Cerpen Cak Kirun: Sihir Kertas Kuning
Antrean di balai kota sudah memanjang sampai ke pintu keluar. Gatot berdiri di barisan paling depan, memegang map cokelat tebal berisi berkas ijazah dan sertifikat kerjanya. Di depannya, meja pendaftaran dijaga oleh seorang petugas yang sedari tadi tampak malas-malasan memeriksa berkas pelamar satu per satu.
Tiba-tiba Bambang datang tanpa membawa map. Ia langsung menyelip ke depan meja, mengabaikan Gatot dan antrean di belakangnya. Bambang meletakkan selembar kertas kuning kecil yang sudah ada tanda tangan pejabat di atasnya. Petugas yang tadinya menguap langsung duduk tegak. Ia mengambil kertas itu, membacanya sebentar, lalu segera mengambil stempel tanpa memeriksa apa pun lagi.
Cak Kirun yang sedang duduk di bangku tunggu perlahan berdiri. Ia mendekat ke meja, tepat saat petugas itu menggeser map milik Gatot untuk memberi ruang bagi berkas Bambang. Cak Kirun memperhatikan kertas kuning itu lamat-lamat.
"Cepat benar prosesnya, Pak. Padahal kertasnya lebih kecil dari ijazah Gatot," ujar Cak Kirun sambil menunjuk nota tersebut.
Petugas itu tidak menyahut, tangannya sibuk mengetik nama Bambang ke dalam sistem. Bambang sendiri hanya diam sambil sesekali melirik jam tangannya.
"Kertas itu memang ada sihirnya," lanjut Cak Kirun ke arah Bambang. "Bisa membuat semua syarat di papan pengumuman itu jadi tidak berlaku. Pengalaman tujuh tahun milik Gatot langsung kalah sama coretan pulpen orang dalam."
Suasana di ruangan itu mendadak sunyi. Orang-orang di antrean mulai memperhatikan. Cak Kirun kembali menatap petugas pendaftaran itu.
"Tapi hati-hati, Pak. Bangunan yang diawasi lewat jalur kertas kuning begini biasanya tidak akan beres. Pengawasnya mungkin jago menghitung jatah pribadi, tapi biasanya buta kalau harus melihat fondasi yang retak. Nanti kalau ada apa-apa, yang rugi tetap orang banyak."
Bambang tidak membalas. Begitu surat buktinya selesai dicetak, ia langsung pergi tanpa menoleh lagi. Petugas pendaftaran kembali menunduk, pura-pura sibuk merapikan pulpen di mejanya.
Cak Kirun menepuk bahu Gatot yang masih mematung. "Sudah Tot, ayo pulang saja. Percuma kamu bawa ijazah asli ke sini kalau yang dicari cuma orang yang punya kertas kuning. Tenagamu lebih berguna buat bangun desa sendiri daripada dipakai buat menonton orang-orang yang masuk lewat jalur titipan."
Cak Kirun mengajak Gatot keluar dari balai kota. Beberapa pelamar di belakang mulai saling pandang, dan beberapa di antaranya pelan-pelan mulai melipat map mereka, menyadari bahwa aturan di sana hanya berlaku bagi mereka yang tidak punya akses ke dalam.
BACA JUGA
Post a Comment