Akhir Kisah: Nafas Terakhir
Kekhawatiran Nando pada Adrian terus berputar di kepalanya. Nando terus mencoba menghubungi Adrian. Puluhan pesan dikirim, mulai dari permohonan maaf yang histeris hingga ancaman bahwa ia akan menyakiti diri sendiri jika Adrian tidak menjawab. Namun, ponsel Adrian tetap tidak aktif.
Tiga hari kemudian, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
[ "Nando, ini saudara Adrian. Adrian ada di Rumah Sakit Medika. Dia ingin bertemu denganmu. Mungkin untuk terakhir kalinya." ]
Dunia Nando serasa runtuh. Tanpa berpikir panjang, ia menyambar kunci mobil dan memacu kendaraannya melintasi kemacetan kota dengan air mata yang mengaburkan pandangannya.
Di ruang perawatan intensif yang berbau antiseptik tajam, Nando menemukan sosok pria yang ia puja, Adrian, yang kini sedang terbaring lemah. Tubuhnya dikelilingi kabel-kabel dan selang oksigen yang terpasang di hidungnya. Wajahnya yang kebarat-baratan itu kini nampak transparan, seolah nyawanya sudah siap untuk melayang keluar.
Nando jatuh terduduk di samping tempat tidur, menggenggam tangan Adrian yang dingin. "Dan... maafkan aku... tolong, jangan seperti ini," isak Nando pecah.
Adrian membuka matanya perlahan. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum yang paling menyedihkan yang pernah dilihat Nando. "Kamu... akhirnya datang, Nan."
"Kenapa kamu nggak pernah bilang, Ian? Kenapa kamu sembunyiin penyakit ini?"
Adrian terbatuk pelan, sebuah suara yang terdengar menyakitkan dari dalam dadanya. "Kanker paru-paru stadium akhir bukan topik yang enak untuk kencan pertama, kan?" Adrian mengambil napas pendek. "Aku tahu aku akan pergi. Itu sebabnya aku mencari sesorang di aplikasi itu... aku hanya ingin merasakan dicintai layaknya orang normal sebelum semuanya berakhir. Aku ingin berpura-pura bahwa aku punya masa depan yang cerah bersama seseorang."
Nando tersedak oleh rasa bersalah yang begitu hebat hingga ia merasa sulit bernapas. Saat ia sedang sibuk bermain-main dengan Kevin dan pria-pria di aplikasi kencan, Adrian sedang berjuang melawan maut sendirian, hanya untuk memberikan Nando sisi terbaik dari dirinya.
"Aku benar-benar mencintaimu, Ian. Demi Tuhan, meskipun ada Kevin, hatiku hanya untukmu," bisik Nando, mengecup jemari Adrian berkali-kali.
Adrian menatap langit-langit kamar dengan mata yang mulai sayu. "Aku tahu, Nan. Aku merasakannya setiap kali kita bersama. Tapi... cinta saja tidak pernah cukup bagi orang sepertimu, ya? Kamu selalu butuh lebih banyak, satu cinta tidak akan cukup untuk menyelamatkanmu."
Adrian meremas tangan Nando dengan sisa kekuatannya yang terakhir. "Janji padaku... setelah aku pergi, berhenti mencari-cari lagi. Berhenti menyakiti dirimu sendiri dengan mencari orang lain untuk memenuhi ruang di hatimu."
"Aku janji, Ian. Aku janji," raung Nando.
Namun, janji itu terlambat diucapkan. Monitor di samping tempat tidur mulai mengeluarkan suara bip yang panjang dan datar. Meski mata Adrian terbuka dan menatap kosong ke arah Nando, namun jiwanya sudah tidak lagi berada di sana.
Adrian meninggal dalam pelukan Nando, membawa serta rahasia tentang betapa besarnya ia memaafkan pengkhianatan yang dilakukan oleh Nando.
Nando keluar dari rumah sakit dengan langkah gontai. Ia telah kehilangan dua orang dalam satu yang sangat amat singkat.
Ia duduk di dalam mobilnya di parkiran rumah sakit, terdiam dalam kegelapan. Secara refleks, tangannya meraih ponsel, kebiasaan membuka aplikasi kencan muncul kembali.
Namun, saat ia menatap layar ponselnya, ia melihat wallpaper foto dirinya bersama Adrian yang tersenyum di taman. Di sampingnya, masih ada notifikasi pesan lama dari Kevin yang belum ia hapus.
[ "Aku benci kamu, tapi aku lebih benci fakta kalau aku nggak bisa berhenti mikirin kamu." ]
Nando melempar ponselnya ke kursi penumpang. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa jijik pada dirinya sendiri. Ia merasa seperti pembunuh.
BACA JUGA
Post a Comment