CIN(T)A: Pencarian Tanpa Ujung

Arlan. berdiri dengan jaket winter tebal yang mulai lembab sisa salju semalam. Ia ditemani dengan angin laut di Pelabuhan Reykjavik, Islandia, terasa seperti sembilu yang menyayat kulit. Di sana, Arlan hanya sedang berdiri, menatap hamparan air biru gelap yang luas, mencoba mencari tahu mengapa hatinya masih terasa sekosong cakrawala di depannya. 

Sudah dua tahun Arlan menjadi pengelana. Ia meninggalkan rutinitasnya sebagai seorang insinyur di Jakarta, menukar meja kantor yang rapi dengan ransel besar dan paspor yang kini penuh dengan stempel imigrasi. Teman-temannya sering menyebutnya sedang melakukan pelarian, namun Arlan lebih suka menyebutnya sebagai pencarian. 

"Kopi, Tuan? Ini bisa sedikit menghangatkan raga," suara berat seorang pria tua dengan bahasa Inggris yang kaku mengejutkannya. 

Arlan menoleh, mendapati seorang pelaut lokal menyodorkan gelas plastik berisi cairan hitam pekat yang mengepul. Ia pun menerima gelas itu dengan anggukan sopan. Arlan memang terlihat sangat dingin dari luar, tipikal pria yang irit bicara dan sulit ditebak. Namun, di balik dinginnya itu, ia sebenarnya selalu punya tempat di tasnya untuk memberikan saku penghangat ekstra kepada pendaki yang ia temui di jalan, atau sekadar meninggalkan tip besar bagi pelayan kafe yang terlihat kelelahan. Ia peduli dengan caranya yang sunyi. 

"Mencari seseorang?" tanya pria tua itu lagi. 

Arlan menyesap kopinya. Rasa pahit yang membakar lidah itu sedikit mengalihkan fokusnya dari rasa hampa di dada. "Mungkin. Aku hanya tidak tahu siapa yang kucari." 

Si pelaut tertawa kecil, uap keluar dari mulutnya. "Laut ini luas. Tapi kalau kau terus berenang di air tanpa tahu tujuannya, lama-lama kau akan tenggelam dengan sendirinya." 

Arlan terdiam. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada ombak yang menabrak dermaga. Selama ini, ia telah melintasi perbatasan negara hanya untuk membuktikan bahwa cinta mungkin ada di balik gunung-gunung tinggi di Swiss, atau di sela-sela gang sempit di Italia. Ia pernah mencoba menjalin kedekatan dengan seorang fotografer di Paris, lalu seorang relawan di Peru. Semuanya indah pada awalnya. Namun, entah mengapa, setiap kali sudah mulai membicarakan masa depan, Arlan merasa ada sesuatu yang hilang. Ada kepingan teka-teki yang tidak pas. Ia merasa seolah-olah sedang membaca buku yang ditulis dalam bahasa yang tidak ia kuasai. Ia mengerti alurnya, namun tidak bisa merasakan maknanya. 

Malam itu, Arlan memutuskan untuk meninggalkan Islandia. Ia merogoh ponselnya, mencari tiket pesawat secara acak. Jarinya berhenti pada sebuah penerbangan menuju wilayah yang belum pernah ia jamah, sebuah tempat persinggahan panjang sebelum menuju ke timur jauh. 

Arlan berjalan meninggalkan dermaga. Langkah kakinya terdengar berat di atas aspal yang membeku. Ia tidak tahu bahwa pencarian ini masih akan membawanya berputar jauh, melewati banyak kesalahan komunikasi dan patah hati, sebelum akhirnya ia memahami bahwa takdir seringkali bekerja dengan caranya sendiri, yang terkadang menyayat hati. 

Langkah kaki Arlan membawanya menuju bandara, meninggalkan dinginnya Reykjavik yang membeku. Di dalam pesawat yang membelah awan menuju persinggahan berikutnya di benua Amerika, Arlan menyandarkan kepala pada jendela kecil. Ia melihat lampu-lampu kota di bawah sana yang tampak seperti taburan berlian di atas kain beludru hitam. Indah, namun terlalu jauh untuk dijamah. 

Kali ini, Arlan sampai di Buenos Aires. Ia disambut dengan gairah tarian tango yang meluapkan semangat di setiap sudut jalanan. Di sini, Arlan berharap ritme musik yang bersemangat bisa mengisi kesunyian di kepalanya. 

Arlan menyewa sebuah kamar kecil di atas toko buku tua di kawasan San Telmo. Setiap pagi, ia duduk di bangku taman, memperhatikan pasangan-pasangan tua yang berdansa dengan gerakan kaki penuh irama. 

"Kamu terlalu banyak berpikir, Arlan. Nikmati saja langkahnya," ucap Maria, seorang gadis lokal yang dikenalnya di sebuah kelas bahasa. 

Maria, sosok wanita dengan raut yang selalu nampak ceria. Rambutnya cokelat ikal dan tawanya selalu bisa membangkitkan senyum bahagian untuk siapapun yang mendengarnya. Selama dua minggu, mereka menghabiskan waktu bersama. Maria mengajari Arlan bahwa hidup harus dirayakan, sementara Arlan, dengan sifat perhatiannya yang tersembunyi, selalu memastikan Maria memakai syal saat angin malam bertiup kencang atau menyiapkan obat maag di tasnya karena tahu gadis itu sering lupa makan. 

Pada suatu malam, ketika mereka berdua sedang berjalan di bawah temaram lampu jalanan kota yang khas itu, Maria menghentikan langkahnya. Ia menatap Arlan dalam-dalam, mencari sesuatu di balik mata tenang pria itu. 

"Apa yang sebenarnya kamu cari di sini?" tanya Maria pelan. 

Arlan terdiam. Ia memandang jalanan berbatu yang basah oleh sisa hujan. "Aku mencari rasa yang membuatku ingin berhenti mencari, Maria." 

Maria tersenyum sedih. Ia kemudian meraih tangan Arlan, meremasnya lembut. "Arlan, kamu adalah orang paling baik yang pernah aku temui di perjalanan ini. Kamu menjaga semua orang di sekitarmu dengan sangat teliti. Tapi matamu selalu melihat ke arah lain, seolah-olah kamu sedang menunggu orang lain. Kamu di sini, tapi hatimu sudah berada di tempat lain." 

Kata-kata Maria menyadarkan Arlan. Ia memang bisa memberikan kenyamanan bagi orang lain, meski ia tidak. Perasaannya terhadap Maria hanya sebatas rasa kagum pada sebuah karya seni Tuhan. Ia selalu membatasi diri, supaya tetap merasa asing, bahkan di tengah dekapan yang begitu hangat. 

Seminggu kemudian, Arlan kembali mengemas ranselnya. Ia meninggalkan sepucuk surat dan sebuah buku catatan kecil untuk Maria—sebuah kado perpisahan yang ia pilih dengan hati-hati sesuai dengan kesukannya. 

Arlan terbang menuju Maroko, lalu berpindah ke Turki. Ia melihat matahari terbit di atas balon udara Cappadocia dan merasakan debu padang pasir Sahara yang menempel di pakaiannya. Di setiap tempat, ia bertemu dengan banyak jiwa yang mencari hal yang sama, namun ia tetap merasa seperti orang yang salah masuk rumah. 

Hingga pada suatu hari, saat sedang duduk di sebuah kedai teh di Istanbul, Arlan melihat sebuah peta besar dunia yang terpajang di dinding kayu kedai tersebut. Matanya tertuju pada sebuah wilayah luas di timur. Wilayah yang selama ini hanya ia anggap sebagai titik transit atau sekadar nama di buku sejarah. 

Arlan mengeluarkan paspornya yang sudah mulai usang. Ia membolak-balik halaman yang kosong, lalu tersenyum tipis untuk waktu yang lama. "Mungkin sudah waktunya aku berhenti menebak-nebak," gumamnya pada diri sendiri. 
BACA JUGA