CIN(T)A: Ujung Pencarian

Udara Beijing di awal musim dingin terasa menusuk, namun entah mengapa, Arlan tidak merasa ingin bersembunyi di balik syalnya. Ia menyeret koper tuanya keluar dari stasiun, melewati kerumunan orang yang bergerak cepat di bawah bayang-bayang gedung pencakar langit. 

Arlan datang ke kota ini bukan hanya untuk berwisata. Ia memiliki beberapa dokumen riset lama terkait sistem mesin dari masa kerjanya dulu yang perlu dilegalisasi di sebuah universitas di distrik Haidian. Namun, sifatnya yang tidak bisa diam membawanya untuk lebih dulu menyesatkan diri di dalam hutong—gang-gang sempit tradisional yang tersembunyi di balik kemegahan jalan raya Beijing. 

Di tengah gang yang dipenuhi aroma roti panggang dan asap dari kedai mie, langkah Arlan terhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna merah kusam. Sebuah papan nama kecil bertuliskan huruf Mandarin dan Inggris tergantung miring: “Cen’s Corner”. 

Arlan mendorong pintu itu. Bunyi lonceng kecil menyambutnya. Di dalamnya, suasana terasa hangat dan dipenuhi buku-buku yang tertata acak. Di sudut ruangan, seorang wanita sedang berdiri di atas kursi kayu, berusaha memasang kembali sebuah lampu gantung yang kabelnya tampak menjuntai berantakan. 

Wanita itu terlihat kesulitan. Rambutnya diikat asal-asalan dengan sebuah pensil, dan wajahnya menunjukkan sisa-sisa rasa kesal karena pekerjaannya tidak kunjung selesai. Arlan diam berdiri di sana selama beberapa saat. Tanpa banyak bicara, ia meletakkan tasnya di lantai, mendekat, dan memegangi kursi kayu yang tampak goyah itu agar si wanita tidak terjatuh. 

Wanita itu tersentak kaget sampai hampir menjatuhkan obengnya. "Duibuqi," ucapnya refleks, lalu beralih ke bahasa Inggris saat melihat wajah Arlan. "Maaf, aku tidak dengar ada orang masuk." 

"Kabelnya salah posisi. Kalau kamu paksa sambungkan, lampunya akan korsleting," Arlan berbicara dengan suara tenangnya yang khas. 

Wanita itu turun dari kursi dengan gerakan canggung. "Kamu mengerti soal listrik?" 

"Aku dulu bekerja dengan hal-hal seperti ini," jawab Arlan singkat. Ia kemudian mengambil alih posisi di atas kursi. Dengan jari-jarinya yang terampil, Arlan merapikan jalur kabel dan menyambungkannya kembali hanya dalam hitungan menit. Saat sakelar dinyalakan, lampu itu berpijar kuning hangat, menerangi seluruh sudut kedai. 

Wanita itu tersenyum lebar, menampakkan lesung pipit yang membuat wajah lelahnya seketika berubah cerah. "Namaku Mei. Aku pemilik kedai yang paling tidak berbakat dalam urusan teknik di distrik ini." 

"Arlan," jawabnya, sambil turun dari kursi dan menepuk debu di tangannya. 

"Sebagai rasa terima kasih, kopi pertama hari ini gratis untukmu, Arlan. Duduklah," ajak Mei. 

Selama seminggu berikutnya, kedai Mei menjadi satu-satunya tempat yang dikunjungi Arlan setelah urusannya di universitas selesai. Mei, sosok wanita yang unik. Ia punya sisi cuek yang sangat mirip dengan Arlan; ia tidak pernah bertanya mengapa Arlan punya banyak stempel di paspornya atau mengapa Arlan terlihat seperti pria yang memikul beban dunia di bahunya. 

Namun, di balik sikap cueknya, Mei sangat memperhatikan hal-hal kecil. Ia tahu Arlan tidak suka kopi yang terlalu manis, jadi ia selalu menyiapkan segelas air putih dingin sebelum Arlan memintanya. Ia juga tahu Arlan senang duduk di pojok dekat jendela, jadi ia selalu memastikan kursi itu kosong setiap kali Arlan datang di jam yang sama. 

Suatu sore, salju pertama mulai turun di Beijing. Butiran putih itu menempel di kaca jendela kedai. Arlan sedang menyesap teh hangatnya saat Mei duduk di hadapannya dengan sebuah buku catatan. 

"Kamu sudah di sini lebih lama dari turis biasanya," ujar Mei tanpa mengalihkan pandangan dari catatannya. 

Arlan menatap keluar jendela. "Aku sedang menyelesaikan sesuatu yang sudah lama aku tunda." 

"Pekerjaanmu?" 

"Bukan. Aku sedang mencoba mencari tahu mengapa aku selalu ingin pergi setiap kali aku sampai di suatu tempat," Arlan menjawab jujur. 

Mei meletakkan penanya. Ia menatap Arlan dalam-dalam. "Mungkin karena kamu selama ini pergi untuk mencari sesuatu yang kamu sendiri belum tahu bentuknya seperti apa. Orang sering lupa bahwa untuk bisa menemukan sesuatu, mereka harus benar-benar berhenti mencari." 

Arlan tertegun. Kata-kata Mei tidak terdengar puitis seperti apa yang pernah ia dengar di Paris atau Kyoto. Itu terdengar sangat logis, namun menyentuh bagian terdalam dari kegelisahannya selama perjalanan mencari cintanya. 

"Aku sudah berkeliling ke banyak negara, Mei. Aku mencoba mencari rasa yang membuatku ingin menetap," lanjut Arlan. 

Mei tersenyum tipis, lalu menyodorkan sepotong kue tradisional kepadanya. "Rasa itu tidak ada kalau tidak dicoba, Arlan. Jika kamu terus mencari rasa, tanpa pernah mencobanya, sama saja kamu seperti orang yang pintar secara teori, tapi tidak mengerti praktiknya, seperti saat kamu pertama kali membantuku." 

Malam itu, saat Arlan berjalan pulang menuju penginapannya di tengah salju yang semakin tebal, ia menyadari sesuatu. Selama ini, ia berkeliling dunia untuk mencari cinta, tanpa menyadari bahwa takdirnya sedang bermain-main dengan kata tersebut. Ia harus sampai di Cina untuk mengerti bahwa apa yang ia cari selama ini hanya untuk mencoba sebuah rasa, percakapan sederhana di sebuah kedai kopi kecil di tengah gang sempit salah satunya. 

Salju di Beijing semakin tebal, menutupi atap-atap abu-abu di sepanjang hutong dengan lapisan putih yang murni. Arlan berdiri di depan penginapannya, menatap uap napasnya sendiri yang menguap di udara dingin. Perasaan ingin segera pergi yang biasanya menyiksa setiap kali ia menetap di suatu negara, kini hilang entah ke mana. 

Keesokan harinya, Arlan kembali ke kedai Mei. Namun, kali ini kedai itu tertutup rapat. Ada sebuah papan kecil bertuliskan tangan di pintunya: “Sedang mengambil kiriman buku di stasiun, buka jam 4 sore.” 

Arlan melihat jam di tangannya. Masih ada waktu dua jam. Tanpa berpikir panjang, ia berjalan menuju stasiun terdekat. Ia tahu Mei pasti kesulitan membawa tumpukan buku sendirian, apalagi dengan kondisi jalanan yang licin karena salju yang membeku. 

Benar saja, di dekat pintu keluar stasiun, Arlan melihat Mei sedang berusaha menyeimbangkan tiga kardus besar di atas troli kecilnya. Wajahnya memerah karena kedinginan, dan ia berkali-kali membenarkan letak syalnya yang melonggar. 

Arlan menghampirinya tanpa suara, lalu langsung mengambil alih kardus paling atas yang hampir terjatuh. 

Mei tersentak, lalu menghela napas lega saat melihat siapa yang datang. "Arlan? Sedang apa kamu di sini?" 

"Aku hanya lewat," bohong Arlan dengan wajah datarnya yang khas. "Sini, biar aku yang tarik trolinya. Kamu bawa tas kecilmu saja." 

Mei tidak membantah. Ia berjalan di samping Arlan sambil sesekali mencuri pandang pada pria yang baru dikenalnya beberapa hari itu. "Kamu selalu muncul saat aku sedang repot ya? Apa kamu punya sensor khusus untuk itu?" 

Arlan hanya diam, namun tangannya diam-diam menyesuaikan kecepatan langkahnya agar Mei tidak tertinggal di belakangnya. "Hati-hati, di depan sana ada bagian jalan yang sangat licin," ujar Arlan mengingatkan. 

Mereka berjalan menembus keramaian Beijing yang dingin. Sesampainya di kedai, Arlan membantu Mei menyusun buku-buku itu ke dalam rak. Saat pekerjaan selesai, Mei menyeduhkan teh oolong hangat untuk mereka berdua. 

"Besok dokumenmu sudah selesai, kan? Berarti lusa kamu akan pergi ke bandara?" tanya Mei sambil menatap cangkir tehnya. 

Arlan terdiam cukup lama. Ia menatap deretan buku di depannya, lalu menatap Mei. "Aku sudah memesan tiket kemarin." 

Wajah Mei menunjukkan sedikit perubahan, ada kilat kecewa yang tertangkap oleh mata tajam Arlan, meski Mei segera menyembunyikannya dengan senyum tipis. "Oh, begitu. Jadi, ke mana tujuanmu selanjutnya? Setelah berkeliling dunia, apa ada negara yang belum kamu kunjungi?" 

"Aku membatalkan tiketnya pagi ini," lanjut Arlan pelan. 

Mei mengangkat kepalanya dengan cepat. "Kenapa?" 

"Aku menyadari sesuatu saat melihat salju semalam. Aku sudah terlalu lama menjadi pengelana. Aku selalu berpikir bahwa cinta itu ada di tempat yang jauh, di tempat yang eksotis dan penuh petualangan. Tapi ternyata aku salah," Arlan meletakkan cangkirnya. 

Ia menatap Mei langsung di matanya. "Aku sudah melihat berbagai keindahan di benua berbeda. Tapi aku merasa lebih tenang saat membantumu memperbaiki lampu kemarin." 

Mei terdiam, pipinya semakin memerah, kali ini bukan karena suhu udara. "Arlan, aku tidak tahu harus bilang apa." 

"Jangan bilang apa-apa dulu," potong Arlan lembut. "Aku hanya ingin bilang bahwa aku memutuskan untuk menetap di sini sebentar. Setidaknya sampai aku benar-benar yakin bahwa aku tidak perlu berkelana lagi. Aku ingin tahu, apa di kedaimu masih butuh tenaga bantuan untuk memperbaiki barang-barang yang rusak?" 

Mei tertawa, kali ini tawanya terdengar sangat tulus dan memenuhi ruangan kecil itu. "Kurasa lampu di gudang belakang juga mulai berkedip-kedip, Arlan." 

Dua bulan kemudian, di depan kedai Cen's Corner, Arlan terlihat sedang sibuk mengecat ulang papan nama toko. Ia kini lebih sering mengenakan pakaian santai. Orang-orang di sekitar hutong mulai mengenalinya sebagai pria asing yang jarang bicara tapi sangat ringan tangan. 

Arlan masuk ke dalam kedai dan mendapati Mei sedang membaca buku di meja kasir. Ia mendekat, lalu memberikan sebuah bungkusan kecil berisi penghangat tangan yang baru ia beli. "Pakai ini. Aku tahu tanganmu sering dingin kalau sedang membaca," ujar Arlan pelan. 

Mei menerima bungkusan itu sambil tersenyum. Ia menatap Arlan, lalu menunjuk ke arah paspor Arlan yang tergeletak di atas meja, sudah mulai berdebu karena jarang disentuh. 

"Kamu tidak rindu jalan-jalan lagi?" tanya Mei menggoda. 

Arlan menggeleng kecil. Ia melihat ke sekeliling kedai yang hangat, lalu kembali menatap Mei. Ia teringat betapa ironisnya perjalanan hidupnya. Ia harus pergi sejauh mungkin ke ujung dunia hanya untuk menyadari bahwa apa yang ia cari selama ini tersembunyi di dalam nama sebuah negara. 

"Aku sudah sampai di tujuanku, Istriku," jawab Arlan dengan senyum manisnya. 
BACA JUGA