Cerpen Cak Kirun: Gara-Gara Panci Bocor
Suasana di Balai Desa sedang berlangsung rapat koordinasi bertajuk Keamanan dan Kenyamanan. Pak Mantri, seorang pejabat yang penampilannya selalu rapi tapi panikan, berdiri di depan sambil memegang tongkat komando kecil yang cukup panjang.
"Tolong diingat! Sekarang kita harus waspada terhadap pihak yang ingin menggoyang stabilitas desa. Siapa saja yang bicaranya miring mengenai kebijakan bakal kami anggap sebagai pelaku makar!" seru Pak Mantri dengan suara lantang.
Cak Kirun yang sedang sibuk memperbaiki sandalnya yang putus di kursi belakang langsung mengangkat tangan. "Ngapunten, Pak Mantri. Laporan sekarang gawat, gawat sekali!"
Pak Mantri segera waspada dan menatap Cak Kirun dengan tajam. "Apa laporannya, Run? Kamu tahu soal jaringan rahasia?"
"Tidak, Pak," jawab Cak Kirun sambil berjalan maju ke depan. "Saya mau lapor kalau panci di dapur saya bocor. Airnya menetes terus sampai lantai jadi becek."
Pak Mantri melotot tidak percaya. "Kirun! Kamu bercanda? Rapat sekarang penting sekali, kenapa malah lapor soal panci bocor?"
Cak Kirun tetap tenang, wajahnya dibuat seolah sedang menghadapi masalah besar. "Lho, Pak Mantri sendiri yang bilang tadi. Siapa yang bicara miring soal kekurangan di desa dianggap makar. Panci saya bocor karena saya pakai memasak air dari sumur desa yang isinya kerikil semua akibat filternya rusak. Kalau saya lapor filter sumur rusak, Bapak tuduh saya makar. Makanya saya lapor panci saya saja yang bocor, siapa tahu Bapak mau ganti."
Warga mulai menahan tawa, namun Pak Mantri justru semakin tegang. "Masalah itu urusan teknis! Namun kalau kamu bicara kekurangan desa di depan orang banyak, tandanya kamu menghasut rakyat agar tidak percaya pada pemerintah. Itu bibit makar!"
Cak Kirun tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah memenuhi ruangan. "Oalah, Pak... Pak... Jadi bedanya kritik dengan makar hanya terletak pada kuping Bapak saja?"
Cak Kirun menunjuk ke arah jalan raya yang terlihat dari jendela. "Tadinya saya mau lapor kalau lubang jalan di depan pasar sudah sedalam kuburan. Namun saya urungkan karena takut dianggap makar lagi. Padahal kalau saya kasih tahu jalan itu rusak, tujuannya supaya Bapak tidak jatuh saat lewat situ. Masa mengingatkan keselamatan pemimpin dianggap mau menggulingkan jabatan?"
Pak Mantri terdiam, tangannya yang memegang tongkat mulai sedikit gemetar.
"Kritik itu tandanya kami sayang pada Bapak," lanjut Cak Kirun dengan nada lebih serius. "Tempat kritik ada di kenyataan, Pak. Kalau jalannya berlubang, ya itu yang harus dibicarakan. Kalau airnya keruh, ya itu yang harus diperbaiki. Jangan setiap kali kami teriak kesakitan, Bapak malah lapor ke polisi karena mengira kami sedang latihan buat demo besar-besaran."
Cak Kirun kembali ke tempat duduknya. "Saran saya, telinga Bapak jangan terlalu tipis. Kalau setiap suara warga dianggap makar, lama-lama Bapak bakal kesepian karena dikelilingi orang yang cuma bisa bilang setuju padahal aslinya merusak."
Rapat akhirnya berakhir tanpa ada yang berani menyebut kata makar lagi. Pak Mantri pulang dengan pikiran yang berkecamuk, merasa semua ucapan Cak Kirun terlalu benar untuk dianggap sebagai kesalahan.
BACA JUGA
Post a Comment