Cerpen Cak Kirun: Mesin Penentu Nasib

Desa yang baru saja menyabet gelar Desa Digital Terbaik itu mendadak heboh. Di balai desa, berdiri sebuah kotak besi mentereng bernama Sistem Deteksi Kelayakan Otomatis. Pak Kades menyebutnya sebagai terobosan paling objektif karena menggunakan sensor wajah untuk mendeteksi aura kemiskinan warga melalui algoritma terbaru.

Cak Kirun hanya memperhatikan antrean warga yang tampak tertekan di depan mesin itu. Di sela kepulan asap rokoknya, ia melihat satu per satu tetangganya ditolak oleh mesin hanya karena dahi mereka dianggap kurang berkerut.

"Nggak ikut antre, Run? Ini sistem canggih, nggak ada nepotisme," bangga Pak Kades yang sedang memantau layar digital. "Sensornya membaca kerutan di wajah. Kalau dahimu mulus, artinya kamu nggak layak dibantu. Sederhana, kan?"

Cak Kirun tersenyum tipis. "Sakti betul mesin itu ya, Pak. Bisa tahu isi dompet cuma dari kerutan."

Esok harinya, Cak Kirun datang ke balai desa dengan penampilan yang mengundang tawa. Ia memakai topeng kertas bergambar wajah Pak Kades yang sedang terlihat sangat pusing. Saat ia berdiri di depan sensor, mesin itu mendadak berbunyi nyaring. Layar menunjukkan tulisan: Tingkat Penderitaan Maksimal. Dana Darurat Segera Dicairkan.

Uang bansos keluar dari mesin. Cak Kirun mengambilnya, lalu membuka topeng tepat di hadapan Pak Kades yang kebetulan lewat. Pak Kades pun panik melihat uang itu di tangan Kirun. "Lho! Kok kamu bisa dapat? Kamu kan nggak layak dapat bansos!"

"Mesin sampeyan yang bilang wajah di topeng ini layak dibantu, Pak," jawab Cak Kirun santai. "Katanya, wajah ini punya tingkat penderitaan yang maksimal."

"Tapi itu kan gambar wajah saya!" protes Pak Kades ketus.

Cak Kirun tertawa pelan. "Itu masalahnya, Pak. Mesin ini pintar membaca gambar, tapi buta melihat kenyataan. Ia mendeteksi penderitaan dari kertas yang saya tempel, tanpa tahu kalau yang asli sedang berdiri di samping saya memakai sepatu mahal."

Warga yang mendengar mulai tertawa riuh. Cak Kirun segera menyerahkan uang itu kepada Mbah Surip yang ada disebelahnya, janda tua yang sebelumnya ditolak mesin karena wajahnya dianggap terlalu tenang dan ikhlas oleh algoritma.

"Pak Kades," kata Cak Kirun sambil melenggang pergi, "Digitalisasi itu bagus buat menghitung angka, jangan dipakai buat menghitung nasib. Kalau semua urusan nasib diserahkan ke mesin, lama-lama kita nggak butuh pemimpin, cuma butuh tukang servis mesin."

Pak Kades hanya bisa terdiam, menatap mesin pintarnya yang kini terlihat bebal dan kehilangan wibawa di mata warga desa.
BACA JUGA