranya, Adrian, yang sedang berlatih memanah. Adrian memiliki postur tubuh yang ramping dan jangkung. Setiap kali Adrian menarik busur, Raymond melihat bayangan Arthur di sana. Cara Adrian menyipitkan mata, semuanya adalah salinan sempurna dari Arthur.
"Dia benar-benar berbakat," suara Celine mengejutkan Raymond dari belakang.
Raymond menoleh ke arah istrinya. "Kenapa dia tidak mirip denganku sama sekali, Celine? Tidak satu pun. Dia lebih terlihat seperti anak Arthur daripada anakkku."
Celine menegang. Jantungnya berdegup kencang. Berbeda dengan Raymond yang hanya menduga-duga, Celine tahu pasti bahwa Adrian adalah darah daging Arthur. Ia memegang rahasia itu sendirian selama sepuluh tahun. Ia telah membohongi suaminya setiap hari, membiarkan Raymond membesarkan anak pria lain tanpa rasa bersalah yang terlihat.
"Kau terlalu banyak berpikir, Raymond. Itu hanya perasaanmu saja. Mungkin karena kau terlalu sering menghabiskan waktu dengan Arthur," jawab Celine dengan nada yang datar, mencoba menutupi kegugupannya. Ia harus berbohong, satu-satunya cara agar dunianya tidak hancur.
Kecurigaan yang menyiksa mulai merayap ke dalam hubungan kedua pria ini. Arthur mulai merasa tidak nyaman saat menggendong Julian, karena ia merasa seperti sedang memeluk Raymond. Begitu juga dengan Raymond yang mulai bersikap dingin pada Adrian, merasa bahwa anak itu adalah pengingat hidup akan kemiripan yang mengganggu dengan selingkuhannya.
Ketegangan mencapai puncaknya pada suatu sore ketika kedua keluarga itu bertemu di klub olahraga. Julian dan Adrian sedang bermain bersama di pinggir kolam. Saat mereka berdiri berdampingan, semua orang yang lewat bisa melihat keanehan yang mencolok. Julian terlihat seperti adik Raymond, sementara Adrian terlihat seperti versi muda dari Arthur.
Arthur dan Raymond saling bertukar pandang di seberang lapangan. Mereka bingung. Mereka saling mencintai dalam diam, namun mereka juga merasa ada sesuatu yang sangat salah dengan anak-anak mereka.
"Apa kau tidak merasa aneh melihat mereka berdua?" bisik Raymond saat mereka berpapasan di lorong sepi.
Arthur menunduk, tidak berani menatap mata Raymond. "Aku sering merasa Julian bukan bagian dariku. Tapi itu tidak mungkin, kan? Esther tidak mungkin mengkhianatiku."
Raymond terdiam. Ia juga ingin memercayai Celine. Mereka berdua terjebak dalam ketidaktahuan yang menyiksa, sementara istri-istri mereka, Esther dan Celine, berdiri tidak jauh dari sana dengan wajah pucat pasi. Kedua wanita itu tahu bahwa bom waktu yang mereka tanam sepuluh tahun lalu kini sedang menghitung mundur menuju ledakan.
Bayang-bayang ayah yang salah itu kini menghantui setiap makan malam dan setiap pelukan keluarga. Sebuah kebenaran yang terkunci rapat, kini mulai menuntut untuk diakui, meski harus menghancurkan segala yang mereka miliki.
BACA JUGA
Post a Comment