Cerpen Cak Kirun: Penumpang Bumi Tuhan

Trotoar di depan rumah Haji Mat mendadak tertutup tumpukan ban bekas dan tiang kayu. Pejalan kaki yang lewat terpaksa turun ke aspal jalan raya, bertaruh nyawa di antara deru motor dan mobil yang melaju kencang. Haji Mat tampaknya sedang bersiap membuka bengkel tambal ban tepat di atas fasilitas umum tersebut.

Cak Kirun berhenti sejenak, melihat Haji Mat yang sedang sibuk memaku atap seng. Ia bertanya mengenai alasan trotoar itu ditutup untuk kepentingan pribadi. Haji Mat menjawab tanpa menghentikan pekerjaannya. Ia berkata kalau bumi milik Tuhan dan manusia hanya sekadar menumpang. Siapa saja yang mau mengelola lahan terlebih dahulu, maka orang tersebut punya hak untuk memanfaatkannya.

Keesokan paginya, Haji Mat kaget bukan main saat membuka pintu depan. Teras rumahnya yang berlantai marmer sudah penuh dengan jemuran baju basah milik Cak Kirun. Di sudut lain, tumpukan kayu bakar yang masih kotor juga berserakan menutupi keindahan lantai rumahnya. Cak Kirun sendiri tampak santai duduk di kursi teras sambil meniup kopi hangatnya.

"Kenapa jemuran ditaruh di sini, Run? Teras saya jadi kotor dan berantakan semua," tegur Haji Mat dengan nada tinggi.

Cak Kirun menyesap kopinya perlahan. "Bumi milik Tuhan, Ji. Kita semua cuma menumpang. Teras ini posisinya sangat pas untuk menjemur karena sinar mataharinya paling panas. Saya sesama penumpang bumi yang butuh jemuran cepat kering, makanya saya pakai saja lokasi yang lowong ini."

Haji Mat mulai berteriak mengenai sertifikat tanah dan biaya pembangunan terasnya yang mahal. Cak Kirun menanggapi dengan tenang, tanpa ada rasa takut sedikit pun.

"Sertifikat itu kertas buatan manusia, Ji. Kalau trotoar desa bisa sampeyan kuasai pakai dalil Tuhan, berarti teras pribadi sampeyan juga bisa saya duduki pakai alasan yang sama. Sampeyan jangan cuma pakai dalil agama saat mau mengambil hak orang lain, namun mendadak bicara hukum negara saat milik pribadi sampeyan yang terusik."

Beberapa warga mulai berhenti dan menonton perdebatan itu. Cak Kirun kemudian menjelaskan kalau hidup bermasyarakat itu mirip seperti naik bus umum. Meskipun bus milik perusahaan, setiap penumpang tetap punya jatah kursi masing-masing. Jika satu orang mengambil kursi orang lain dengan alasan bus itu milik bersama, maka kenyamanan seluruh penumpang bakal rusak.

Melihat banyak warga mulai berbisik dan menertawakannya, Haji Mat merasa tersudut dan malu. Ia sadar kalau argumennya sendiri justru menjadi senjata yang menyerang rumah pribadinya. Ia akhirnya mengajak Cak Kirun bicara baik-baik. Haji Mat berjanji akan membongkar bengkel bannya sore itu juga asalkan Cak Kirun segera memindahkan semua jemuran dan kayu bakarnya.

Cak Kirun pun langsung membereskan barang-barangnya setelah syarat itu disepakati. Ia pun bergumam dalam hatinya, "Banyak orang memang gemar membawa nama Tuhan untuk urusan kenyamanan sendiri, tapi mendadak lupa pada dalil yang sama saat kenyamanannya terganggu oleh orang lain."
BACA JUGA