Cerpen Cak Kirun: Pagar Makan Tanaman
Balai desa mendadak ramai luar biasa. Warga sudah mengepung Pak Surya, seorang guru ngaji yang selama ini dianggap sangat suci. Ia baru saja dilaporkan karena melakukan tindakan tidak senonoh kepada beberapa muridnya. Di depan Pak RT dan para tokoh, Pak Surya mencoba tetap tenang sambil memasang wajah sok bijak.
"Coba dengerin dulu penjelasan saya. Saya melakukan itu karena mau kasih edukasi dini. Saya mau mereka paham soal kedewasaan supaya nggak gampang dibohongi orang luar nanti," kata Pak Surya membela diri.
Warga mulai saling lirik, ada yang bingung dengan istilah "edukasi dini" yang diucapkan Pak Surya. Cak Kirun yang sejak tadi berdiri di barisan depan akhirnya angkat bicara sambil melipat tangannya di dada.
"Oalah, niatnya mulia sekali ya, Pak? Sampai harus kasih 'pelajaran' di jam malam dan di dalam kamar yang terkunci?" tanya Cak Kirun dengan nada santai.
Pak Surya mendongak, mencoba tetap terlihat berwibawa. "Kamu nggak akan paham, Run. Itu urusan batin. Saya cuma mau mereka punya mental yang kuat. Dunia luar itu keras, mereka harus tahu semuanya dari orang yang bisa dipercaya."
Cak Kirun manggut-manggut sebentar, lalu berjalan mendekat. "Saya punya cerita, Pak. Ada orang nawarin jasa jaga rumah. Tiap malam dia masuk ke dalam kamar pemiliknya, terus dia obrak-abrik semua isi lemarinya. Pas pemiliknya nanya, si penjaga bilang kalau dia lagi ngecek apa ada maling yang sembunyi di dalem situ. Menurut Bapak, orang itu beneran lagi jaga rumah atau emang lagi ngerampok?"
"Ya jelas itu namanya ngerampok! Nggak ada urusannya ngecek maling sampai harus obrak-abrik lemari orang!" sergah Pak Surya dengan cepat.
Cak Kirun tertawa kecut menatap Pak Surya. "Nah! Sampeyan sendiri yang bilang. Kalau lemari diobrak-abrik saja disebut ngerampok, terus kenapa kalau mental anak-anak yang Bapak obrak-abrik Bapak sebut ngajar? Bapak bilang itu perhatian, padahal itu cuma cara Bapak buat muasin nafsu sendiri, kan? Bapak pura-pura jadi pagar buat melindungi mereka, tapi malah Bapak sendiri yang makan tanaman di dalamnya."
Wajah Pak Surya mendadak pucat pasi. Ia mencoba bicara lagi, namun suaranya sudah gemetar ketakutan. "Tapi mereka diam saja, mereka senang saya kasih perhatian!"
"Mereka diam karena mereka percaya sama Bapak! Mereka anggap Bapak itu guru, Bapak itu pengganti orang tua. Tapi Bapak malah manfaatin kepolosan mereka buat hal yang menjijikkan begini. Bapak itu bukan guru, Bapak itu cuma serigala yang pinter pilih baju biar nggak kelihatan buasnya," tegas Cak Kirun.
Cak Kirun menoleh ke arah Pak RT dan polisi yang baru saja datang. Ia meminta supaya Pak Surya segera dibawa pergi karena orang yang sudah merusak jiwa anak-anak tidak pantas diberikan ruang untuk berdiskusi lagi. Warga yang tadi sempat ragu kini mulai berdiri dan berteriak marah saat menyadari betapa busuknya alasan yang dipakai Pak Surya selama ini.
Pak Surya akhirnya dibawa masuk ke dalam mobil polisi dengan kepala tertunduk. Cak Kirun hanya menatap dari jauh, ia menyadari kalau kejahatan yang paling ngeri itu sering kali bersembunyi di balik kata-kata "demi kebaikan" dan wajah yang terlihat sangat suci.
BACA JUGA
Post a Comment