Cerpen Cak Kirun: Jam Tanpa Jarum

Desa sedang gaduh. Spanduk besar terpasang di depan balai desa dengan tulisan mencolok: "Program Percepatan Pembangunan Infrastruktur Desa!". Padahal, anggaran sudah turun sejak awal tahun. Namun selama sepuluh bulan, warga hanya melihat tumpukan semen yang membatu dan para tukang yang lebih sering ngobrol ditemani kopi.

Begitu mendekati akhir tahun anggaran, semua orang mendadak panik. Alat berat didatangkan tengah malam dan lampu sorot dipasang agar pekerjaan bisa terus dikebut sampai subuh.

Cak Kirun datang ke lokasi proyek sambil membawa sebuah jam dinding besar yang jarumnya sudah dicopot. Ia berdiri di samping mandor proyek yang sedang sibuk berteriak menyuruh kuli bekerja lebih cepat.

"Lho, Cak Kirun! Jamnya besar sekali? Mau dijual kah?" tanya si mandor sambil mengelap keringat.

"Mau menyumbang jam ini buat ditaruh di kantor sampeyan, Pak. Jam spesial ini, jam tanpa jarum," jawab Cak Kirun enteng.

"Jam tanpa jarum mana bisa dipakai, Run!"

Cak Kirun tertawa kecut. "Lah, apa bedanya sama kerjaan kalian? Selama sepuluh bulan kemarin, waktu seolah-olah nggak ada jarumnya. Kalian santai, anggaran didiamkan, laporan dibuat-buat. Sekarang, pas waktu tinggal seminggu, kalian teriak-teriak soal percepatan."

Cak Kirun menunjuk ke arah aspal yang digelar terburu-buru di atas tanah yang bahkan belum rata.

"Kalau dari Januari kalian kerja benar, sehari semenit saja, jalan ini sudah jadi dari bulan Juli. Nggak perlu ada lembur sampai subuh. Istilah percepatan ini cuma pengakuan kalau selama ini kalian itu lelet karena sengaja menunda-nunda."

Si mandor mulai risih. "Ini instruksi pusat, Run! Biar rakyat bisa cepat menikmati fasilitas!"

"Rakyat mana yang mau menikmati jalan yang aspalnya setipis tisu?" balas Cak Kirun tajam. "Biasanya, kalau judulnya percepatan, yang dipercepat itu bukan cuma kerjanya, tapi juga rusaknya. Aspalnya kurang matang, fondasinya kurang kuat, yang penting ada foto buat laporan. Nanti belum ada setahun sudah hancur lagi, biar ada proyek abadi yang bikin anggaran makin berisi."

Cak Kirun kemudian duduk di atas tumpukan batu kali.

"Kalau semua orang kerja sesuai porsinya setiap hari, istilah percepatan itu nggak bakal ada. Kita butuh dipercepat itu kalau kita ketinggalan. Masalahnya, kalian itu ketinggalan karena memang sengaja tidur di jalan atau karena sibuk menyunat anggaran di awal?"

Cak Kirun berdiri, lalu menancapkan jam dinding tanpa jarum itu di atas gundukan tanah.

"Silakan lanjut, Pak. Tapi hati-hati, jangan sampai karena terlalu cepat mengejar target laporan, kalian lupa bawa nurani. Pembangunan yang dipercepat itu biasanya cuma sukses di tiga hal: cepat jadi, cepat rusak, dan cepat cair uangnya."

Cak Kirun melenggang pergi, meninggalkan para pekerja yang terus mengebut pekerjaan di bawah lampu remang-remang.
BACA JUGA