Karma Cinta: Pengakuan
Hujan turun begitu lebat hingga pandangan ke luar jendela kabin kayu ini hanya menyisakan warna putih buram. Udara di dalam ruangan utama terasa lebih dingin daripada badai di luar. Kayu-kayu di perapian berderak, sesekali memercikkan api yang menerangi wajah-wajah yang tegang.
Arthur, Raymond, Esther, dan Celine duduk mengelilingi meja kayu bundar. Anak-anak sudah dikirim ke kamar lantai atas sejak sore. Namun, keberadaan mereka tetap terasa seperti beban yang menekan langit-langit. Sejak sampai di kabin ini, Raymond tidak bisa berhenti menatap Julian, lalu menatap Arthur, mencari-cari jawaban atas kemiripan yang mustahil itu di dalam kepalanya.
Raymond menuangkan wiski ke empat gelas dengan tangan yang kasar. Bunyi cairan yang membentur kaca terdengar nyaring di tengah kesunyian yang mencekam.
"Aku merasa kita semua sedang berpura-pura," suara Raymond memecah keheningan. Suaranya berat dan penuh tekanan. "Arthur, apa kau pernah merasa Julian sama sekali tidak terlihat sepertimu? Terkadang saat aku melihatnya, aku merasa seperti sedang melihat cermin."
Arthur tertegun, gelasnya tertahan di udara. "Maksudmu apa, Raymond? Dia anakku. Mungkin dia hanya mewarisi garis wajah yang umum di antara kita."
"Jangan membodohi diri sendiri!" bentak Raymond sambil berdiri. Ia tidak tahu apa yang terjadi sepuluh tahun lalu, tapi instingnya mulai berteriak. "Adrian juga begitu. Dia lebih jangkung, gerakannya lebih halus, persis sepertimu. Dia tidak punya satu pun sifat dariku. Apa yang sebenarnya terjadi, Celine?"
Celine menegang, tangannya mencengkeram lutut hingga buku jarinya memutih. Di sisi lain, Esther hanya bisa menunduk dalam-dalam. Ketakutan itu akhirnya sampai pada puncaknya. Mereka telah membohongi suami mereka selama sepuluh tahun belakangan.
Nafsu dan kemarahan yang sudah dipendam selama bertahun-tahun meledak. Raymond merangsek maju, mencengkeram kerah baju Arthur. Di bawah sorot lampu yang remang, kemarahan itu berubah menjadi gairah yang menyimpang. Raymond mencium Arthur dengan liar di depan istri mereka. Sebuah tindakan untuk menegaskan dominasi sekaligus melampiaskan kebingungan yang menyiksa jiwanya.
Arthur tidak membalas dengan kata-kata. Ia justru membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama besarnya. Mereka bergulat di lantai depan perapian, saling melucuti pakaian dengan gerakan yang brutal. Mereka melakukan hubungan itu seolah ingin mencari jawaban melalui tubuh satu sama lain.
Di sofa yang hanya berjarak beberapa langkah, Esther menarik Celine ke dalam pelukannya. Rasa sayang yang tumbuh selama beberapa tahun terakhir meledak menjadi kebutuhan untuk saling menguatkan di tengah kehancuran. Esther mencium Celine dengan penuh tangis.
"Maafkan aku... maafkan aku..." bisik Esther di sela-sela ciumannya. Ia menangis karena ia tahu kebenaran yang tidak diketahui Arthur. Ia melihat suaminya sedang bersetubuh dengan pria yang sebenarnya adalah ayah biologis dari anaknya.
Di atas lantai kayu yang kasar, di bawah sorotan api perapian, pemandangan itu sangat mengerikan. Arthur dan Raymond melakukan hubungan seksual yang penuh dengan kekerasan fisik, saling menghujamkan tubuh seolah ingin menghancurkan satu sama lain. Sementara itu, Esther dan Celine saling membelai dengan air mata yang terus mengalir, mencoba menelan pahitnya kebohongan yang mereka simpan.
Saat itulah, pintu di lantai atas terbuka sedikit.
Tanpa sadar, ada Julian dan Adrian yang berdiri menyaksikan pemandangan yang menghancurkan nalar mereka. Julian melihat pria yang ia panggil "Ayah" sedang berada di bawah pria lain. Adrian melihat ibunya sedang berciuman mesra dengan istri pria lain.
"Ayah...?" suara Julian yang gemetar memecah kegilaan di ruangan itu.
Semua gerakan terhenti. Arthur mendongak dengan wajah penuh peluh. Namun, sebelum ia sempat berbicara, Raymond yang sudah kehilangan kendali emosi berteriak ke arah tangga.
"Karena kita semua pembohong, Julian! Karena aku merasa kau adalah anakku, bukan anak dia!"
Kalimat itu bagai petir yang menyambar. Esther akhirnya tidak tahan lagi. Ia jatuh tersungkur di lantai sambil meraung hancur. "Hentikan, Raymond! Kau benar! Dia memang anakmu! Malam sepuluh tahun lalu itu... aku tidur denganmu karena aku pikir kau adalah Arthur!"
Celine pun ikut berteriak dalam tangisnya, mengakui rahasia serupa tentang Adrian. Pengakuan itu akhirnya keluar secara paksa. Dunia di dalam kabin itu runtuh seketika. Arthur menatap Julian dengan tatapan kosong, menyadari bahwa anak yang ia cintai selama sepuluh tahun adalah hasil dari perselingkuhan.
Malam itu, di tengah hutan yang sunyi, mereka tidak hanya mengkhianati pernikahan, tapi juga telah membunuh jiwa anak-anak mereka dengan kebenaran yang terlalu pahit untuk ditelan.
BACA JUGA
Post a Comment