Tetesan Air Mata yang Mengendap di Dada

Katanya, saya ini manusia berhati batu. Lebih parahnya, saya sering dituduh tidak punya empati sama sekali hanya karena saya tidak bisa ikut menangis saat melihat kesedihan di depan mata. Jangankan melihat kesusahan orang lain, menonton film drama yang paling menguras air mata pun tidak sanggup membuat mata saya basah. Rasanya aneh, seperti ada yang konslet di dalam diri saya. Tapi mereka tidak tahu, bahwa air mata ini sebenarnya sudah dikuras habis sejak lama. 

Semua yang tersisa dan membentuk saya adalah hasil dari perang batin di masa kecil. Dulu, hampir setiap hari saya harus mendengar suara mereka yang bertengkar hebat di balik kegelapan malam. Sebagai anak kecil yang tidak tahu apa-apa, saya hanya bisa menangis tanpa suara; takut suara ini terdengar, mengalahkan medan perang emosi mereka. Akhirnya, saya terbiasa menelan isakan itu sendiri. Menahan tangis sampai dada terasa sesak teramat luar biasa, seolah oksigen di sekitar saya mendadak hilang dari peredarannya. 

Luka itu makin dalam ketika saya harus menghadapi perundungan di sekolah. Saking seringnya, pada suatu masa saat saya udah menyerah, komitmen untuk mengakhiri hidup langsung menyapa saya. Meski takdir berkata lain, hingga saat ditulisnya fragmen ini, saya masih membersamai kalian menampilkan tarian jemari saya. Di masa-masa itu, saya sudah terlalu sering menangis sendirian. Mungkin karena terlalu sering dipaksa untuk menahan dan menelan semua rasa sakit yang ada, perlahan saluran air mata saya tersumbat oleh trauma. 

Saking seringnya saya membungkam diri untuk tidak bersuara, membuat air mata itu benar-benar mengalami kemarau panjang. Menyebabkan, tidak pernah ada lagi air mata di pipi ini, meski hanya setetes. Sangat amat mustahil, tapi itulah kenyataannya. Orang melihat saya begitu dingin seperti tidak ada kejadian apapun, padahal itu semua adalah bentuk pertahanan diri yang terlalu kuat. Saya sudah tidak punya kuasa lagi untuk mengeluarkan perihnya rasa, selain membiarkannya mengendap dan mengeras di dalam dada. 

Mungkin, air mata yang saya miliki ini sudah habis. Namun, bukan berarti saya tidak punya rasa, bukan? Hanya saja diri ini sudah terlalu lelah untuk menangisi keadaan. 
BACA JUGA