Cerpen Cak Kirun: Uang Bensin Keadilan

Cak Kirun menemani Pak RT duduk di ruang tunggu kantor polisi. Suasananya sepi, hanya terdengar suara kipas angin yang berputar malas. Di atas meja petugas, tumpukan map laporan terlihat berdebu, seolah sudah lama tidak disentuh.

"Gimana, Pak Petugas? Ada perkembangan soal pompa air saya yang hilang?" tanya Pak RT dengan suara pelan.

Petugas itu menguap lebar sambil terus menatap layar HP-nya. "Aduh, Pak RT. Laporan Bapak masih di tumpukan bawah. Anggota kami sedang fokus urus kasus besar. Lagipula, bensin operasional kami lagi kosong. Susah kalau mau keliling cari barang bukti sekarang."

Cak Kirun yang sejak tadi hanya menyimak, tiba-tiba berdiri. Ia keluar sebentar dan kembali membawa selembar uang seratus ribu yang ia letakkan tepat di depan muka petugas itu.

"Lho, Run! Mau ngapain kamu?" tanya Pak RT kaget.

"Ini bensinnya, Pak," ujar Cak Kirun kalem ke arah petugas. "Katanya tadi nggak bisa jalan karena bensin kosong. Nah, ini saya bawakan bensinnya supaya Bapak bisa langsung jalan cari maling pompa Pak RT."

Petugas itu mendongak, wajahnya memerah. "Maksudmu apa, Run? Kamu mau menyuap saya? Kami kerja sesuai prosedur!"

"Prosedur? Prosedur apaan? Bapak sendiri kan yang tadi bilang laporannya nggak jalan karena bensin kosong," balas Cak Kirun tanpa ragu. "Ternyata hukum kita ini geraknya pakai bensin, bukan pakai pasal-pasal di buku itu," ia menunjuk buku undang-undang yang tergeletak. "Kalau bensinnya ada, laporan Pak RT langsung diurus. Kalau bensinnya nggak ada, ya laporannya cuma ditumpuk saja di meja Bapak, kan?"

Cak Kirun menoleh ke arah tumpukan map di pojokan. "Banyak laporan orang kecil Bapak biarkan berdebu cuma karena mereka nggak punya uang buat beli bensin operasional Bapak. Bapak digaji negara buat jadi pelindung, tapi kenapa di sini Bapak malah bersikap seperti kasir gerbang keadilan?"

Si petugas terdiam, HP-nya ditaruh begitu saja di atas meja.

Cak Kirun menarik kembali uangnya dan mengajak Pak RT berdiri. "Ayo Pak RT, kita cari sendiri saja. Kalau nggak ketemu, mending uang ini buat tambah-tambah beli pompa baru daripada buat beli bensin yang cuma bikin laporan Bapak makin kusam dan nggak jelas ujungnya."

Mereka melangkah keluar, meninggalkan petugas yang hanya bisa terpaku menatap tumpukan map di mejanya dengan perasaan malu yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.
BACA JUGA