Cerpen Cak Kirun: Timbangan yang Diganjal
Suasana di pengadilan desa sedang ramai. Di kursi pesakitan, duduk Pak Kasnan, kakek tua yang dituduh mencuri tiga batang kayu jati untuk memperbaiki gubuknya yang hampir roboh. Ia terancam hukuman berat karena dianggap merugikan negara. Padahal di saat yang sama, ada pejabat yang cuma ditegur ringan meski sudah nilep dana semen hingga jembatan desa ambruk dalam sebulan.
Cak Kirun datang ke pengadilan membawa timbangan pasar. Timbangan itu terlihat aneh karena di satu sisinya diganjal batu bata besar, membuatnya miring sebelah dan tidak bisa lurus.
"Lho, Cak Kirun! Mau jualan apa bawa timbangan segala?" tanya petugas keamanan di depan pintu.
"Mau menyumbangkan ini buat Pak Hakim," jawab Cak Kirun santai. "Saya lihat timbangan di kantor ini sering error. Makanya saya bawakan timbangan yang jujur. Jujur kalau aslinya memang sudah miring karena diganjal!"
Cak Kirun menerobos masuk saat jaksa sedang membacakan tuntutan untuk Pak Kasnan. Ia mengangkat timbangan miringnya tinggi-tinggi di tengah ruang sidang yang mendadak hening.
"Pak Hakim yang terhormat," sela Cak Kirun. "Saya usul, Pak Kasnan ini jangan dihukum pakai pasal yang rumit. Coba pakai timbangan saya ini saja. Taruh tiga batang kayu jati Pak Kasnan di sisi kiri, dan taruh uang hasil tilepan semen jembatan milik pejabat itu di sisi kanan."
Hakim mengetuk palu dengan keras. "Kirun! Jangan mengacau! Apa maksudmu bawa timbangan rusak begitu?"
"Ini tidak rusak, Pak, cuma miring karena ada ganjalannya," balas Cak Kirun kalem. "Sama seperti hukum kita. Kalau rakyat kecil yang ambil kayu buat bertahan hidup, Bapak-bapak bicara soal tegaknya aturan. Tapi kalau orang besar nilep uang rakyat sampai jembatan roboh, Bapak-bapak bicara soal khilaf dan urusan administrasi. Kenapa hukum kita mirip pisau dapur? Tajamnya ke bawah, tapi mendadak tumpul saat menghadap ke atas."
Cak Kirun menunjuk Pak Kasnan yang gemetar ketakutan di kursinya.
"Pak Kasnan ini cuma ingin atap rumahnya tidak bocor, Pak. Dia diborgol. Sedangkan pejabat yang nilep uang semen dan membahayakan nyawa orang banyak cuma disuruh minta maaf. Apa karena seragam kakek ini dekil dan dia tidak punya uang untuk mengganjal timbangan Bapak-bapak supaya miring ke arahnya?"
Cak Kirun menaruh timbangan itu di atas meja.
"Keadilan itu soal kejujuran melihat kenyataan, bukan soal siapa yang pintar bayar pengacara. Kalau hukum cuma dipakai menakut-nakuti orang miskin, itu namanya alat pukul. Dan alat pukul itu bisa berbalik arah mengenai Bapak-bapak sendiri kalau rakyat sudah muak melihat permainan ini."
Cak Kirun menoleh ke Pak Kasnan. "Sabar ya, Pak. Di dunia ini timbangannya memang miring karena diganjal uang. Tapi nanti di hadapan Tuhan, tidak ada yang bisa mengganjal timbangan-Nya."
Cak Kirun berjalan keluar ruangan dengan tenang. Hakim dan jaksa hanya bisa terdiam menatap timbangan miring di meja, menyadari bahwa sindiran itu sedang menelanjangi nurani mereka sendiri.
BACA JUGA
Post a Comment