Cerpen Cak Kirun: Kursi Buat Si Tole

Balai desa ramai malam itu. Pak Kades mengumpulkan warga untuk membahas perubahan aturan pemilihan perangkat desa. Di barisan belakang, Tole, anak Pak Kades, duduk santai sambil terus melihat layar ponselnya.

Pak Kades menjelaskan kalau syarat menjadi bendahara desa perlu diubah. Aturan lama mengharuskan umur minimal 35 tahun dan pengalaman kerja sepuluh tahun. Pak Kades mengusulkan umur diturunkan menjadi 19 tahun. Dia beralasan kalau anak muda sekarang punya potensi besar, dan pengalaman bisa didapat hanya dengan melihat orang tua bekerja di rumah.

Warga hanya diam mendengarkan. Mereka tahu kalau Tole baru saja lulus sekolah dan belum punya pekerjaan. Di tengah penjelasan itu, Cak Kirun berdiri dari kursi belakang. Dia berjalan ke depan sambil menggendong seekor kucing kampung yang sedang tidur tenang.

Cak Kirun meletakkan kucing itu di meja rapat, tepat di samping mikrofon Pak Kades.

"Saya setuju sama usulan Bapak. Makanya saya bawa si Belang ini buat daftar jadi Kepala Keamanan Desa," kata Cak Kirun.

Pak Kades mengernyitkan dahi. "Jangan ngaco, Run. Mana ada kucing jadi keamanan? Dia nggak punya pengalaman jaga desa."

Cak Kirun mengelus kucingnya sebentar. "Kan tadi Bapak bilang pengalaman bisa diganti dengan melihat orang tua bekerja. Si Belang ini tiap malam melihat bapaknya menangkap tikus di gudang. Dia sudah tahu cara jaga wilayah karena sering melihat. Syaratnya masuk kan Pak?"

Beberapa warga mulai tertawa pelan. Pak Kades mukanya memerah karena merasa disindir di depan banyak orang.

"Kucing ya tetap kucing, beda sama manusia!" seru Pak Kades dengan suara agak tinggi.

Cak Kirun menatap Pak Kades santai. "Jadi intinya bukan soal cara belajarnya ya Pak, tapi soal anaknya siapa. Kalau mau kasih jabatan buat Tole, bilang saja syaratnya harus anak Kades. Itu lebih jujur daripada mengubah aturan desa cuma biar kelihatan sah."

Pak Kades terdiam. Dia melihat warga mulai berbisik-bisik dan bersiap-siap berdiri. Cak Kirun mengambil kembali kucingnya, lalu berjalan keluar dari balai desa. Warga yang lain pun ikut keluar satu per satu karena merasa rapatnya sudah tidak ada gunanya lagi.

Rapat itu bubar tanpa ada keputusan. Pak Kades tetap duduk di kursinya, sementara Tole yang di belakang masih saja asyik sama ponselnya, seolah tidak tahu kalau ayahnya baru saja malu gara-gara urusan aturan itu.
Memuat daftar chapter...