Cerpen Cak Kirun: Makelar Akhirat

Suara Ustadz Solihin terdengar lantang dari balik corong pengeras suara yang dipasang di setiap sudut alun-alun desa. Di atas panggung, ia berdiri di depan banner besar bergambar kebun kurma yang hijau. Lewat mikrofonnya, ia terus mengajak warga agar segera membeli aset di akhirat melalui investasi tanah wakaf.

Ustadz Solihin menjanjikan setiap pohon kurma yang dibeli seharga lima juta rupiah bakal berubah menjadi tiang istana di surga. Warga yang mendengarnya mulai berdesakan menuju meja pendaftaran. Mereka membawa amplop berisi uang simpanan dari hasil bertani dan berdagang selama bertahun-tahun.

Cak Kirun yang baru saja pulang bekerja sebagai buruh bangunan melintas di pinggir alun-alun. Begitu mendengar kata kaplingan dan denah perumahan surga dari pengeras suara, ia langsung memarkir motornya. Masih mengenakan seragam kuli yang penuh noda semen, ia naik ke panggung sambil membawa meteran besi dan kalkulator yang layarnya sudah hitam sebagian.

"Ustadz, kaplingan yang ditawarkan di pojok denah ini sudah ada patoknya belum?" tanya Cak Kirun sambil menarik meteran besinya hingga mengeluarkan suara nyaring di depan mikrofon.

Ustadz Solihin menghentikan ucapannya dan menatap Cak Kirun dengan tidak senang. "Urusan iman jangan disamakan dengan proyek renovasi rumah, Run. Kamu tidak butuh meteran kalau percaya sama janji Tuhan."

Cak Kirun mengabaikan teguran itu dan mulai mengukur panjang meja panggung. "Justru karena saya percaya, saya ingin tahu teknisnya. Sampeyan jualan tanah di langit, namun minta bayarannya pakai uang tunai di bumi. Sebagai tukang, saya bingung melihat gambarnya. Di kalkulator saya, hitungan ini tidak masuk akal karena uang hasil banting tulang warga sampeyan tukar dengan janji kaplingan surga yang entah gimana wujudnya, sementara uang aslinya cuma masuk ke kantong pribadi sampeyan."

Suasana alun-alun yang tadinya bising mendadak sunyi. Beberapa warga yang sudah memegang amplop uang berhenti melangkah.

"Agama seharusnya menjadi jalan untuk memperbaiki perilaku, jangan dijadikan alat untuk memeras keringat orang kecil. Sampeyan bertindak seperti makelar akhirat yang memegang kunci pintu surga, padahal yang dibagikan cuma kertas fotokopi tanda terima uang saja," ujar Cak Kirun tanpa nada emosi.

Cak Kirun menunjuk ke arah banner kebun kurma yang terpajang di belakang panggung. "Itu sama saja seperti orang yang jualan tiket kapal di tengah gurun pasir. Kapalnya tidak ada, airnya tidak kelihatan, namun orang-orang disuruh bayar mahal untuk janji perjalanan yang sampeyan sendiri tidak tahu kapan berangkatnya. Sampeyan cuma memanfaatkan rasa takut warga supaya bisa hidup mewah di dunia."

Wajah Ustadz Solihin berubah pucat. Ia segera menyuruh asistennya menutup meja pendaftaran karena warga mulai berteriak meminta uang mereka kembali.

Cak Kirun turun dari panggung sambil menggulung kembali meterannya. Ia berjalan melewati kerumunan warga yang kini sibuk menagih hak mereka..
BACA JUGA