Akhir Kisah: Keputusan Tak Terduga

Selama berminggu-minggu setelahnya, Ray terus mengirimkan pesan—bukan pesan menuntut, melainkan pesan-pesan kecil seperti, "Aku harap harimu tenang," atau "Jangan lupa makan, dunia masih membutuhkanmu." 

Nando membacanya dengan dada yang sesak. Di satu sisi, ia sangat ingin menarik Ray ke dalam pelukannya, menciumnya hingga ia bisa melupakan masa lalunya. Namun, di sisi lain, ia sadar, dan mungkin tindakannya itu akan menghancurkan Ray, dan ia tak mau. 

Suatu malam, dalam keputusasaan yang memuncak karena kesepian, Nando mengundang Ray ke apartemennya. Ia sudah menyiapkan segalanya—lampu yang diredupkan, sebotol wine, dan dirinya sendiri yang hanya mengenakan jubah mandi sutra. 

Tidak lama, Ray datang, ia membawa sekotak buah dan sebuah buku puisi. Ketika ia melihat atmosfer di apartemen Nando dan langsung mengerti apa yang sedang dicoba dilakukan oleh pria di depannya. 

"Nan, duduklah," ujar Ray lembut. Ia tidak menyentuh gelas anggur yang baru saja dituangkan Nando. 

"Kenapa? Kamu nggak suka?" Nando mendekat, mencoba mencium leher Ray, tangannya mulai merayap ke balik kemeja Ray dengan gerakan yang terlatih. "Aku kangen kamu, Ray. Aku butuh kamu malam ini." 

Ray memegang tangan Nando, menghentikan pergerakannya. Ia menatap Nando dalam-dalam. "Nando, kamu nggak butuh seks. Kamu butuh memaafkan dirimu sendiri." 

Nando mematung. Kata-kata itu lebih tajam daripada tamparan Kevin. 

"Aku mencintaimu, Nando. Aku benar-benar bisa mencintaimu," lanjut Ray. "Tapi aku nggak akan membiarkan kamu menyentuhku malam ini hanya supaya kamu bisa merasa kotor lagi besok pagi." 

Nando mundur selangkah, rasa malu yang luar biasa membakar wajahnya. Ia merasa jiwanya sedang ditelanjangi. Selama ini, semua pasangannya—Daniel, Kevin, Adrian—selalu memberikan apa yang Nando inginkan (kehangatan, gairah, atau perlindungan). Tapi Ray memberikan apa yang Nando butuhkan: sebuah cermin. 

"Kamu terlalu baik, Ray," isak Nando, akhirnya runtuh di lantai. "Aku ini rusak. Aku mencintai Adrian tapi aku selingkuh dengan Kevin. Aku mencintai Kevin tapi aku mencari Adrian. Dan sekarang ada kamu, dan aku sudah terpikir untuk mencari orang lain lagi di aplikasi itu hanya karena aku takut kamu akan meninggalkanku suatu hari nanti." 

Ray berlutut di depan Nando, dan menggenggam tangan Nando dengan erat. "Ketakutanmu akan kehilangan adalah alasan kenapa kamu selalu kehilangan segalanya, Nan." 

Malam itu, Ray pulang setelah memastikan Nando tenang. Sebelum pergi, ia berkata, "Aku akan selalu ada di sini, tapi aku nggak akan memaksakan diriku untuk masuk ke duniamu kalau kamu masih ingin menjadi dirimu yang sebelumnya. Pilihannya ada di tanganmu, Nando. Menjadi orang yang mencintai, atau menjadi orang yang terus mencari." 

Setelah kejadian malam itu, Nando menatap ponselnya. Ada tiga pesan baru dari pria-pria berbeda di aplikasi kencan. Ada satu ajakan untuk bertemu malam ini juga. 

Jempol Nando melayang di atas layar. Kebiasaannya selama bertahun-tahun berteriak agar ia membalas pesan-pesan itu. "Ayo, lupakan Ray. Dia terlalu rumit. Cari yang gampang saja," bisik setan di telinganya. 

Nando melihat ke arah cermin besar di ruang tamunya. Ia melihat seorang pria yang terlihat lelah, pria yang sudah membunuh cinta sejatinya dengan tangannya sendiri, dan pria yang kini hampir menghancurkan satu-satunya orang suci yang tersisa dalam hidupnya. 

Dengan air mata yang mengalir tanpa suara, Nando melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan dengan sungguh-sungguh sebelumnya. Kali ini, ia tidak hanya menghapus aplikasi itu; ia menghapus akunnya secara permanen, memblokir semua nomor pria-pria di kontaknya, termasuk Ray. 

Nando melakukan itu semua bukan karena ia tidak mencintai Ray. Justru karena ia terlalu mencintai Ray. Nando sadar bahwa selama ia masih belum bisa berubah, ia hanya akan membawa duka bagi Ray. 
BACA JUGA