Cerpen Cak Kirun: Keadilan Jalur Viral
Sudah tiga kali Marni mendatangi kantor polisi untuk melaporkan motor satu-satunya yang hilang dimaling. Namun, jawabannya selalu sama: "Sabar ya, Bu. Anggota kami terbatas. Nanti kalau ada perkembangan kami hubungi." Marni pulang dengan pundak layu, motor itu adalah nyawanya untuk menyambung hidup.
Cak Kirun yang melihat Marni menangis di pinggir jalan segera menghampiri, kemudian mengeluarkan tongsis miliknya.
"Ayo Marni, hapus air matamu. Kita jangan lapor ke kantor itu lagi. Kita lapor ke Kantor Pusat yang lebih sakti," ajak Cak Kirun.
Cak Kirun membawa Marni kembali ke depan kantor tersebut, tapi hanya berdiri di luar pagar. Ia memasang HP-nya di tongsis, memulai siaran langsung, dan mulai berakting layaknya presenter berita.
"Selamat siang Netizen! Di samping saya ada Ibu Marni, rakyat jelata yang motornya hilang dimaling. Mari kita hitung, berapa lama waktu yang dibutuhkan pejabat di dalam sana untuk mendadak jadi pahlawan setelah video ini viral!" seru Cak Kirun sambil melambaikan tangan ke arah kamera.
Tiba-tiba, pintu kantor terbuka lebar. Seorang petugas yang tadinya duduk santai mendadak lari keluar dengan seragam yang sudah rapi.
"Eh, Cak Kirun! Ada apa ini? Kenapa pakai live streaming segala? Ayo masuk, masuk! Kita bicarakan baik-baik di dalam," ucap petugas itu dengan senyum manis.
Cak Kirun menahan langkahnya. "Lho, jangan buru-buru masuk, Pak. Penonton saya sudah tembus lima ribu orang. Mereka mau lihat seberapa cepat penanganan dilakukan buat kasus yang viral."
Petugas itu salah tingkah. "Anu... ini sebenarnya laporannya sudah diproses, cuma tadi ada sedikit kendala administrasi..."
"Administrasi apa, Pak? Administrasi nunggu kasusnya viral?" sindir Cak Kirun tajam. "Saya heran, masa nunggu jempol orang se-Indonesia bergerak baru laporan diproses sesuai prosedur."
Cak Kirun mendekatkan kamera HP-nya ke arah petugas tersebut.
"Kasihan Marni, Pak. Dia ini bayar pajak pakai uang, bukan pakai jumlah tontonan. Harusnya dia dapat pelayanan yang semestinya, bukan nunggu videonya ramai dulu baru Bapak-bapak sibuk urus laporannya."
Cak Kirun kemudian berpura-pura mematikan videonya.
"Ingat Pak, kalau keadilan cuma nunggu viral, lama-lama kantor ini nggak butuh reserse, cukup butuh admin media sosial."
Petugas itu buru-buru menarik Marni masuk. "Sudah, Bu Marni. Hari ini juga tim kami meluncur ke lokasi. Pasti motornya ketemu!"
Cak Kirun melipat tongsisnya sambil geleng-geleng kepala. "Tuh lihat, Marni. Jempol netizen ternyata lebih sakti. Keadilan di sini benar-benar pemalu kalau ketemu rakyat biasa, tapi giliran kena sorot kamera, mendadak narsis dan semangat luar biasa."
Cak Kirun berjalan pulang meninggalkan kantor yang tiba-tiba sibuk tersebut. "Negeri yang lucu," gumamnya. "Orang salah nggak takut sama dosa, tapi gemetar setengah mati kalau wajahnya masuk beranda."
BACA JUGA
Post a Comment