Cerpen Cak Kirun: Dipilih Karena Lucu

Pemilihan kepala desa baru saja usai dengan hasil yang mengejutkan banyak pihak. Mas Gembul terpilih sebagai pemenang mutlak, meskipun selama masa kampanye ia tidak pernah memaparkan program kerja yang jelas. Kemenangan tersebut diraih karena ia sering mengunggah video dirinya yang terlihat kikuk saat makan kerupuk serta wajah memelas saat kehujanan di media sosial.

Cak Kirun sedang duduk di warung kopi saat Pak RT datang sambil menunjukkan layar ponselnya dengan wajah penuh kegembiraan. Di layar tersebut, terlihat video Mas Gembul yang sedang salah tingkah saat memberikan pidato kemenangan, mengundang tawa dari orang-orang di sekitarnya.

"Lihat, Run! Mas Gembul kita memang juara. Pidatonya saja lucu begitu, benar-benar bikin suasana jadi segar dan hati warga jadi adem," seru Pak RT sambil tertawa lebar.

Cak Kirun menyeruput kopinya pelan, lalu menatap Pak RT dengan serius. "Lucu bagaimana, Pak RT? Kita sedang mencari pemimpin untuk mengurus kepentingan warga, tidak sedang mencari ketua grup lawak."

Pak RT segera membela pilihannya. Ia bercerita saat debat kemarin Mas Gembul tidak bisa menjawab pertanyaan soal ekonomi desa, namun justru garuk-garuk kepala sambil tersenyum malu. Menurut Pak RT, warga justru merasa kasihan dan menganggap Mas Gembul sosok yang tulus karena terlihat bingung.

Cak Kirun tertawa hingga tersedak mendengar alasan itu. "Hebat sekali, Pak RT. Syarat menjadi pemimpin sekarang harus bisa membuat warga ingin memeluknya, namun tidak membuat warga merasa aman karena kebijakannya."

Cak Kirun mengambil kunci motor dari atas meja dan menunjukkannya kepada Pak RT. Ia meminta Pak RT membayangkan jika ingin pergi ke luar kota menggunakan bus, namun sopirnya menangis dan mengaku tidak tahu cara mengganti gigi kendaraan. Meskipun wajah sopir tersebut sangat lucu, Cak Kirun bertanya apakah Pak RT tetap bersedia naik bus tersebut.

Pak RT terdiam.

"Memimpin desa serupa dengan menyetir bus yang penuh penumpang. Kalau sopir dipilih hanya karena senyumnya yang imut, jangan kaget kalau nanti busnya masuk jurang. Apakah saat berada di dalam jurang kita masih sempat memuji wajah imutnya yang tidak bisa berpikir itu?" tanya Cak Kirun lagi.

Beberapa warga di warung mulai tertawa kecil melihat Pak RT yang mulai ragu dengan pilihannya.

"Politik sekarang seringkali hanya menjual air mata dan joget lucu di media sosial. Rakyat dipaksa memilih seseorang tidak didasari kesanggupan kerja, namun didasari perasaan senang karena sosoknya terlihat bagus saat diajak foto bersama," lanjut Cak Kirun.

Cak Kirun bangkit dari duduknya, menirukan gaya orang yang kebingungan sambil mengedipkan mata berkali-kali. Ia mengingatkan Pak RT agar tidak protes jika nanti jalanan rusak atau pupuk menghilang. Sebab, jika diprotes, pemimpin tersebut mungkin hanya akan memasang muka sedih di media sosial agar warga kembali merasa kasihan dan berhenti menuntut hak mereka.

Cak Kirun melenggang pergi meninggalkan warung kopi. Pak RT hanya bisa termenung dengan tatapan kosong, mulai merasakan ada yang salah dengan keputusannya di bilik suara kemarin.
BACA JUGA