Cerpen Cak Kirun: Pasrah Saat Dibegal

Suatu malam yang sepi, Cak Kirun sedang berjalan pulang sambil memanggul cangkul di bahunya. Tiba-tiba, dari balik semak-semak muncul seorang pemuda kekar yang membawa celurit mengkilap di bawah sinar bulan.

"Serahkan uangmu atau nyawamu melayang!" teriak si begal dengan suara parau.

Cak Kirun refleks menghindar saat celurit tersebut menyambar lehernya. Dengan satu gerakan gesit dan tendangan maut, si begal terpelanting hingga kepalanya membentur batu kali dan langsung tewas di tempat.

Keesokan harinya, Cak Kirun justru duduk dengan tangan terborgol di kantor polisi. Pak Komandan yang sedang mengelus kumisnya menatap Cak Kirun dengan serius.

"Kamu terancam pasal pembunuhan, Run. Bukannya lari, kamu justru membuat nyawa orang melayang," kata Pak Komandan memulai interogasi.

Cak Kirun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Lho, Pak Komandan. Saya manusia, bukan kelinci. Kalau saya lari, si begal pasti mengejar. Jarak kantor polisi masih lima kilometer dari lokasi. Apa saya harus minta si begal menunggu sebentar sampai saya lari ke sini?"

Pak Komandan menggebrak meja pelan. "Aturan tetap aturan! Pembelaan diri harus seimbang. Kalau lawan pakai celurit, jangan lantas kamu hantam sampai tewas. Harusnya kamu tangkis saja pakai tangan kosong agar tidak melampaui batas!"

Cak Kirun tertawa kecil mendengar penjelasan itu. "Oalah, Pak... Pak... Jadi besok-besok kalau saya dibegal, saya harus tanya dulu: 'Mas Begal, celuritnya tajam tidak? Kalau tajam, saya boleh menangkis pakai apa supaya Mas tidak mati?' Begitu, Pak?"

"Jangan bercanda! Masalahnya kamu memiliki keahlian silat," sergah Pak Komandan ketus. "Seorang ahli bela diri seharusnya sanggup melumpuhkan tanpa perlu menghilangkan nyawa lawan."

Cak Kirun menatap borgol di tangannya. "Berarti saya salah karena bisa silat ya, Pak? Coba kalau saya tidak bisa silat, lalu saya yang mati dibacok begal, urusannya pasti lebih gampang buat Bapak, kan?"

Pak Komandan menyahut tanpa sadar. "Tentu saja. Kalau kamu yang mati, kami tinggal cari pelakunya, buatkan laporan, lalu kasusnya ditutup tanpa perlu ada perdebatan panjang."

Cak Kirun menepuk meja dengan tangannya yang terborgol. "Nah! Itulah kenyataannya. Di negeri kita, jadi korban yang baik itu syaratnya cuma satu: Mati. Kalau korban hidup dan malah menang, kejadian tersebut merusak estetika hukum. Bapak lebih suka melihat rakyat jadi mayat yang tenang, daripada melihat rakyat hidup tapi bikin Bapak repot bolak-balik ke persidangan."

Warga yang ikut mengantar mulai berbisik setuju di depan ruang interogasi. Cak Kirun melanjutkan sarannya agar polisi memasang spanduk besar di pinggir jalan yang menyarankan warga untuk pasrah saat dibegal. Menurutnya, hal tersebut lebih baik agar prosedur kepolisian bisa berjalan lancar tanpa hambatan birokrasi.

Pak Komandan hanya bisa terdiam dengan wajah memerah karena logikanya sedang dikuliti habis-habisan. Akhirnya, karena tekanan warga yang menertawakan aturan tersebut, Cak Kirun dibebaskan dengan catatan khusus. Cak Kirun pulang sambil geleng-geleng kepala melihat realitas yang terbalik, di mana pahlawan dianggap penjahat hanya karena menolak menjadi mayat.
BACA JUGA