Cerpen Cak Kirun: Pahala Dipotong Pajak
Cak Kirun memperhatikan seorang pria di teras masjid yang sibuk menata sebuah buku doa dan tasbih kayu di atas sajadah. Pria itu juga meletakkan segelas air di sampingnya agar susunan benda tersebut terlihat bagus saat dipotret. Setelah posisinya dirasa pas, ia mengambil foto dari berbagai sudut menggunakan ponselnya.
Cak Kirun mendekat saat pria itu mulai sibuk mengetik sesuatu di layar ponsel. "Sedang jualan tasbih, Mas?" tanya Cak Kirun pelan.
Pria itu menggeleng, lalu menjelaskan kalau foto tersebut akan diunggah ke media sosial sebagai pengingat bagi orang lain agar rajin beribadah. Pria itu menganggap tindakannya sebagai cara menebar kebaikan di dunia maya.
Cak Kirun duduk di dekat sajadah tersebut. "Ibadah itu seharusnya seperti surat cinta rahasia untuk pasangan. Kalau surat cintanya dipajang di papan pengumuman pasar agar dibaca semua orang, namanya pengumuman lelang, tidak lagi mesra. Tuhan sudah tahu isi hati sampeyan tanpa perlu bantuan unggahan foto."
Pria itu terdiam. Ia baru saja hendak menulis keterangan foto yang religius untuk menarik perhatian pengikutnya.
"Saya cuma khawatir nanti malaikat bingung mencatat pahala sampeyan. Takutnya pahala itu tidak sampai ke langit karena sudah habis dipotong pajak berupa pujian dari orang-orang yang melihat foto ini," tambah Cak Kirun sambil tersenyum tipis.
Cak Kirun bangkit dan berjalan masuk ke dalam masjid. Ia menyarankan agar pria itu menyimpan ponselnya dan mulai berdoa sungguhan daripada sibuk mengurus tampilan foto doanya.
Pria itu akhirnya memasukkan tasbihnya ke saku dan menghapus draf unggahannya. Ia melihat Cak Kirun yang sudah duduk tenang di barisan depan tanpa membawa apa pun. Ia menyadari kalau pamer ibadah hanya membuat hati sibuk menunggu komentar manusia, sementara hubungan dengan Tuhan justru terabaikan.
BACA JUGA
Post a Comment