Cerpen Cak Kirun: Ember Pak Tua

Pagi itu, di kantor urusan air desa, Bima sedang sibuk menunjukkan skema digital di layar tabletnya. Ia mencoba menjelaskan bagaimana sensor otomatis bisa mendeteksi kebocoran pipa tanpa harus menunggu warga protes. Namun, Pak Tua yang sedang membolak-balik buku laporan kusam sejak era pipa bambu, hanya mendengus meremehkan.

"Pak, kalau pakai sistem ini, kita tidak perlu keliling desa setiap hari. Cukup pantau dari sini," ujar Bima pelan.

"Heh, Bima! Kamu itu baru kemarin sore di sini. Saya sudah mengurus air desa sebelum kamu tahu caranya kencing!" bentak Pak Tua sambil menggebrak meja hingga cangkir kopinya bergetar. "Tugasmu itu nurut saja, jangan menggurui saya yang sudah makan asam garam di sini. Teknologi itu cuma bikin orang malas!"

Cak Kirun yang sedari tadi sibuk mengencangkan baut keran di pojokan kantor mendadak berdiri. Ia mendekat sambil menjinjing sebuah ember tua yang bolong-bolong dan hanya ditambal lakban di beberapa bagian.

"Pak Tua, nuwun sewu. Saya mau tanya, menurut Bapak ember ini masih bagus tidak kalau saya pakai buat nimba air?" tanya Cak Kirun sambil menyodorkan ember bututnya tepat di depan hidung Pak Tua.

Pak Tua melirik sinis dan mendengus. "Ya jelek, Run! Sudah karatan, bocor, tambalannya nggak bener lagi. Buang saja ke sungai, nggak guna itu!"

Cak Kirun manggut-manggut dengan wajah takzim. "Lho, tapi ember ini senior, Pak. Pengalamannya banyak, sudah menemani saya sejak saya masih bujang. Masa Bapak tega bilang ember senior ini nggak berguna cuma karena ada ember plastik baru yang nggak bocor?"

Pak Tua tersedak kopinya. "Maksudmu apa, Run? Jangan samakan saya dengan ember rongsokan itu!"

"Lah, logika Bapak kan memang begitu," balas Cak Kirun kalem. "Bapak merasa paling benar cuma karena sudah lama mendekam di kantor ini. Padahal dalam urusan air, warga itu cuma butuh airnya sampai ke dapur dengan lancar. Mereka nggak peduli seberapa senior wadahnya. Kalau sebuah wadah sudah bocor dan malah bikin aliran mampet, ya tempatnya memang di gudang rongsokan, Pak, bukan dijadiin pajangan."

Pak Tua tertegun, mulutnya terkunci saat melihat Bima yang kini hanya diam membeku di samping meja.

"Hormat itu datang karena Bapak berguna buat orang lain, bukan karena berapa banyak lembar kalender yang sudah Bapak robek di sini. Kalau Bapak pakai alasan pengalaman cuma buat menghalangi ide anak muda ini, Bapak bukan sedang memimpin, tapi menyumbat saluran air desa kita sendiri."

Cak Kirun mengajak Bima keluar kantor. "Ayo Bim, kita pasang alatmu di luar saja. Warga itu butuh airnya mengalir, bukan butuh dengerin dongeng masa lalu yang cuma bikin saluran jadi buntu."

Pak Tua hanya bisa menatap ember bocor yang tertinggal di mejanya. Ia baru tersadar bahwa mengabdi puluhan tahun bisa jadi tak berarti apa-apa jika ia lebih sibuk memuja usia daripada memastikan air tetap mengalir ke warga.
BACA JUGA