Akhir Kisah: Kenangan yang Memudar

Suatu hari di Minggu sore, setelah melakukan pergulatan badan yang hebat dan melelahkan.

"Kamu tuh kayak punya dunia sendiri ya, Nan," ujar Kevin. Kevin mengusap rambut Nando yang masih basah oleh keringat. 

Nando hanya tersenyum tipis. "Maksudnya?" 

"Ya... kamu di sini, tapi kadang matamu kayak lagi nyari sesuatu yang jauh di sana. Tapi ya sudahlah, yang penting sekarang kamu sama aku," Kevin mengecup dahi Nando, lalu beranjak untuk mengambil minum. 

Nando merasa bersalah. Benar-benar merasa bersalah. Ia menyayangi Kevin; ia menyukai bagaimana Kevin tidak pernah menghakiminya. Namun, rasa bersalah itu tidak cukup kuat untuk menghentikan jempolnya. 

Di bawah bantal, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi dari Adrian. 

***

Adrian, seorang arsitek lanskap, kenalan Nando di aplikasi beberapa minggu lalu. Ia benar-benar tenang dan berwawasan, sangat berbeda dengan Kevin yang liar. Adrian memiliki suara bariton yang menenangkan dan cara bicara yang sangat dewasa. 

Nando awalnya hanya berniat menjadikan Adrian teman chat untuk mengisi waktu luang saat Kevin sibuk bekerja. Namun, percakapan mereka berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam. Adrian banyak bercerita tentang berbagai hal, mulai dari filosofi taman, tentang bagaimana tanaman butuh waktu untuk tumbuh, dan tentang kesepian di tengah keramaian kota. 

"Aku nggak suka hubungan yang terburu-buru, Nando. Aku ingin kita saling mengenal lebih dalam," tulis Adrian suatu malam. 

Kata-kata itu membuat Nando terpaku. Ia merasa tertantang. Ia merasa Adrian adalah potongan puzzle yang hilang, yang tidak dimiliki oleh Kevin. 

Akhirnya, Nando merencanakan kencan pertama dengan Adrian, meski statusnya masih menjadi kekasih Kevin. 

Pertemuan dengan Adrian terjadi di sebuah galeri seni. Adrian tampil elegan dengan kemeja hitam yang pas di tubuh atletisnya. Wajahnya kebarat-baratan, dengan rahang tegas dan mata yang teduh. Nando langsung merasa terintimidasi sekaligus terpesona. 

Mereka menghabiskan malam dengan berdiskusi tentang lukisan, lalu berakhir di sebuah restoran privat. Di sana, untuk pertama kalinya, Nando merasa ia benar-benar bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus berpura-pura menjadi si nakal seperti saat bersama Kevin. 

"Kamu luar biasa, Nan. Aku merasa ada koneksi yang beda sama kamu," ujar Adrian sambil menggenggam tangan Nando di atas meja. 

Nando merasakan sensasi listrik yang sama seperti saat ia pertama kali bertemu Daniel. 

Malam itu, Nando membawa Adrian ke sebuah hotel—bukan ke apartemennya, karena di apartemennya masih ada sisa-sisa keberadaan Kevin. 

Hubungan intim dengan Adrian terasa sangat berbeda. Jika dengan Kevin segalanya terasa seperti ledakan bom waktu, dengan Adrian segalanya terasa seperti irama tarian yang melambat waktu demi waktu dan dipenuhi oleh perasaan tulus. Adrian memperlakukan tubuh Nando seolah itu adalah karya seni yang rapuh. Nando terhanyut semakin dalam, hingga ia merasa memiliki dua dunia yang sempurna. 

Minggu-minggu berikutnya adalah maraton kebohongan melelahkan yang memicu adrenalinnya. 

Senin sampai Rabu, ia menjadi kekasih yang manja bagi Kevin. Mereka pergi ke klub, minum-minum, dan berakhir dengan seks liar. Sedang Kamis sampai Sabtu, ia menjadi pasangan yang romantis dan suportif bagi Adrian. Mereka pergi ke konser klasik, makan malam tenang, dan membicarakan masa depan. 

Nando merasa ia adalah pesulap ulung yang bisa memberikan cinta tulus kepada keduanya. Tapi, ia sering kali harus menelan ludah saat Kevin bertanya, "Kok tumben malam jumat nggak bisa ketemu?" atau waktu Adrian mengirim pesan sayang saat ia sedang berada di pelukan Kevin. 

Namun, ia tidak sadar bahwa kenangannya tentang Daniel mulai memudar. 
BACA JUGA