Cerpen Cak Kirun: Bisnis Goreng Angka
Warung nasi goreng di pojok desa itu terlihat sangat mewah. Lantainya marmer, lampunya kristal, dan ada AC yang selalu menyala. Tapi suasananya selalu sepi. Tidak ada suara sodet beradu dengan wajan, juga tidak ada bau bawang putih digoreng. Kursi-kursinya tertata rapi, tapi hampir tidak pernah ada orang yang duduk di sana.
Mas Bos, pemiliknya, sering duduk di meja kasir. Jarinya sibuk menekan tombol mesin kasir sampai struk panjang keluar terus-menerus. Padahal, dari tadi tidak ada satu pun orang yang memesan makanan. Di parkiran, mobil sport miliknya terparkir rapi, seolah menunjukkan kalau jualan nasi gorengnya sangat laku.
Cak Kirun masuk ke warung itu saat sore hari. Dia berjalan pelan menuju area dapur yang terbuka. Cak Kirun melewati Mas Bos yang sedang sibuk mencatat angka di buku besar. Dia berhenti tepat di depan tempat sampah besar yang ada di pojok dapur. Tempat sampah itu sangat bersih dan kering.
"Bersih benar dapur sampeyan Mas. Tempat sampahnya saja nggak ada isinya," kata Cak Kirun sambil menunjuk tong sampah itu.
Mas Bos menoleh dengan wajah tidak senang. "Ini manajemen modern Run. Semua dikelola dengan efisien."
Cak Kirun melihat mesin kasir yang tadi mencetak struk sangat banyak. "Tadi saya lihat di layar kasir, tertulis sudah laku seribu porsi hari ini. Tapi saya cari satu butir kulit telur pun di tong sampah ini kok nggak ada. Karung beras bekasnya juga tidak kelihatan satu pun."
Mas Bos mulai gelisah. Dia merapikan duduknya. "Itu urusan gudang. Kamu tahu apa soal bisnis?"
Cak Kirun melirik wajan yang menggantung di dinding dapur. Warnanya masih mengkilap tanpa noda gosong sedikit pun. Ia mengusap pinggiran wajan itu dengan jarinya, lalu menunjukkan jarinya yang tetap bersih ke arah Mas Bos.
"Saya memang nggak tahu bisnis besar Mas. Saya cuma tahu kalau orang jualan nasi goreng itu yang kotor harusnya wajan sama tempat sampah," ujar Cak Kirun pelan.
Ia beralih menatap tumpukan struk yang menumpuk di meja kasir. "Tapi di sini Mas Bos lebih suka goreng yang lain sepertinya. Goreng angka-angka di atas kertas begini jauh lebih cepat bikin kaya ya? Nggak perlu bumbu, cukup pencet tombol saja, laporannya sudah jauh lebih licin daripada wajannya."
Wajah Mas Bos mendadak pucat. Dia langsung menutup buku laporannya. Cak Kirun tetap tenang dan berjalan menuju pintu keluar.
"Hati-hati Mas. Mesin kasir itu mungkin bisa bohong soal porsi yang laku, tapi bau uang nggak bener pasti gampang keciumnya. Nanti kalau ada petugas datang tanya soal kulit telur yang hilang, jangan sampai sampeyan yang malah digoreng sama aturan."
Mas Bos tidak menjawab. Dia langsung mengambil tasnya, mematikan lampu warung, dan buru-buru masuk ke mobil sport miliknya. Mobil itu tancap gas meninggalkan warung mewah yang sekarang jadi gelap.
Cak Kirun menarik napas panjang melihat debu dari mobil itu. "Kasihan. Punya warung bagus tapi nggak berani jualan, punya uang banyak tapi tiap hari hidupnya ketakutan."
BACA JUGA
Post a Comment