Cerpen Cak Kirun: Profesor Telur Asin

Seluruh warga desa sedang membicarakan Juragan Jupri. Tengkulak gabah yang biasanya hanya sibuk menimbang padi itu mendadak pulang dari kota dengan gelar mentereng: Dr. (HC) Jupri. Ia mengaku baru saja dianugerahi gelar Doktor Kehormatan oleh sebuah lembaga karena jasanya sebagai pahlawan ekonomi tani, meskipun warga tahu kalau timbangannya sering kali miring demi keuntungan pribadi.

Malam itu, Juragan Jupri mengadakan acara syukuran mewah. Spanduk besar terbentang di depan rumahnya, memajang foto dirinya memakai toga lengkap dengan medali yang berkilauan. Jupri duduk di kursi tinggi, terlihat sangat bangga saat menyalami tamu yang datang dengan sebutan baru tersebut.

Cak Kirun datang membawa sebuah keranjang berisi telur asin dan sebuah spidol permanen. Ia langsung melangkah ke meja utama, tempat Jupri sedang memamerkan ijazah berbingkai emas kepada beberapa warga.

"Selamat ya, Pak Doktor! Wah, sekarang martabatnya sudah tinggi sekali," sapa Cak Kirun sambil meletakkan keranjang telurnya di atas meja.

Jupri membusungkan dada sambil merapikan kerah bajunya. "Dunia sudah berubah, Run. Sekarang orang melihat kita dari gelarnya. Kalau cuma jadi tengkulak biasa, orang tidak akan segan. Namun kalau sudah jadi Doktor, semua pejabat kota langsung menghargai saya."

Cak Kirun mengambil sebutir telur asin, lalu menuliskan kata "Profesor" dengan huruf besar di kulit telur menggunakan spidol. Jupri memperhatikan aksi tersebut dengan dahi berkerut.

"Ngapain telur itu kamu tulis gelar Profesor, Run? Kamu mengejek saya?" tanya Jupri dengan nada tidak senang.

"Telur ini sudah mengabdi selama dua minggu di dalam kendi, Dok. Karena proses pengasinannya berhasil tanpa cacat, saya rasa ia layak mendapatkan gelar Profesor Kehormatan dari dapur saya," jawab Cak Kirun santai.

Jupri mendengus kesal dan menunjuk ijazahnya yang mentereng. "Gelar saya didapat dari lembaga resmi! Saya memberikan sumbangan besar untuk yayasan mereka, maka mereka menghargai pengabdian saya. Hal tersebut murni urusan relasi bisnis, tidak bisa disamakan dengan coretan spidol di atas telurmu itu!"

Cak Kirun tertawa kecil sambil mengamati ijazah Jupri. "Oalah, jadi gelarnya didapat karena sumbangan uang, bukan didasari oleh sumbangan ilmu? Berarti gelar itu sekadar barang belanjaan. Siapa saja yang sanggup membayar mahal, boleh menempelkan sebutan apa saja di badannya. Namun masalahnya, tulisan Profesor di kulit telur ini tidak akan mengubah isinya. Ia tetap saja telur asin yang kalau dibuka isinya kuning berminyak."

Warga yang mendengarkan mulai berbisik-bisik dan menahan tawa. Jupri semakin meradang karena merasa rahasia jual beli gelarnya dikuliti di depan umum. Ia mencoba membela diri dengan mengatakan bahwa status sosial merupakan sesuatu yang perlu diperjuangkan dengan modal uang.

"Sampeyan sibuk mengejar sebutan Doktor, namun cara sampeyan menekan harga gabah petani tetap saja tidak berubah," lanjut Cak Kirun dengan nada lebih serius. "Gelar tersebut hanya topeng kertas yang akan luntur saat warga melihat kenyataan kalau timbangan sampeyan masih saja tidak jujur. Orang menghormati ilmu, Pak Jupri, bukan menghormati kertas yang dibeli hasil memeras petani."

Jupri berdiri dengan napas memburu, merasa harga dirinya sudah runtuh. Ia segera memerintahkan anak buahnya untuk membubarkan acara syukuran tersebut dengan alasan dirinya sedang tidak enak badan. Jupri masuk ke dalam rumah dengan buru-buru, meninggalkan ijazah mewahnya yang masih tergeletak di meja.

Cak Kirun membagikan telur-telur bergelar profesor itu kepada tamu yang hendak pulang. Ia menyarankan agar warga menikmati isinya daripada sekadar melihat tulisannya. Cak Kirun menyadari kalau banyak orang lebih memilih terlihat pintar di atas kertas, meski tidak benar-benar bermanfaat di dalam kehidupan nyata. Ia pun melenggang pergi meninggalkan rumah Jupri yang mulai sepi.
BACA JUGA