Akhir Kisah: Sendiri
Kini, apartemen itu benar-benar senyap. Tidak ada lagi getaran notifikasi, tidak ada lagi aroma parfum orang asing yang tertinggal di sprei, dan tidak ada lagi suara tawa yang dipaksakan untuk menutupi kebohongan.
Nando duduk di balkon, menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip seperti jutaan mata yang menghakiminya. Ia telah membuang segalanya dan memilih mengasingkan diri dengan dunia luar.
Bulan-bulan berlalu, berganti menjadi tahun. Nando menjalani hidupnya seperti sebuah mesin yang berjalan statis. Ia pergi bekerja, pulang ke rumah, makan dalam diam, dan tidur di sisi ranjang yang sama setiap malam, membiarkan sisi lainnya diisi dengan kekosongan.
Kadang-kadang, bisikan setan itu muncul kembali. Jarinya pun refleks meraba layar ponsel, mencari ikon aplikasi yang dulu menjadi candunya. Namun, setiap kali dorongan itu muncul, ia teringat pada kisah lalunya yang kelam.
Nando menyadari satu hal yang sangat pahit: Mencari cinta sejati adalah perjalanan yang sia-sia jika pelancongnya sendiri tidak tahu cara menghargai tempat persinggahannya.
Ia pernah memiliki segalanya—kelembutan Daniel, gairah Kevin, kedalaman rasa Adrian, dan ketulusan Ray. Cinta sempurna yang diimpikan banyak orang, namun ia menghancurkan semuanya hanya karena ia tidak bisa berhenti merasa kurang.
Suatu sore di musim hujan, Nando sedang berdiri di depan sebuah toko buku untuk berteduh. Dari kejauhan, ia melihat sosok yang sangat ia kenal, Ray.
Ray tampak sedang tertawa, memayungi seorang pria lain yang tampak jauh lebih muda dan memiliki binar mata yang cerah—binar yang dulu pernah dimiliki Nando sebelum ia dirusak oleh egonya sendiri. Mereka terlihat sangat bahagia.
Nando segera memalingkan wajah, menarik tudung jaketnya lebih dalam. Jantungnya berdegup kencang, pertanda munculnya rasa malu yang teramat luar biasa, juga rindu. Ia ingin berlari ke arah Ray, berlutut, dan memohon ampun. Namun, ia sadar, jika ia melakukannya, itu bukan lagi cinta namanya. Mungkin, membiarkan Ray bahagia dengan orang yang lebih baik adalah satu-satunya bentuk cinta tulus yang bisa Nando berikan.
Nando melihat mereka masuk ke dalam sebuah mobil dan berlalu, meninggalkan Nando sendirian di bawah guyuran hujan yang semakin deras.
Nando berjalan pulang menembus hujan, membiarkan pakaiannya melekat dengan dingin dan basah di tubuhnya. Rasa sakit ditubuhnya yang mulai menjalar terasa seperti kawan lama, satu-satunya hal yang cukup kuat untuk membungkam teriakan penyesalan di dalam jiwanya yang hancur.
Sesampainya di apartemen, ia berdiri kaku di depan cermin kamar mandi. Pantulan di sana menunjukkan garis-garis keletihan yang dalam dan uban yang mulai menyelinap di sela rambut hitamnya. Raut wajah tampannya yang kini terlihat hampa, seperti bungkus kado mewah yang isinya telah lama hilang.
Tangannya yang gemetar meraih ponsel, benda yang dulu menjadi pusat semestanya. Ia membuka galeri foto tersembunyi, lalu menatap potret Adrian yang sedang tersenyum lebar di sebuah taman. Satu-satunya bukti terakhir akan keberadaan malaikat pernah singgah dalam hidupnya.
"Aku sudah membayar harganya," bisiknya lirih ke arah layar. "Kesendirian ini adalah milikku sekarang. Selamanya."
Nando mematikan lampu, menenggelamkan apartemennya dalam kegelapan. Ia melangkah menuju ranjang dengan sisa tenaga yang ada. Aplikasi kencan, gairah sesaat dengan orang asing, atau mimpi tentang cinta sejati telah ia kubur dalam-dalam. Menyerah adalah satu-satunya jalan yang tersisa.
Nando menjadikan pengalaman pahitnya sebagai pengingat hidup tentang betapa mahalnya harga sebuah kejujuran. Di dalam kamar yang sepi itu, Nando meringkuk lemas, mendekap tubuhnya sendiri, dan membiarkan air mata terakhirnya membasahi bantal demi setiap lelaki yang pernah ia hancurkan hatinya.
Napas Nando terasa semakin berat dan pendek, seolah udara di kamar itu pun telah jenuh dengan kesedihannya. Setiap tarikan napasnya menjadi perjuangan yang melelahkan, sementara dadanya terasa seperti dihimpit beban tak kasatmata. Detak jantungnya melambat, menciptakan ritme yang sunyi di tengah kegelapan apartemen. Pandangannya perlahan mulai mengabur. Cahaya dari lampu jalanan yang menembus jendela kini nampak seperti bintik-bintik putih yang menari.
Nando perlahan memejamkan mata. Di ambang batas antara sadar dan tiada, wajah-wajah itu muncul kembali. Ia seolah melihat Daniel yang tersenyum hangat, Kevin yang tertawa lepas, dan Adrian yang menunggunya di ujung taman yang indah. Nando menghembuskan napas panjang terakhirnya, sebuah pelepasan yang sunyi dari tubuh yang telah lama lelah berpura-pura.
Tangannya yang memegang ponsel perlahan terkulai, jatuh ke atas lantai yang dingin. Layar ponsel itu sempat menyala sekali lagi, menampilkan foto Adrian yang masih tersenyum, sebelum akhirnya mati total seiring dengan berhentinya detak jantung sang pemilik.
Keesokan harinya, tak ada seorang pun yang mencari. Tak ada pesan masuk yang menanyakan kabarnya. Apartemen yang sunyi itu pun menjadi peti mati bagi pria yang menghabiskan hidupnya mencari cinta dengan cara yang salah. Nando pun pergi meninggalkan dunia yang ia sakiti, tanpa sempat mendapatkan pengampunan yang selama ini ia tangisi.
Pada akhirnya, pencariannya benar-benar telah selesai. Nando pun menemukan satu hal yang tidak bisa ia khianati, sebuah takdir Tuhan yang disebut dengan kematian.
BACA JUGA
Post a Comment