Perjalanan Menuju Sepi
Ada saatnya kepala saya terasa begitu penuh, seolah semua memori dan beban menumpuk jadi satu tanpa menyisakan ruang untuk berkeluh. Kalau sudah di titik jenuh itu, saya lebih memilih untuk menepi—ke dalam sepi. Perjalanan membersihkan segala kotoran yang telah menumpuk di hati dan pikiran ini. Kembali ke alam, tempat di mana karunia Tuhan memberikan kedamaian.
Di sana, saya benar-benar melepaskan segalanya, termasuk interaksi dengan dunia maya yang teramat fana. Kesengajaan meninggalkan hal yang benar-benar melekat dengan saya bukan tanpa sebab. Alasannya tentu berkaitan dengan kontrol emosi. Semakin lama memori dan beban negatif menumpuk, maka emosi yang menghancurkan akan mudah datang. Dulu, saya pernah merasakan emosi itu, kini saya tidak ingin ada celah untuk ia muncul kembali.
Perjalanan untuk menepi itupun seolah meninggalkan semua memori dan beban negatif di belakang, membiarkannya tertinggal bersamaan dengan langkah kaki yang semakin menjauh dari pandang.
Di momen-momen sepi seperti itulah saya belajar untuk tetap bersyukur dengan segala keadaan yang sudah saya lewati. Menjelajah sendirian bukan berarti saya sedang merasa kesepian, tapi saya butuh ruang untuk bicara jujur dengan Tuhan dan berterima kasih karena masih diberi kekuatan untuk tetap bertahan.
Dan perjalanan ini, membawa saya kembali kepada diri—diri yang sempat kehilangan jati.
BACA JUGA
Post a Comment