Karma Cinta: Menghilang Bersama Rahasia
Musim dingin kali ini datang lebih awal dengan badai salju yang menyelimuti seluruh kota. Di atas tebing tinggi yang menghadap langsung ke laut lepas, angin menderu sangat kencang. Segalanya kini berwarna putih dan membeku. Tidak ada lagi sisa warna dari taman kota yang dulu menjadi tempat pertemuan rahasia.
Arthur berdiri di tepi tebing. Kakinya tenggelam dalam salju tebal. Ia tidak mengenakan mantel, namun rasa dingin di kulitnya tidak sebanding dengan kekosongan yang ia rasakan di dalam dada. Hidupnya sudah habis. Sebulan lalu, pengadilan memutuskan hak asuh anak jatuh ke tangan negara karena kondisi mental kedua keluarga yang dinyatakan tidak stabil oleh dokter. Julian menolak melihat wajahnya. Adrian bahkan tidak mau menyebut namanya lagi.
Suara langkah kaki yang berat mendekat dari belakang. Raymond muncul dari balik kabut salju. Wajahnya tampak sangat tua dan kuyu. Matanya cekung, kehilangan binar tajam yang dulu selalu membuat Arthur bertekuk lutut. Raymond berhenti tepat di belakang Arthur. Kehadirannya terasa seperti akhir dari segalanya.
"Kau datang juga," suara Arthur nyaris hilang ditelan angin.
"Aku tidak punya tempat lain untuk pulang," jawab Raymond datar. "Celine sudah pergi kemarin malam. Aku menemukannya di bak mandi setelah ia menelan semua obat tidurnya. Tubuhnya sudah sedingin salju ini."
Arthur tertegun. Ia memejamkan mata rapat-rapat. Esther pun sudah lama menghilang, melarikan diri entah ke mana setelah menghancurkan semua barang di rumah mereka. Mereka berempat telah hancur, dan sekarang mereka hanya menyisakan raga yang tidak diinginkan oleh siapapun.
Raymond melangkah maju, berdiri tepat di samping Arthur. Ia meraih tangan Arthur. Genggaman itu masih kuat, namun tidak ada lagi harapan di dalamnya. Yang tersisa hanya keputusasaan dua orang yang sedang tenggelam dan mencoba saling berpegangan untuk terakhir kali.
"Anak-anak itu akan tumbuh besar dengan rasa benci pada kita," gumam Raymond.
"Itu adalah satu-satunya hal jujur yang kita tinggalkan untuk mereka, Raymond. Kebencian adalah satu-satunya kebenaran yang tidak kita palsukan selama ini," balas Arthur dengan senyum getir.
Tiba-tiba, Raymond menarik tubuh Arthur dengan kasar. Ia seolah ingin menghancurkan jarak di antara mereka. Di tepi jurang yang mematikan itu, mereka bercumbu dengan hebat penuh nafsu yang bercampur dengan rasa sakit yang luar biasa. Mereka saling melumat, saling menggigit, dan saling menyesap napas satu sama lain di tengah badai yang membekukan.
Tangan Raymond merayap ke balik kemeja tipis Arthur, mencengkeram kulitnya hingga memar. Arthur menjambak rambut Raymond dengan kekuatan penuh. Ciuman itu terasa asin karena air mata yang membeku dan pahit karena penyesalan. Mereka saling memuja sekaligus saling menghancurkan dalam satu pergumulan panas di atas salju dingin. Perbuatan ini menjadi cara mereka merayakan kehancuran sebelum segalanya benar-benar berhenti.
Setelah napas mereka beradu dalam sesak yang panjang, Raymond menatap mata Arthur untuk terakhir kalinya. Di dalam mata itu, ia melihat kehancuran dirinya sendiri.
"Aku mencintaimu, Arthur. Dan itulah sebabnya kita tidak bisa terus hidup seperti ini."
Tanpa aba-aba, Raymond memeluk Arthur dengan sangat erat. Mereka saling mengunci tubuh dalam satu tarikan napas terakhir. Dalam satu gerakan yang pasti, mereka melangkah maju melampaui tepi tebing.
Tubuh mereka jatuh ke bawah, menembus kabut putih tebal yang menutupi pandangan. Suara hantaman keras terdengar saat raga mereka menghantam karang-karang tajam yang menonjol di bawah tebing. Benturan itu menghancurkan segalanya seketika. Tak lama kemudian, ombak besar datang menyeret sisa raga mereka ke tengah laut yang hitam pekat dan sangat dingin. Darah yang keluar langsung encer dan hilang ditelan air laut yang terus bergejolak. Mereka hilang tak bersisa, tidak lagi membawa beban soal identitas anak-anak yang tertukar.
Keesokan paginya, salju turun semakin lebat dan menutupi semua jejak kaki yang tersisa di tepi tebing. Permukaan tanah kembali rata dan putih. Arthur dan Raymond seolah memang belum pernah menginjakkan kaki di situ.
Di dua panti asuhan yang berbeda, Julian dan Adrian duduk diam menatap cermin. Mereka melihat garis wajah sendiri yang selama ini dianggap mirip dengan pria yang membesarkan mereka. Kini mereka tahu rupa itu sebenarnya berasal dari pria lain. Rahasia tentang siapa ayah mereka yang sebenarnya tetap terkubur di dasar lautan, meninggalkan luka yang tidak akan pernah bisa disembuhkan.
BACA JUGA
Post a Comment