Cerpen Cak Kirun: Piala Sang Musang
Balai desa malam itu tampak gemerlap. Ada acara Malam Penghargaan Tokoh Inspiratif yang dihadiri banyak pejabat penting. Di atas panggung, duduk seorang pria bernama Tuan Musang yang baru saja bebas dari penjara akibat penggelapan dana bantuan sosial. Hebatnya, malam itu ia justru menerima penghargaan sebagai Duta Integritas.
"Tuan Musang membuktikan kalau setiap orang bisa berubah!" seru pembawa acara disambut tepuk tangan riuh para hadirin yang sebagian dulu juga ikut menikmati hasil penggelapannya.
Cak Kirun datang ke acara itu dengan pakaian terbalik. Ia melangkah naik ke panggung tepat saat Tuan Musang hendak menerima piagam berlapis emas. Di tangannya, Cak Kirun membawa piala buatannya sendiri dari kaleng kerupuk bekas dengan hiasan patung tikus yang sedang memegang keju.
"Stop! Tunggu dulu! Saya juga punya piala khusus buat Mas Musang!" teriak Cak Kirun sambil berdiri di depan mikrofon sebelum panitia sempat menghalangi.
Suasana mendadak tegang. Cak Kirun menatap Tuan Musang dengan senyum tipis yang mematikan. "Mas Musang, ini piala spesial buat sampeyan. Saya benar-benar kagum. Orang lain kalau habis gelapin dana biasanya sembunyi karena malu, lah sampeyan kok malah nangkring di panggung bawa piagam."
Tuan Musang berdehem, mencoba menjaga wibawa. "Kirun, saya sudah menjalani hukuman. Saya sekarang ingin menginspirasi orang agar tidak jatuh ke lubang yang sama."
"Menginspirasi gimana?" balas Cak Kirun tajam. "Gelar duta-dutaan begini cuma memicu penjahat makin kreatif menyusun sandiwara. Di negeri ini, seolah nggak masalah gelapin, asal nanti kalau ketangkap hukumannya nggak bikin masa depan suram. Harta penggelapan tetap aman, terus pas keluar tinggal akting tobat pelan-pelan."
Cak Kirun menoleh ke arah barisan pejabat yang duduk di baris depan. "Bapak-bapak juga aneh. Padahal banyak guru honorer puluhan tahun mengabdi, petani yang udah ngasih makan seluruh negeri. Kok ya ngga dapet apresiasi. Eh, malah orang yang jelas-jelas bikin susah rakyat yang dapat? Apa karena kalian semua satu grup WhatsApp?"
Cak Kirun mengangkat piala kaleng kerupuknya tinggi-tinggi ke arah penonton. "Tatanan dunia sudah jungkir balik. Ahli gelapin dana dipuja-puji, orang jujur malah dimaki. Kalau cara menghargai orang sudah begini, lama-lama anak sekolah nggak pengen jadi dokter atau menteri. Mereka bakal bercita-cita jadi penjahat yang pintar akting, biar bisa masuk TV tanpa perlu casting."
Cak Kirun menaruh piala kaleng itu tepat di kaki Tuan Musang. "Bawa saja piagam emasmu itu pulang, Mas. Emas di piagam itu nggak akan bisa menutupi bau busuk yang Mas kubur sendiri. Orang-orang mungkin dipaksa tepuk tangan malam ini, tapi nurani mereka tetap geli melihat sandiwaramu. Kehormatan sejati itu rasa tenang di dalam hati, tanpa perlu divalidasi piagam emas begini."
Cak Kirun turun dari panggung sambil bersiul santai. Tuan Musang hanya berdiri mematung. Piagam emas di tangannya mendadak terasa sangat berat, sementara piala kaleng kerupuk dari Cak Kirun menggelinding jatuh dan mengeluarkan bunyi nyaring yang terdengar seperti suara tawa ejekan.
BACA JUGA
Post a Comment