Akhir Kisah: Penolakan
Setelah pemakaman Adrian, Nando hanya bisa berdiri dan melihat dari kejauhan. Ia merasa tak pantas bersanding dengan keluarga Adrian yang sedangberduka—mungkin karena ulahnya.
Tidak lama, Nando pun pulang dengan sisa kekuatan yang tidak bersisa. Apartemennya kini benar-benar sunyi, tanpa ada canda-tawa dari orang yang ia sayangi.
Pikiran Nando sudah benar-benar tidak tidak karuan akibat tragedi yang terjadi beberapa waktu ini. Di tengah duka yang mendalam atas kematian Adrian, ego Nando berbisik bahwa ia tidak boleh kehilangan segalanya.
Tanpa sadar, pikiran Nando untuk bersama Kevin langsung menyerang. Ia butuh Kevin untuk meyakinkannya bahwa ia masih hidup, masih layak dicintai. Ia butuh pelukan kasar Kevin untuk menenggelamkan rasa bersalahnya pada Adrian.
Nando mencoba menghubungi Kevin lagi. Namun, nomornya sudah tidak aktif. Ia mendatangi apartemen Kevin, namun satpam di sana mengatakan bahwa Kevin sudah pindah sejak dua hari lalu, dan cuma bilang kalau dia mau pulang ke kota asalnya.
Nando merasa seperti orang gila. Ia mencari Kevin ke tempat-tempat yang biasa mereka datangi—klub malam, tempat gym, hingga kafe favorit mereka. Hasilnya nihil. Kevin benar-benar menghapus semua jejaknya dari kehidupan Nando. Nando merasa bahwa dirinya tidak diberikan kesempatan untuk meminta maaf, dan panggung untuknya bersandiwara lagi.
Hingga suatu hari, sebuah paket berupa kotak sepatu tiba di apartemen Nando. Isinya semua barang milik Nando yang tertinggal di tempat Kevin: sebuah jam tangan, beberapa kaos, dan sebotol parfum. Di dasarnya, terdapat sepucuk surat pendek.
"Nando, kematian Adrian adalah takdir dari Tuhan yang nggak bisa kita lawan. Tapi hubungan kita? Itu adalah kesalahan. Kita beneran nggak jodoh, Nando. Aku pergi bukan karena aku nggak sayang, tapi karena aku sadar kita nggak akan pernah bisa bersama. Kamu tidak cukup hanya dengan satu orang, sedangkan aku cuma butuh satu orang pasangan. Jangan cari aku lagi, ya!"
Nando meremas surat itu hingga hancur. Kalimat "Kita beneran nggak jodoh" terasa lebih menyakitkan daripada makian apa pun. Ia merasa ditampar oleh fakta, dan itu jauh lebih menyakitkan daripada ditinggal karena amarah.
Kehilangan Adrian oleh maut dan Kevin oleh kenyataan membuat Nando jatuh ke lubang hitam yang paling dalam. Ia mulai tidak masuk kerja, menghabiskan malam-malamnya hanya dengan meminum wiski murah sambil menatap layar ponselnya.
Namun, bisikan setan itu mulai memanggilnya lagi. "Ayo, Nando," bisik suara di kepalanya. "Cari yang baru. Hanya satu swipe kanan, dan rasa sakit ini akan hilang tertutup gairah baru."
Dengan tangan gemetar karena pengaruh alkohol, Nando mengunduh kembali aplikasi kencan yang sempat ia hapus itu. Ia memasang foto profil barunya, dengan wajah yang terlihat lebih tirus, sorot mata yang tampak lebih kosong namun tetap memikat bagi mata yang tidak tahu.
Dalam hitungan menit, match berdatangan. Salah satunya seorang pria bernama Ray.
Ray berbeda dari semua pria yang pernah ditemui Nando, seorang relawan di sebuah yayasan kanker. Ia sangat lembut, penuh perhatian, dan ia tahu kalau Nando sedang terluka.
"Aku nggak butuh kamu jadi sempurna, Nando. Aku cuma ingin ada di sampingmu saat kamu jatuh dan terluka," tulis Ray dalam sebuah pesan yang sangat menyentuh.
Beberapa waktu berlalu, mereka memutuskan untuk bertemu pertama kali di sebuah taman. Ray, dengan wajah yang sangat tenang, tipikal wajah orang yang sudah selesai dengan dunia menatap Nando dengan penuh perasaan.
Nando merasakan dorongan itu lagi, dorongan untuk mengikat seseorang melalui hubungan badan. Gejojak untuk membawa Ray ke ranjangnya malam itu juga sudah tidak bisa ia kontrol lagi. Ia ingin menggunakan tubuh Ray untuk melupakan duka yang sedang melandanya.
Namun, saat Ray menggenggam tangan Nando dan menatapnya dengan ketulusan yang dalam, sesuatu di dalam diri Nando berontak.
Nando melihat dirinya di mata Ray yang jernih itu bagai seorang monster. Ia menyadari, bahwa jika ia menyentuh Ray, dan menjadikan pasangannya, maka Ray akan menjadi korban berikutnya.
Nando menarik tangannya dengan kasar.
"Ada apa, Nan?" tanya Ray bingung.
"Jangan... jangan cintai aku, Ray. Aku nggak pantas untuk kamu," bisik Nando, suaranya tercekat.
Nando berdiri dan berlari meninggalkan Ray yang terpaku di bangku taman.
BACA JUGA
Post a Comment