CIN(T)A: Rasa yang Salah

Penerbangan dari Istanbul menuju Kyoto terasa sangat panjang. Arlan sengaja memilih Jepang sebagai perhentian terakhir sebelum ia benar-benar masuk ke daratan besar yang terus mengusik pikirannya. Ia merasa perlu mengatur ulang napasnya di negeri yang dikenal dengan keteraturannya itu. 

Kyoto menyambut Arlan dengan guguran daun mapel yang memerahkan jalanan. Di sini, segalanya terasa tenang dan lambat. Arlan menginap di sebuah penginapan kecil di pinggiran kota, tempat suara aliran sungai menjadi satu-satunya suara yang ia dengar saat terbangun. Ia sering menghabiskan waktu di perpustakaan kota atau berjalan menyusuri gang-gang sunyi yang berujung pada kuil tua. 

Di sebuah toko buku bekas di kawasan Teramachi, Arlan bertemu dengan Naomi. Wanita itu bekerja sebagai asisten kurator di sebuah galeri seni. Naomi, sosok wanita dengan pribadi yang teduh dan pendiam. Mereka sering duduk berdampingan di taman kota, masing-masing tenggelam dalam buku di tangan tanpa perlu banyak bicara. 

Arlan merasa bahwa inilah ketenangan yang ia cari. Ia menyukai cara Naomi menyeduh teh. Arlan, dengan kebiasaan lamanya, diam-diam selalu membawakan onigiri hangat saat ia tahu Naomi harus bekerja lembur. 

"Kamu seperti sedang membaca buku dalam kegelapan, Arlan," ujar Naomi suatu sore saat mereka duduk di bawah pohon sakura yang sudah berguguran. 

Arlan menoleh. "Apa maksudmu?" 

"Kamu ada di sini, bersamaku, tapi matamu seolah selalu mencari jalan keluar. Kamu melakukan segalanya dengan baik, tapi aku merasa itu hanya kewajiban, bukan karena hatimu memang ada di sini," Naomi berkata dengan nada selembut sutra. 

Arlan terdiam. Kalimat Naomi mengingatkannya pada Maria. Ia menyadari bahwa di balik kedamaian yang ia bangun di Jepang, ia hanya sedang berusaha melarikan diri dari kenyataan bahwa tujuannya bukan di sini. Ia mencoba memaksakan dirinya untuk menyukai ketenangan ini, sedang hatinya tidak. 

Kesadaran itu semakin menguat saat Arlan mengunjungi sebuah pameran artefak kuno. Ia berdiri lama di depan sebuah peta sutra tua yang menggambarkan jalur perdagangan menuju daratan besar di barat laut. 

Malam harinya, di bawah lampu jalan yang remang, Arlan berjalan bersama Naomi menuju stasiun. 

"Aku akan segera pergi, Naomi," ucap Arlan pelan. 

Naomi menghentikan langkahnya. Ia menatap Arlan dengan mata yang menyimpan pemahaman. "Ke utara?" 

Arlan mengangguk. "Aku harus ke sana. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan dengan diriku sendiri." 

"Pergilah. Jangan biarkan dirimu tertahan di tempat yang hanya kamu anggap sebagai persinggahan. Kamu pantas mendapatkan tempat yang membuatmu nyaman," Naomi tersenyum tipis, lalu melepaskan genggaman tangannya. 

Arlan pergi ke bandara keesokan paginya. Ia tidak sedih meninggalkan tempat kali ini, hanya saja ada rasa bersalah karena ia kembali meninggalkan seseorang yang baik. Namun, rasa penasaran di dadanya jauh lebih besar. Ia merasa bahwa semua langkah salah yang ia ambil di negara-negara sebelumnya adalah cara semesta untuk mengikis egonya. 

Di dalam pesawat menuju Beijing, Arlan memandangi paspornya yang kini hampir penuh. Ia menyadari satu hal: ia sudah berkeliling dunia, melihat puncak gunung hingga dasar lembah di berbagai benua, namun ia tidak pernah benar-benar merasa pulang.

Saat roda pesawat menyentuh landasan di ibu kota itu, Arlan merasakan debaran yang berbeda. Ia merasa seperti seorang prajurit yang akhirnya kembali ke markas setelah kalah di banyak medan perang. Ia siap untuk berhenti. Ia siap untuk menyerah pada takdir yang selama ini ia hindari. 

Arlan melangkah keluar dari gerbang kedatangan. Udara Beijing yang kering dan berdebu langsung menyergapnya. Ia melihat papan nama besar dengan aksara-aksara yang dulu sering diceritakan kakeknya. 
BACA JUGA