Cerpen Cak Kirun: Kursi Buat Si Tole
Desa mendadak gempar karena Pak Kades mengadakan rapat darurat di malam Jumat. Agendanya cuma satu: "Harmonisasi Aturan Pemilihan Perangkat".
Masalahnya, aturan lama menyebutkan bahwa syarat menjadi Bendahara Desa harus berumur minimal 35 tahun dan punya pengalaman kerja 10 tahun. Padahal, Pak Kades ngebet ingin memasukkan anaknya, si Tole, yang baru lulus sekolah dan hobinya cuma main game online, untuk jadi Bendahara.
Di atas panggung, Pak Kades berpidato dengan wajah yang dibuat seserius mungkin. "Bapak-bapak, aturan lama itu diskriminasi! Menghalangi potensi anak muda! Masa harus nunggu umur 35? Kita harus ubah aturannya: Syarat umur kita turunkan jadi 19 tahun, dan syarat pengalaman kerja kita ganti menjadi 'pengalaman melihat bapaknya bekerja'."
Warga terdiam. Mereka tahu ini akal-akalan, tapi nggak ada yang berani protes. Tiba-tiba, Cak Kirun berdiri sambil menggendong seekor kucing kampung yang sedang tidur nyenyak.
"Ngapunten, Pak Kades. Saya sangat setuju dengan ide Bapak!" teriak Cak Kirun sambil maju ke depan.
Pak Kades berbunga-bunga. "Nah, ini baru warga yang visioner! Gimana pendapatmu, Run?"
Cak Kirun mengangkat kucingnya tinggi-tinggi. "Berhubung aturannya mau diubah demi 'potensi muda', saya usul kucing ini, si Belang, diangkat jadi Kepala Keamanan Desa. Dia masih muda, lincah, dan yang paling penting... dia ini anak dari kucing penjaga gudang beras paling galak di kecamatan sebelah!"
Pak Kades melotot. "Kirun! Kamu menghina rapat ini? Mana ada kucing jadi Kepala Keamanan? Dia kan nggak punya pengalaman!"
Cak Kirun tertawa cekikikan. "Lho, kan tadi Bapak yang bilang, pengalaman bisa diganti dengan 'melihat bapaknya bekerja'. Si Belang ini tiap hari melihat bapaknya nangkep tikus, Pak. Darahnya darah pejuang! Masa cuma karena dia kucing, Bapak diskriminasi?"
Warga mulai menahan tawa. Pak Kades makin merah mukanya. "Beda! Tole itu anak saya, manusia! Dia punya DNA pemimpin!"
"Oh, jadi intinya bukan soal umur atau kemampuan ya, Pak? Tapi soal 'anaknya siapa'?" tanya Cak Kirun sambil mengelus si Belang. "Berarti besok-besok, kalau Bapak mau ganti aturan lagi, bilang saja: 'Syaratnya adalah keluarga saya'. Itu lebih jujur, Pak, daripada bapak muter-muter pakai alasan 'anak muda potensial' padahal maksudnya 'anak saya sendiri'."
Cak Kirun lalu mendekat ke meja Pak Kades. "Pak, kalau aturan diubah-ubah cuma buat nyenengin keluarga, nanti lama-lama papan catur di balai desa ini juga bapak ubah aturannya. Bidak 'Raja' bisa jalan lompat-lompat kayak 'Kuda', asalkan si Kuda itu keponakannya si Raja. Kan repot kalau pion-pion kayak kami ini disuruh manut sama aturan yang berubah-ubah itu."
Pak Kades terdiam seribu bahasa, sementara si Tole yang duduk di belakang kursi bapaknya cuma bisa nunduk sambil mainan HP-nya.
"Saran saya, Pak," lanjut Cak Kirun. "Kalau memang mau kasih jabatan buat keluarga, jangan ubah aturannya. Ubah saja nama desanya, biar kami nggak usah repot-repot ikut rapat musyawarah, kalau ujung-ujungnya saran kita-kita ini ditolak mentah-mentah."
Cak Kirun berjalan keluar sambil tetap menggendong kucingnya. Warga satu per satu pun mulai ikut keluar. Rapat darurat itu bubar tanpa keputusan, menyisakan Pak Kades yang bingung bagaimana cara menjelaskan kepada istrinya kalau si Tole gagal jadi bendahara desa.
Post a Comment