Karma Cinta: Kehancuran
Sisa hujan semalam masih menetes dari atap kabin, menciptakan bunyi detak yang monoton di atas tanah yang becek. Di dalam ruangan, bau keringat, alkohol, dan abu kayu yang terbakar menyatu. Arthur duduk di sudut ruangan dengan kemeja yang hanya dikancingkan setengah. Matanya menatap kosong ke arah lantai kayu yang menjadi saksi bisu kehancuran harga dirinya.
Di lantai atas, suara isak tangis anak-anak telah berhenti. Kesunyian itu jauh lebih menakutkan, seolah sedang menghakimi setiap napas yang diambil oleh keempat orang dewasa di bawahnya.
Raymond berdiri di dekat jendela, memunggungi semua orang. Tangannya yang besar gemetar saat mencoba menyulut cerutu. Ia baru saja menyadari bahwa ia telah menghancurkan satu-satunya hal yang membuatnya merasa memiliki martabat: statusnya sebagai ayah. Julian, anak yang ia curigai namun ia cintai, kini tahu bahwa ia lahir dari sebuah kesalahan yang menjijikkan.
"Kita harus bicara pada mereka," suara Celine memecah keheningan. Suaranya datar. Jiwanya seolah telah meninggalkan raga. Ia duduk di sofa, merapikan rambutnya yang berantakan.
Esther mendongak dari balik tangannya yang menutupi wajah. Matanya bengkak. "Bicara apa, Celine? Bahwa kita telah membohongi mereka selama sepuluh tahun? Ayah yang mereka kenal selama ini bukanlah pemilik darah yang mengalir di tubuh mereka?"
Arthur tiba-tiba tertawa. Sebuah tawa yang sumbang. "Lucu sekali kalau kita katakan kebenaran ini sekarang. Setiap kali aku memeluk Julian, aku sebenarnya sedang memeluk benih Raymond, begitu?"
Raymond berbalik dengan cepat. Matanya merah. "Jangan berani-berani kau katakan itu lagi, Arthur! Aku yang mengajari Julian berjalan! Aku yang menunggunya setiap malam saat ia sakit, meski aku tidak tahu bahwa dia bukan darah dagingku!"
"Tapi sekarang kau tahu, Raymond! Dan itu mengubah segalanya!" teriak Arthur sambil berdiri. "Kau melihatnya sendiri semalam. Kau melihat bagaimana Julian menatapmu. Dia melihat dirinya sendiri pada dirimu, dan itu membuatnya merasa mual!"
Pertengkaran itu terhenti saat Julian turun dari tangga dengan langkah yang sangat pelan. Ia membawa tas ransel kecilnya. Di belakangnya, Adrian mengikuti dengan wajah yang pucat pasi. Mereka berdua berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh reruntuhan moral orang tua mereka.
Julian menatap Arthur, pria yang selama ini ia panggil ayah. "Jadi, selama ini Ibu tahu? Ibu tahu kalau aku bukan anak Ayah Arthur, tapi Ibu diam saja?"
Esther mencoba mendekat, namun Julian mundur hingga menabrak dinding. Penolakan itu begitu nyata. Esther merasakan sesuatu dalam dirinya patah. Ia menyadari bahwa ia telah kehilangan segalanya. Ia kehilangan kepercayaan suaminya dan cinta anaknya dalam satu malam yang sama.
Celine bangkit dan mencoba memegang tangan Adrian, namun anak itu menepisnya dengan kasar. "Jangan sentuh aku. Kalian semua egois. Kalian membiarkan kami tumbuh dalam kebohongan hanya agar kalian bisa tetap bersama dengan selingkuhan kalian."
Dunia mereka yang selama ini tertutup rapat kini terbongkar. Tidak ada lagi arti dari kata keluarga. Hubungan yang mereka bangun di atas pengkhianatan itu telah benar-benar hancur.
Pagi itu, mereka meninggalkan kabin menuju arah yang berbeda. Pertemuan rahasia di dermaga maupun ciuman sembunyi-sembunyi di taman telah musnah. Hidup mereka kini hanya dipenuhi proses hukum yang dingin serta tuntutan cerai yang saling bersahutan. Anak-anak mereka kini bahkan enggan untuk menyebut nama orang tuanya lagi.
Kenyataan ini memang mengakhiri rahasia mereka, tapi di saat yang sama, hal itu juga menghancurkan hidup mereka sampai tidak ada lagi yang tersisa.
BACA JUGA
Post a Comment