Cerpen Cak Kirun: Oli Pelicin Super
Cak Kirun sedang duduk di warung kopi depan kantor urusan perizinan. Ia memperhatikan seorang warga yang sedang mengurus surat izin usaha. Warga itu sudah bolak-balik keluar masuk ruangan dengan wajah frustrasi.
"Gimana, Mas? Belum kelar juga?" tanya Cak Kirun.
"Aduh, Cak. Katanya sistem lagi gangguan, berkas belum lengkap, sampai pejabatnya lagi rapat. Padahal semua syarat sudah saya bawa," keluh warga itu lesu.
Tak lama, muncul seorang pria dengan tas kulit mahal. Ia masuk ke ruangan yang sama, hanya lima menit di dalam, lalu keluar dengan wajah berseri-seri sambil memegang surat berstempel basah. Cak Kirun melihat dengan jelas ada amplop tebal yang berpindah tangan saat mereka bersalaman tadi.
Cak Kirun berdiri, lalu mengambil sebotol oli bekas yang hitam dan pekat dari bengkel sebelah warung. Ia berjalan masuk ke kantor tersebut.
"Selamat siang, Pak Pejabat! Saya mau urus surat izin juga," kata Cak Kirun sambil menaruh botol oli itu di atas meja kaca yang mengkilap.
Si Pejabat mengerutkan dahi. "Surat izin apa? Dan itu botol apa ditaruh di meja saya? Kotor semua ini!"
Cak Kirun tersenyum lebar. "Ini oli super, Pak. Saya lihat tadi mesin di kantor Bapak seret sekali. Kasihan warga yang tadi, urusannya nggak jalan karena nggak diolesi oli. Tapi begitu Mas yang tas kulit tadi datang bawa oli pelicin, wah... mesin Bapak langsung kencang!"
"Jangan sembarangan bicara kamu, Kirun! Itu tadi urusan kedinasan!" bentak si pejabat.
"Kedinasan apa keduitan, Pak?" balas Cak Kirun kalem. "Bapak punya meja bersih dan baju rapi, tapi tangan Bapak suka main sembunyi-sembunyi. Bapak bilang sistem lambat, padahal Bapak sengaja menarik rem tangannya supaya orang mau kasih uang pelicin, kan?"
Cak Kirun membuka tutup botol oli bekas yang baunya menyengat itu.
"Bapak tahu sifat oli bekas ini? Dia licin, bisa bikin urusan yang macet jadi lancar. Tapi oli ini kotor, Pak. Kalau kena baju putih Bapak, nggak bakal bisa hilang. Sama kayak uang yang ada di tumpukan berkas itu," ucap Kirun sambil menunjuk ke amplop cokelat yang sedikit terbuka di laci meja.
Cak Kirun menunjuk ke arah warga yang masih lesu di luar.
"Hak orang itu Bapak tahan hanya karena dia nggak punya pelicin. Bapak sedang menabung doa buruk dari orang-orang yang Bapak persulit. Ingat Pak, jabatan ini amanah, bukan keran air yang bisa Bapak buka-tutup semaunya. Nanti kalau sudah nggak menjabat, oli kotor yang Bapak kumpulkan ini bakal bikin jalan Bapak sendiri jadi licin... licin yang bikin Bapak kepleset menuju kehancuran."
Si pejabat terdiam, wajahnya pucat melihat noda oli yang mulai menetes ke meja mahalnya.
"Saran saya Pak," tambah Cak Kirun sambil membawa kembali botol olinya. "Bersihkan meja ini pakai kejujuran, jangan terus-terusan pakai oli pelicin. Memang urusan mereka lancar sekarang, tapi kalau mereka menuntut di pengadilan Tuhan, pelicin itu juga yang bikin Bapak lancar masuk ke neraka jahannam."
Cak Kirun melenggang pergi. Si pejabat buru-buru mengambil tisu, berusaha mengelap noda oli itu. Tapi anehnya, meskipun dilap berkali-kali, bekas hitam itu seolah meresap ke meja kayunya, persis seperti rasa malu yang mulai menghantui pikirannya.
BACA JUGA
Post a Comment