Cerpen Cak Kirun: Undang-Undang Perasaan

Suasana di Balai Desa terasa sangat formal dan kaku. Pak Mantri, pejabat yang hobi membetulkan kerah baju, baru saja mengumumkan peraturan desa terbaru. Di papan pengumuman tertulis sebuah aturan mengenai larangan melakukan tindakan atau ucapan yang menimbulkan rasa tidak enak di hati orang lain.

Warga saling pandang dengan bingung. Seorang warga memberanikan diri bertanya mengenai ukuran pasti dari rasa tidak enak hati tersebut. Pak Mantri menjawab dengan tegas kalau ukurannya bergantung pada perasaan yang bersangkutan.

"Pokoknya, jika kami merasa tidak nyaman dengan ucapanmu, tandanya kamu sudah melanggar undang-undang," tegas Pak Mantri sambil menepuk meja kayu di depannya.

Cak Kirun yang sedang duduk santai sambil mengunyah permen karet tiba-tiba berdiri. Ia berjalan ke depan, menarik permen karet dari mulutnya, lalu menempelkannya di pinggiran meja rapat agar semua orang bisa melihat.

"Aturan baru tersebut persis permen karet saya, Pak Mantri. Bisa ditarik panjang kalau mau menjerat orang yang tidak dikenal, namun bisa juga diciutkan jika mau melindungi teman sendiri," kata Cak Kirun sambil tersenyum lebar.

Pak Mantri langsung berdiri dengan muka merah padam. "Kirun! Jaga bicaramu! Maksudmu apa membandingkan wibawa pemerintah dengan sampah permen karet?"

Cak Kirun tidak panik dan justru manggut-manggut. "Gawat kalau begitu, Pak. Berarti besok-besok kalau saya lewat di depan rumah Bapak sambil memakai baju yang lebih bagus, saya bisa ditangkap. Hati Bapak pasti merasa tidak nyaman melihat saya tampil lebih tampan."

"Itu beda urusan, Run! Ini soal etika dan wibawa kepemimpinan!" sergah Pak Mantri mencoba membela diri di hadapan warga yang mulai tertawa.

"Nah itu masalahnya, Pak," lanjut Cak Kirun dengan tenang. "Kalau hukum menggunakan perasaan sebagai ukuran, penjara bakal penuh dengan orang jujur. Contohnya, jika tukang sayur melapor kalau harga cabai naik, Bapak bisa saja merasa tidak nyaman karena dianggap tidak becus menjaga harga pasar. Tukang sayur itu bisa langsung dihukum tanpa alasan yang jelas."

Pak Mantri terdiam, mencoba mencari celah untuk membantah namun gagal. Ia hanya bisa berdeham keras sambil mengatur kerah bajunya yang sudah rapi.

Cak Kirun mengambil kembali permen karetnya dan membentuknya menjadi lingkaran kecil. "Hukum seharusnya menyerupai tembok beton yang batasnya jelas dan bentuknya tegas. Kalau hukumnya lentur kayak karet, rakyat tidak lagi takut pada aturan, melainkan takut pada suasana hati Bapak yang tidak karuan."

Pak Mantri hanya bisa berdiri terpaku, merasa sangat tidak nyaman karena semua argumen Cak Kirun terasa terlalu benar untuk dianggap salah. Ia tampak bingung harus menggunakan pasal mana untuk menangkap Cak Kirun, sementara warga satu per satu mulai keluar meninggalkan balai desa mengikuti langkah kaki Cak Kirun.
BACA JUGA