Cerpen Cak Kirun: Meletusnya Macan Balon
Siang itu suasana di warung kopi Mak Inun mendadak gerah, bukan karena matahari, tapi karena hawa sombong yang dibawa Bondan. Di tengah ruangan, pemuda berbadan besar itu sedang asyik memamerkan taringnya kepada Yanto, pemuda yatim piatu yang bekerja serabutan di desa. Dengan gerakan yang sengaja dibuat-buat agar ditonton kawan-kawannya, Bondan menggulingkan cangkir kopi panas tepat ke arah sepatu butut Yanto.
"Walah, lihat itu Yan. Sepatumu sekarang jadi sewarna sama tanah. Cocok buat orang yang nasibnya memang di bawah," tawa Bondan meledak, memprovokasi kawan-kawannya untuk ikut bersorak. Yanto hanya mematung, kepalanya tertunduk dalam seolah sedang mencari harga dirinya yang tercecer di antara tumpahan kopi.
Di pojokan, Cak Kirun mengamati semua itu sambil meniup sebuah balon merah bergambar macan. Begitu balon itu mengembang sempurna, ia bangkit dan melangkah tenang menembus barisan tawa itu. Ia memutari Bondan seolah sedang menginspeksi barang antik yang sebenarnya sudah retak.
"Waduh, gagah sekali Mas Bondan ini. Suaranya lantang, badannya bidang, dan hobimu memamerkan kewibawaan memang luar biasa," gumam Cak Kirun pelan sambil mengelus balonnya dengan takzim.
Bondan membusungkan dada, merasa sedang mendapat pujian dari orang yang lebih tua. "Lihat ini Run. Orang kayak Yanto ini memang sesekali harus dikasih pelajaran supaya tahu di mana dia berdiri."
Cak Kirun tersenyum tipis. Ia menyodorkan balon macan itu tepat ke depan wajah Bondan. "Mas, aku mau tanya. Mas Bondan ini kalau aku lihat-lihat, mirip sekali dengan macan di balon ini. Kelihatannya sangar, taringnya tajam menantang, tapi Mas tahu nggak apa yang ada di dalamnya?"
"Apa maksudmu, Run?" Bondan mengernyit, mulai merasa ada yang tidak beres dengan nada bicara Kirun.
Tanpa peringatan, Cak Kirun mengeluarkan jarum kecil dari balik pecinya yang kusam. Dhuarrr!
Suara letusan balon itu membuat Bondan melonjak kaget hingga hampir terjungkal ke belakang. Kawan-kawannya yang tadi tertawa kini ikut terdiam, membeku di tempatnya masing-masing. Di tengah sisa karet merah yang berserakan, Cak Kirun berdiri dengan sangat tenang.
"Macan beneran itu beraninya sama lawan yang sepadan, Mas. Dia cari mangsa yang bisa lari dan melawan. Tapi kalau macan balon, dia cuma kelihatan hebat di depan orang yang lemah dan ketakutan," suara Cak Kirun rendah namun terdengar sampai ke pojok warung. "Mas merasa tinggi karena Yanto diam? Kamu salah. Dia diam karena dia masih punya adab, sesuatu yang sepertinya lupa Mas pelajari meskipun bapakmu orang terkaya di desa ini."
Cak Kirun menatap tajam ke arah kawan-kawan Bondan yang kini sibuk memandangi ujung kaki mereka sendiri. Suasana warung yang tadi bising, kini berubah menjadi sunyi.
"Menindas orang yang nggak bisa melawan itu bukan tanda kekuatan, Mas, tapi tanda kalau kamu itu pengecut paling besar di sini. Mas butuh merendahkan Yanto supaya Mas bisa merasa hebat. Artinya, harga dirimu itu sebenarnya ada di bawah telapak kaki orang yang sedang Mas tindas ini."
Cak Kirun menepuk bahu Yanto, memberinya isyarat untuk berdiri tegak. "Jangan pernah nunduk lagi, Yan. Jiwa orang yang suka merundung itu sebenarnya sedang sakit. Ibarat tong kosong yang bunyinya nyaring karena memang nggak ada isinya. Jangan kasih dia makan dengan rasa takutmu lagi."
Cak Kirun meletakkan uang kopi di meja Mak Inun, lalu mengajak Yanto pindah duduk. Bondan hanya terpaku diam, wajahnya merah padam menahan malu saat melihat teman-temannya mulai menjauhinya satu per satu. Ia menatap sisa karet balon di lantai, menyadari bahwa kegarangannya baru saja kempes oleh satu jarum kecil di tangan seorang pemuda sarungan yang selama ini ia remehkan.
BACA JUGA
Post a Comment