Cerpen Cak Kirun: Kursus Bertanya
Halaman balai desa mendadak dipenuhi mobil mewah saat peresmian gedung Pusat Pengembangan Konten Viral. Gedung itu berdiri mentereng di atas lahan yang sebelumnya merupakan perpustakaan desa. Perpustakaan yang atapnya sudah lama roboh itu akhirnya diratakan demi menyediakan lahan parkir yang luas bagi para tamu undangan.
Pak Kepala Dinas Pendidikan berdiri di podium dengan percaya diri. Ia memamerkan fasilitas internet gratis yang sanggup membuka aplikasi hiburan tanpa hambatan. Pak Kadis mengumumkan kalau revolusi pendidikan telah dimulai dengan meninggalkan buku-buku tebal yang dianggap sudah ketinggalan zaman. Menurutnya, anak muda sekarang lebih membutuhkan kebahagiaan melalui konten daripada pusing memikirkan urusan negara.
Cak Kirun memperhatikan keriuhan itu dari bawah pohon sawo sambil mengunyah kacang rebus. Ia mendekati Pak Kadis yang baru saja turun dari panggung dan sedang sibuk merapikan jasnya. "Oalah Pak, jadi tujuan pembangunan ini agar warga menjadi anteng, tidak bertujuan agar warga menjadi pintar?" tanya Cak Kirun pelan namun tajam.
Pak Kadis tertawa bangga sambil menepuk bahu Cak Kirun. Ia menjelaskan bahwa rakyat yang terlalu pintar justru seringkali menyulitkan rencana pemerintah dengan banyak protes. Pak Kadis lebih menyukai warga yang sibuk membuat konten karena aktivitas tersebut bisa membuat mereka terkenal dengan cepat.
Waktu berlalu dan anak-anak muda desa mulai mahir meniru gaya hidup artis kota. Mereka asyik merekam video di pinggir jalan, namun tidak ada satu pun yang sadar kalau truk-truk besar mulai mengangkut kayu dari hutan di belakang desa mereka untuk kepentingan tambang. Kesibukan di layar ponsel membuat mereka buta terhadap kerusakan yang terjadi di depan mata.
Melihat kondisi itu, Cak Kirun mendirikan tenda kecil di sisa reruntuhan perpustakaan. Ia memasang papan kayu bertuliskan Kursus Bertanya. Suatu siang, Pak Kadis melintas dan berhenti saat melihat Cak Kirun sedang mengajari anak-anak cara membaca peta kertas.
"Kegiatan ini ilegal, Run! Kamu mengajar tanpa sertifikat dan materinya tidak ada dalam kurikulum digital kita," protes Pak Kadis dengan dahi berkerut.
Cak Kirun menunjuk ke arah sekumpulan pemuda yang sedang asyik menonton video di ponsel mereka. "Saya sekadar mengajar mereka cara membedakan mana kenyataan dan mana bualan. Kemarin ada anak yang sakit perut karena mencoba makan pasir. Video yang dia tonton menyebut pasir itu camilan organik terbaru. Kalau Bapak melarang saya mengajar cara berpikir, berarti Bapak memang ingin mereka terus celaka akibat tren."
Pak Kadis berdalih kalau kejadian itu cuma kesalahan kecil. Ia secara tidak sengaja mengakui bahwa targetnya memang menjaga agar rakyat tidak bersikap kritis terhadap kebijakan.
Cak Kirun mengangkat sebuah buku usang yang sampulnya sudah sobek. "Sekolah di kota mencetak bos, sedangkan internet gratis di sini mencetak generasi yang tidak bisa membedakan hoaks. Buku ini mengajarkan orang cara membuat api agar bisa mandiri dalam gelap. Sebaliknya, kuota internet murah pemberian Bapak sekadar mengajar orang cara menonton kembang api. Kembang apinya memang indah, Pak, namun setelah cahayanya hilang, suasana kembali gelap gulita."
Pak Kadis terdiam mendengar perumpamaan itu. Cak Kirun menambahkan bahwa jika rakyat dibiarkan bodoh, suatu saat para pemimpin juga akan diatur oleh orang-orang yang lebih bodoh hanya karena mereka memiliki lebih banyak pengikut di media sosialnya.
Pak Kadis segera melangkah pergi menuju mobilnya tanpa menoleh lagi. Cak Kirun kembali mengajak anak-anak menatap peta di tangan mereka. Meskipun memperbaiki cara berpikir yang terbiasa disuapi sampah digital butuh waktu lama, setidaknya beberapa warga mulai berhenti sejenak dan mempertanyakan alasan perpustakaan mereka kini berubah menjadi sekadar lahan parkir.
BACA JUGA
Post a Comment