Cerpen Cak Kirun: Kartu Sembako Abadi
Musim kampanye pemilihan kepala daerah sedang berlangsung. Halaman balai desa penuh dengan spanduk wajah Pak Calon yang tersenyum lebar. Tim suksesnya sibuk membagikan selebaran dan meminta warga menandatangani surat pernyataan dukungan di meja pendaftaran. Di atas panggung darurat, Pak Calon berdiri dengan percaya diri sambil memegang sebuah kartu plastik berwarna emas. Ia menyebut benda itu sebagai Kartu Sembako Abadi yang menjamin semua kebutuhan pangan warga akan terpenuhi secara gratis.
Pak Calon menjelaskan bahwa setelah ia terpilih nanti, warga tidak perlu lagi pusing memikirkan harga beras yang terus melambung. Cukup dengan menempelkan kartu tersebut di gerai khusus, kebutuhan pangan akan tersedia tanpa bayar. Warga yang mendengar janji tersebut mulai bertepuk tangan, meskipun wajah mereka pucat karena sudah berhari-hari hanya makan singkong bakar.
Cak Kirun berdiri di dekat tiang panggung sambil memegangi piring seng yang sudah penyok. Ia memperhatikan Pak Calon yang sedang sibuk memamerkan kartu plastik mengkilap itu ke arah kamera wartawan. Cak Kirun melangkah maju ke depan panggung, lalu meletakkan piring kosongnya di atas meja rapat Pak Calon.
"Kapan kartu emas ini bisa berubah jadi nasi buat warga yang perutnya sudah melilit dari pagi, Pak?" tanya Cak Kirun sambil mengetuk piring sengnya dengan sendok.
Pak Calon tersenyum simpul sambil membetulkan letak kacamata mahalnya. "Tunggu saya dilantik dulu, Run. Semua ada prosedurnya. Kartu ini merupakan kunci untuk semua kemakmuran itu nanti."
Cak Kirun mengangguk pelan. Ia menyerahkan selembar kertas pernyataan dukungan yang sejak tadi diminta oleh tim sukses di bawah panggung. Tulisan di kertas itu sengaja ia buat menggunakan pensil yang sangat tipis dan samar. "Sesuai permintaan orang-orang bapak di bawah tadi, silakan Bapak simpan surat dukungan saya ini. Isinya sudah pasti nama Bapak untuk pemilihan nanti."
Pak Calon buru-buru melihat kertas tersebut, namun dahinya berkerut karena tulisannya hampir tidak terlihat dan mudah sekali terhapus hanya dengan usapan tangan. "Apa maksudmu memberikan kertas begini? Surat ini tidak ada gunanya untuk laporan suara saya kalau tulisannya hilang-hilangan begini."
"Sama seperti kartu emas Bapak," sahut Cak Kirun tenang. "Sampeyan menjanjikan beras gratis di masa depan, padahal lapar yang kami rasakan itu sekarang. Itu kayak orang yang memberikan buku panduan memasak kepada orang yang sudah sekarat karena kelaparan. Bukunya mungkin bermanfaat, namun orangnya tetap tidak bisa selamat kalau tidak langsung mendapat pertolongan."
Suasana di halaman balai desa mendadak sunyi. Warga yang tadinya antusias mulai menatap piring kosong milik Cak Kirun dan kartu plastik di tangan Pak Calon. Pak Calon segera memberikan instruksi kepada tim suksesnya untuk mengakhiri acara dan segera masuk ke mobil mewahnya.
Cak Kirun berjalan kembali ke pojokan, melihat iring-iringan mobil Pak Calon dan tim suksesnya itu pergi.
BACA JUGA
Post a Comment